RABU, 25 MEI 2016
SOLO —- Penolakan terhadap sistem satu arah (SSA) yang dilakukan warga Solo, Jawa Tengah, terus bergulir. Kali ini, Selasa malam (24/5), warga sampai melakukan blokir jalan hingga menyebabkan jalur pernghubung Wonogiri – Semarang, Jawa Tengah lumpuh total selama satu jam.

Aksi blokir jalan ratusan warga Laweyan, Solo, merupakan buntut penolakan warga terhadap kebijakan Pemerintah Kota Solo, yang selama dua bulan terakhir menerapkan system satu arah di tiga ruas jalan. Tiga ruas jalan itu adalah jalan Dr. Radjiman, Agus Salim dan Perintis Kemerdekaan, yang ketiganya berada di wilayah Laweyan.
Warga sebelumnya protes kepada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) dengan cara diskusi, namun tidak adanya tindak lanjut, warga semakin geram. Aksi blokir jalan pun terjadi, dan warga melakukan sholat hajat dua rekaat di tengah jalan, sebagai aksi keprihatinan terhadap kebijakan yang dinilai merugikan rakyat tersebut.
“Penerapan satru arah ini benar-benar mematikan perekonomian warga di Laweyan. Tidak hanya kalangan pengusaha batik Laweyan, namun ekomoni kelas bawah seperti toko kelontong, wedangan, dan sederet pusat ekonomi juga lumpuh,” ujar Didik Suhartono, salah satu peserta aksi kepada Cendana News.
Menurut Didik, lumpuhnya perekonomian di wilayah Laweyan ini dikarenakan pelanggan untuk sekedar berhenti akan berfikir ulang. Sebab, selain jalur harus memutar karena satu arah, arus kendaraan padat dan kecepatan tinggi membuat pelanggan banyak yang takut. “Apalagi untuk sekedar wedangan di pinggir jalan, warga takut karena bus-bus kecepatan tinggi tidak terkendali,” tambahnya.
Hal serupa dikatakan Al Amin, tokoh masyarakat Laweyan itu juga menilai dampat yang dittimbulkan satu arah itu sangat dikeluhkan warga. Tidak hanya kalangan pembisnis batik dan pertokoan, tetapi pondok pesantren, sekolah, serta masyarakat awam juga terkenda dampaknya.
“Dampaknya sangat dirasakan warga, bagaimana tidak. Setelah diberlakukan satu arah, tumpuan arus satu-satunya melewati jalan Samanhudi. Sementara jalan itu di tengah perkampungan, banyak sekolahan, banyak pondok pesantren. Keselamatan anak-anak jadi semakin terancam karena padatnya arus lalulintas,” tambah pria yang menjadi wakil rakyat dari Dapil Laweyan tersebut.
Warga Laweyan berharap Pemkot Solo kembali mengkaji dan membatalkan perberlakuan satu arah tersebut karena sangat meresahkan masyarakat. Aksi blokir jalan yang dimulai pukul 20.00-21.00 WIB, membuat arus kendaraan dari arah Wonogiri, terpaksa dialihkan ke Jalan Wahidin dan Jalan Slamet Riyadi. (Harun Alrosid).