RABU, 4 MEI 2016
LAMPUNG — Satuan Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) milik PT Aneka Kimia Raya (AKR) terkadang tidak mampu melayani kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) nelayan pesisir timur Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Nelayan terpaksa membeli BBM solar di Satuan Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Yogaloka, SPBU Garuda Hitam dan SPBU Menara Siger.

Salah seorang nelayan Bagan Congkel di Dusun Muara Piluk, Desa Bakauheni, Sukandi, mengungkapkan, selama ini kebutuhan bahan bakar jenis solar dipenuhi SPBN milik AKR. Namun bila kebutuhan BBM jenis solar meningkat, maka nelayan terpaksa membeli di SPBU.
“Selama ini kami membeli kebutuhan bahan bakar solar masih bisa dipenuhi SPBN, namun kadangkala stok habis, sehingga terpaksa kami membeli di SPBU di luar dermaga,” ungkap Sukandi kepada Cendana News, saat ditemui di kapal miliknya di dermaga Muara Piluk,Rabu (4/5/2016).
Ia mengungkapkan dalam sekali melaut, rata-rata bisa menghabiskan bahan bakar solar sebanyak 500 liter. Bahkan terkadang lebih, jika pencarian ikan sampai ke perairan Lampung Timur di Kuala Penet.

Salah seorang tokoh nelayan di Muara Piluk, Sadide,mengaku SPBN AKR menyediakan sebanyak 9 ton bahan bakar jenis solar yang diperuntukkan sekitar 300 nelayan yang bersandar dan terdaftar di TPI Muara Piluk. Kapal kapal yang bersandar di wilayah tersebut diantaranya jenis kapal bagan congkel, kapal cumi.
“Kadang ketersediaan bahan bakar jenis solar pada saat musim tertentu terutama musim tangkapan banyak, kebutuhan akan solar juga meningkat hingga harus membeli di SPBU yang berada di jalan Lintas Timur,” ungkapnya.
SPBU yang menjadi pilihan bagi nelayan TPI Muara Piluk membeli bahan bakar, diantaranya SPBU Yogaloka, SPBU Garuda Hitam, SPBU Menara Siger. SPBU tersebut masih melayani penjualan solar menggunakan jerigen, dengan harga Rp 4.500,-
Mengenai hasil tangkapan nelayan, Sadide mengakui saat ini dalam kondisi cuaca yang kurang bagus. Akibatnya hasil tangkapan cumi menurun 4 kuintal hingga 5 kuintal. Padahal bila kondisi cuaca baik, nelayan bisa memperoleh cumi sekitar 8 hingga 9 kuintal per sekali berlayar.
Menurunnya hasil tangkapan ikan nelayan di TPI Muara Piluk Bakauheni diakui oleh kepala desa Bakauheni,Syahroni. Ia mengakui kondisi cuaca di perairan Selat Sunda saat ini mengakibatkan hasil tangkapan nelayan mengalami penurunan. Kelompok nelayan setempat bahkan berencana melakukan tradisi ruwat laut yang akan dilakukan oleh ratusan nelayan dua pekan ke depan.
“Kita sudah mendapat informasi terkait menurunnya hasil tangkapan. Nelayan berniat memohon agar diberi tangkapan yang banyak dengan melakukan ruwat aut,” ungkapnya.
Ruwat laut yang merupakan tradisi nelayan pada saat bulan Purnama, dilakukan untuk memohon hasil tangkapan yang bagus, selama melaut dan bersyukur atas hasil tangkapan sebelumnya.
Sementara itu, terkait ketersediaan bahan bakar khusus nelayan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Lampung Selatan telah berupaya membangun SPBN baru di TPI Boom Kalianda. SPBN ini ditargetkan awal bulan Mei sudah bisa dioperasikan. Namun berdasarkan pantauan, hingga saat ini SPBU yang dibangun oleh Pertamina belum beroperasi.
Belum beroperasinya SPBN tersebut, informasi yang diperoleh karena masih menunggu hasil kajian dan penelitian pihak Pertamina. Selain itu juga, sambung dia, pembangunan SPBN tersebut masih dalam tahap pemeliharan oleh pihak rekanan. (Henk Widi)