Satu dari Tiga Anak NTB Dibawah Umur Lima Tahun Mengalami “Stunting”

RABU, 11 MEI 2016

MATARAM—Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dirilis Badan Ketahanan Pangan (BKP) kerjasama dengan Dinas Kesehatan dan World Food Programme (WFP), satu dari tiga anak di Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan umur dibawah lima tahun mengalami Stunting (tinggi badan pendek menurut umur).


“Hasil surve di lapangan bersama BKP dan WFP, satu dari tiga anak NTB mengalami stunting, dimana prevalensi balita pendek di NTB adalah sebesar 36,43 persen” kata Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan NTB, Lalu Budarja di Mataram, Rabu (11/5/2016)
Menurut Budarja, terjadinya stunting pada anak tersebut disebabkan karena faktor malnutrisi kronis, karena kurangnya asupan makanan bernutrisi dan bergizi.
Akses air bersih dan sanitasi yang rendah berkontribusi terhadap kekurangan gizi kronis. Di NTB sendiri sampai sekarang, hanya 30 persen rumah tangga yang. Memiliki akses air bersih dan layak minum, serta hanya 41 persen yang memiliki akses fasilitas sanitasi memadai.
“Masalah Stunting pada anak sendiri, pada tingkat Kecamatan, terdapat empat Kecamatan yang termasuk dalam klasifikasi baik, 16 Kecamatan dalam klasifikasi kurang, 46 Kecamatan dalam klasifiakasi buruk dan 49 Kecamatan dalam klasifikasi sangat buruk”
Ditambahkan, Stunting pada anak, tidak saja terjadi di NTB,  tapi juga menjadi salah satu permasalahan utama di Indonesia, yaitu bagaimana mengatasi tingginya kurang gizi kronis
Lihat juga...