SABTU, 7 MEI 2016
YOGYAKARTA — Libur panjang di akhir pekan kali ini, tak hanya obyek wisata saja yang dibanjiri pengunjung. Namun, juga beberapa warung makan dengan menu khas dan unik tak luput diserbu wisatawan. Seperti halnya warung sate kambing klatak dan tengkleng yang ada di Jalan Imogiri Timur, Bantul, yang ramai dikunjungi.

Warung Sate Klatak dan Tengkleng Pak Pong, begitu sebutan warung sate kambing paling terkenal di jalur alternatif menuju obyek wisata Pantai Selatan Yogyakarta, Parangtritis, Depok dan Parangkusumo. Warung sate kambing yang sudah berdiri selama tiga generasi itu, sudah sangat populer di kalangan para pecinta daging kambing. Menu dan warungnya yang dinamai sate klatak dan tengkleng, pun sekiranya sudah membikin orang penasaran. Apa itu klatak dan tengkleng?
Salah seorang karyawan warung sate klatak Pak Pong, Ahmad Jihad, ditemui Sabtu (7/5/2016), mengatakan, klatak itu merupakan istilah dari bahasa setempat untuk menirukan bunyi letupan garam yang terbakar. Pada zaman dulu, kata Jihad, bumbu sate kambing itu hanya garam saja. Sehingga, ketika dibakar menimbulkan suara klatak-klatak. Maka, sejak itu warung sate tersebut terkenal dengan sebutan warung sate klatak.

Namun, tentu saja saat ini bumbu sate kambing yang digunakan tak hanya garam. Melainkan juga rempah-rempah lain seperti bawang, kemiri, kecap dan sebagainya. Sementara itu, tengkleng, adalah bahasa setempat untuk menirukan bunyi tulang-tulang kambing ketika beradu dengan baskom atau panci. Tulang kambing dengan sedikit daging yang masih melekat, menjadi menu unik yang disebut tengkleng. Pastinya, menikmati daging yang masih ada tulangnya itu menjadi sensasi dan kepuasan tersendiri.
Selain keunikan nama menunya, warung sate klatak dan tengkleng itu juga masih memiliki keunikan lain, yaitu nama Pak Pong. Nama ini adalah nama panggilan kepada Dzakiron yang tak lain adalah pemilik warung sate klatak tersebut. “Pong itu dari kata Njampong yang artinya tidur. Julukan itu diberikan oleh orang tuanya, karena sewaktu kecil, Pak Dzakiron itu kerjanya cuma tidur,” kata Jihad.

Warung Sate Klatak dan Tengkleng Pak Pong, menjadi ramai pembeli tentu bukan karena keunikan namanya saja. Melainkan, karena rasa sate, tongseng dan gulai serta tengkleng dan juga menu nasi goreng kambingnya yang diakui oleh para pelanggan sangat berbeda dengan masakan sejenis yang ada di tempat lain.
Pasalnya, menu sate klatak Pak Pong disajikan dengan kuah santan gurih yang kental. Sementara potongan dagingnya relatif besar, namun empuk dan kuat rasa daging kambingnya. Tak heran, jika setiap hari warung sate klatak tak pernah sepi pembeli.
Sebanyak 10 ekor kambing pun bisa ludes setiap harinya. Dan, di masa libur panjang ini, warung sate klatak Pak Pong mengalami lonjakan omset, sehingga sejak dua hari lalu Pak Pong harus menyembelih sebanyak 20 ekor kambing yang didatangkan dari daerah sekitar dan Magelang, Jawa Tengah.

Sementara itu, terkait empuknya sate kambing klatak yang menjadi salah satu kelebihannya, menurut Jihad, tak ada cara khusus. Hal utama yang membuat sate kambingnya empuk itu karena berasal dari kambing muda usia 7-9 bulan. Lalu, tungku pembakarannya terbuat dari besi, sehingga panasnya lebih stabil dibanding jika menggunakan tungku dari tanah liat. Juga tusuk satenya menggunakan besi bekas jeruji sepeda, sehingga proses pembakaran sate kambingnya bisa lebih cepat dan matang sempurna di bagian dalam dan luarnya.
Untuk bisa menikmati sate klatak dan tengkleng Pak Pong, para pembeli pun tak harus merogoh kocek terlampau dalam. Hanya dengan Rp. 25-30.000, pembeli sudah bisa menikmati sate klatak yang telah ada sejak puluhan tahun lalu itu. Juga tak perlu khawatir menunggu antrian terlalu lama, karena ada sebanyak 30 karyawan yang siap melayani pembeli setiap saat. (Koko Triarko)