KAMIS, 26 MEI 2016
SOLO — Sebanyak 200 penyandang cacat atau difabel di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, mengikuti pelatihan wirausaha, yang digelar di Aula Rumah Dinas Wakil Bupati Karanganyar, Kamis pagi (26/5/16).

Melalui Workshop Wirausaha Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) dalam Harkitnas, kaum difabel diharapkan dapat bangkit secara cerdas membangun bangsa yang lebih baik. “Workshop ini diharapkan menjadi semangat dan gagasan awal untuk difabel untuk bangkit bersama,” papar Mei Subroto Sekretaris Dinsonakertrans Karanganyar, dalam sambutannya.
Disebutkan Mei, di Karanganyar terdapat 7624 kaum difabel yang terbagi menjadi tiga kategori, yakni cacat fisik, cacat mental dan cacat fisik mental. Perkembangan peran dan kesetaraan difabel di Karanganyar, menurutnya cukup besar. Dari yang awalnya sangat sedikit sekali kaum difabel yang benari keluar untuk berkarya, saat ini optimisme dan kepercayaan diri semakin meningkat.
“Dulu orang cacat selalu minder, mau keluar rumah saja takut. Tapi kalau sekarang beda, sudah banyak yang berani, baik tampil untuk kerja maupun berkreativitas,” tekannya.
Kesetaraan bagi kaum difabel selain berdasarkan UU No 4 Th 1997 dan UU No 8 Th 2016, Karanganyar juga telah mempunyai Perda No 6 Th 2014 tentang kesetaraan difabel dengan mendapat dana APBD setiap tahunnya. “Ada 4 ormas Difabel yang setiap tahunnya dapat anggaran dari APBD. Seperti PPCI, Pertuni, FKPCTI, dan ITMI, anggaran setiap tahun 50 juta per ormas,” tambahnya.
Kiprah kaum difabel di Karanganyar juga telah melahirkan atlit-atlit difabel nasional. Seperti atlit panjat tebing, atlit lari, dan atlit cabang olah raga lainnya. Untuk itu, Mei mengajak seluruh masyarakat untuk membuka diri bagi kaum difabel. Kaum difabel bukan sebagai beban masyarakat tetapi ditempatkan sebagai mitra usaha. “Saya harapkan semua masyarakat dapat membuka mata, difabel bukan menjadi beban masyarakat karena difabel mampu berkarya sendiri,” pungkasnya.
Sementara itu, salah satu penyandang cacat Tunjung, mengatakan selama ini program-program dan bantuan Pemkab Karanganyar untuk kaum difabel memang cukup banyak. Namun yang disayangkan, difabel yang mendapat bantuan tetap tidak bisa usaha karena mutu kualitas dari barang batuan masih terlalu rendah. “Kalau kami dapat bantuan tapi barangnya tidak bisa digunakan sama saja kita tidak bisa usaha. Saya harapkan, Pemkab lebih selektif lagi dalam memberikan bantuan, jangan sampai justru bantuan hanya sia-sia saja,” tutupnya. (Harun Alrosid).