SELASA 10 MEI 2016
AMBON — Penyuluh dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Provinsi Maluku, Syarifudin Pattisahusiwa S.P bersama rekan-rekannya terus fokus membina para petani di sejumlah desa dengan memanfaatkan program SOLID (Smallholder Livelohold Development), atau program Peningkatan Kesejahteraan Petani Kecil (PKPK).
![]() |
| Syarifudin Pattisahusiwa (kiri), bersama para petani asal Desa Rukun Jaya Kecamatan Bula Barat Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku |
SOLID atau program PKPK ini hanya ada di dua provinsi, yaitu Maluku dan Maluku Utara. Di Provinsi Maluku ada 5 kabupaten yang dibina, masing-masing Maluku Tengah, Buru Selatan, Buru, Seram Bagian Barat (SBB), dan kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).
Saat diwawancarai Cendana News Selasa (10/5/2016), Dino (sapan akrab Syarifudin Pattisahusiwa) menerangkan, program SOLID ini bertujuan mengembangkan petani.
“Visinya jelas meningkatkan kesejahteraan petani kecil. Untuk kabupaten SBT ada 19 desa binaan. Cuma untuk sekolah lapang kebun percontohan tanaman kakao, hanya kita lakukan di dua desa, yaitu Desa Rukun Jaya dan Desa Jembatan Basah Kecamatan Bula Barat,” jelasnya.
Dino menyebutkan, 7 komoditi unggulan yang dikembangkan Solid. Masing-masing, Kakao, kacang tanah, kelapa, sagu, pala dan ikan asin. Dikemukakan, khusus di Desa Rukun Jaya dibuka lahan baru sementara ini setengah hektar untuk penanaman 350 anakan kakao.
“Bibit banyak. Tapi, sementara ini baru 350 anakan yang ditanam di setengah hektar. Kegiatan ini adalah sekolah lapang tanaman perkebunan tahun 2016. Tahun 2014 kami juga sudah membagikan bibit kakao di Desa Jembatan Basah,” terangnya.
Menurut Dino, semua orang akan menyoroti target dari sebuah program. Tidak ada yang salah bahwa sebuah program memiliki target yang harus dicapai. Dan sudah tentu, target yang dimaksud adalah hasil yang berkaitan dengan kuantitas atau jumlah, baik itu produksi maupun produktifitas.
“Padahal, sejatinya sebuah program pemberdayaan sekelas SOLID ini, target utama kami bukan semata produksi dari komoditi yang dikembangkan. Target ini memang penting sebagai muara dari peningkatakan kesejahteraan. Tapi untuk mencapai target dan mempertahankannya, tidak mudah dilalui,” ulasnya.
Alasannya, karena target utama dari sebuah program yang berbasis pemberdayaan adalah merubah pola pikir orang yang dibina. Mau hasil melimpah, mau sejahtera atau mau kaya? Itu butuh proses. Bukan hanya sekedar rajin ulet dan berkeringat saja. Orang yang berjuluk petani di negara ini, rata-rata ‘otaknya ada di mata’ bukan di kepala.
“Coba kita lihat di sekitar kita, petani itu pastinya melihat temannya berhasil baru mulai mengikuti jejaknya. Itu karena ‘Otaknya ada di mata’. Apalagi petani kecil, sudah pasti sukar untuk diterka dimana otaknya. Karena pola pikirnya kemana-mana. Tiba saat, tiba akal,” kata Dino.
Misalkan, ketika saat musim jeruk, tanam jeruk, saat musim rambutan tanam rambutan, saat musim sinetron nonton sinetron. Siapa yang bisa menerka hal ini?
“Target utama SOLID adalah merubah pola pikir. Otak petani harus ada di kepala,” celutuknya.
Dino menambahkan, petani harus dibina untuk berpikir maju, cerdas, ekonomis dan intelek. Sehingga jika petani ingin maju maju, pasti akan berpikir untuk bekerja dengan fokus.
Demikian pula jika petani cerdas sudah pasti akan pandai memilih peluang ketimbang resiko. Kemudian jika petani ekonomis, pasti akan irit dan menabung. Dan jika petani fokus, pasti petani akan berpikir untuk berhasil.
“Inilah target SOLID yang sebenarnya. Berproses untuk memanusiakan manusia. Bukan memanusiakan Doraemon yang serba berharap dari kantong ajaib. Semoga target utama ini mampu dibentuk SOLID untuk SBT khususnya dan Maluku umumnya,” pungkas mantan jurnalis asal Maluku itu.
[Samad Vanath Sallatalohy]