Lumpuh Kaki, Saif Mampu Bangkit dari Keterpurukan Akibat Gempa Besar 27 Mei 2006 di Yogyakarta

KAMIS, 26 MEI 2016

YOGYAKARTA — Mulai pekan ini, masyarakat Yogyakarta mengenang peristiwa gempa paling besar dalam kurun waktu 10 tahun ini, yang meluluh-lantakkan sebagian besar Kabupaten Bantul, Kota Yogyakarta, Kulonprogo dan Gunungkidul. Juga meruntuhkan ribuan rumah di Jawa Tengah dan sebagian kecil di Jawa Timur. Lebih dari 5.000 nyawa melayang, ribuan rumah runtuh dan menyisakan luka mendalam bagi para korban, baik psikologis maupun luka cacat fisik permanen.

Saif Handani bangkit dari keterpurukan gempa 27 Mei 2016
Hingga hari ini, gempa tektonik yang terjadi pada 27 Mei 2006 masih begitu jelas dalam bayang ingatan warga Yogyakarta. Gempa tektonik yang hanya berlangsung kurang dari semenit itu sedemikian dashyat menimbulkan kerusakan. Saat itu, Sabtu 27 Mei 2006, sekira pukul 05. 55 WIB, mendadak gempa mengguncang dengan kerasnya. Ribuan rumah di Bantul menjadi yang paling pertama merasakan kedahsyatan gempa itu. Ribuan rumah runtuh. Ratusan warga tewas seketika dan ratusan lainnya tewas setelah dirawat di rumah sakit. Sedemikian mencekam suasana di kala itu, karena tak lama setelah gempa tersebut muncul rumor akan adanya gelombang tsunami.
Kepanikan luar biasa pun terjadi. Ribuan warga Bantul berbondong-bondong lari tunggang-langgang menyelamatkan diri ke arah utara menjauhi pesisir selatan. Jalanan macet total. Semua wajah tegang dan ketakutan. Namun, beruntung. Kabar tak benar itu segera terkonfirmasi oleh petugas SAR. Warga mulai tenang, dan sesaat kemudian kembali histeris lantaran menyadari rumahnya telah runtuh, sejumlah kerabat tewas berdarah-darah, dan sebagian lagi diketahui berada di lorong-lorong rumah sakit.
Sekiranya, tiada kata yang mampu menggambarkan suasana mencekam dan kesedihan luar biasa di kala gempa tektonik itu terjadi. Namun, kenangan itu pun sekiranya juga tak perlu mendayu-dayu, karena hal penting dari peristiwa tersebut adalah pengalaman jiwa-jiwa kuat yang mampu kembali bangkit dari keterpurukan akibat musibah besar itu. Seperti salah satunya, Saif Handani, warga Desa Busuran, Kretek, Bantul, yang terpaksa harus menerima nasib lumpuh kaki akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat terjadi gempa itu.
Saif yang ditemui di rumahnya, Kamis (26/5/2016), mengaku masih mengingat betul musibah terbesar dalam hidupnya itu. Betapa sakit dan pedih batinnya, ketika menyadari kedua kakinya lumpuh permanen akibat tertimpa reruntuhan bangunan rumahnya sendiri. Betapa beratnya ia menerima kenyataan di separuh hidupnya kemudian harus bergantung pada kursi roda. Serasa lolos semua semangat hidupnya. Serasa tak berarti lagi hidupnya. Namun, Saif mengaku kemudian tersadar, tiada guna untuk meratapi semua itu, karena hidup tetap harus berlanjut. Masih ada istri dan empat orang anak yang harus dihidupinya. Maka, Saif pun kemudian berusaha bangkit.
Saif membuat lilin gelas
Dua tahun pertama dirasakannya memang sangat berat. Pasalnya, dengan hilangnya fungsi kedua kakinya itu ia tak lagi bisa meneruskan pekerjaannya sebagai broker eksportir barang-barang kerajinan yang mengharuskannya pergi ke banyak tempat dalam waktu cepat. Namun, Saif tak patah semangat. Justru dengan pengalamannya bertemu dengan banyak pengrajin ketika menjadi broker, ia kemudian mencoba membuat berbagai benda kerajinan sendiri, seperti kreasi batik kayu, vas bunga, lilin serta lainnya. 
Hasil kerja kerasnya selama delapan tahun ini pun ternyata tak sia-sia. Ketekunannya berkreasi tak hanya cukup untuk menghidupi keluarganya, namun juga mampu menolong sesama kawan senasibnya. Melalui Paguyuban Bangkit Bersama, Saif mengajak 50 orang penyandang difabel akibat gempa 27 Mei 2006 untuk bergabung dan bersama-sama bangkit dari keterpurukan. “Saya ingin menunjukkan, difabel juga mampu berkarya dan mandiri tanpa bantuan orang lain”, katanya.  
Sementara itu, di Kabupaten Bantul tercatat lebih dari 1.500 orang mengalami cacat fisik akibat peristiwa gempa tektonik paling dashyat sepanjang 10 tahun terakhir ini. Berbagai dampak kemanusiaan itu, pun menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun. Seperti dikatakan Saif, bahwa ketika sudah tak lagi bisa berjalan, Saif mengaku baru menyadari begitu nikmatnya bisa berjalan kaki. (Koko) 
Lihat juga...