SELASA, 12 APRIL 2016
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Agus Nurchaliq
MALANG — Jangan remehkan penderita Down Syndrome, karena mereka juga mampu berprestasi seperti anak-anak pada umumnya. Hal tersebut disampaikan Dewanti, Ketua Worlds (Walk Together and Love People With Down Syndrome).
![]() |
| Dewanti, Ketua Worlds |
Dewanti menyampaikan bahwa Worlds merupakan sebuah komunitas yang berisikan relawan, para ahli, dokter spesialis anak, orang tua dan anak-anak penderita down syndrome.
“Kami mendirikan komunitas Worlds dengan harapan agar para orang tua bisa bersama-sama dengan kita untuk mengembangkan potensi anak-anak down syndrome sehingga mereka bisa diterima dengan ikhlas, dengan cinta oleh orang tuanya maupun lingkungan sekitarnya,”jelasnya.
Wanita yang juga berprofesi sebagai dokter gigi ini mengatakan bahwa dirinya ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa anak-anak penderita down syndrome sama dengan anak-anak lain pada umumnya yang memiliki kekurangan dan kelebihan.
“Jangan pandang mereka dengan sebelah mata, jangan kucilkan mereka karena mereka juga bisa berkembang seperti yang lainnya bahkan mereka juga bisa berprestasi sama dengan anak-anak pada umumnya,”ungkapnya.
Menurutnya, kelebihan dari anak-anak penderita down syndrome yakni mereka lebih gembira, lebih ceria, senang bertemu dengan orang dan mereka selalu tersenyum.
“Jarang atau mungkin tidak ada anak-anak down syndrome yang pemarah. Mau bagaimanapun situasinya mereka ini selalu ceria,”ujarnya.
Dewanti juga menjelaskan bahwa down syndrome sendiri bukan merupakan penyakit menular atau penyakit keturunan tetapi merupakan kegagalan kromosom.
“Jadi, begitu terjadi pembuahan kromosom yang seharusnya memisahkan diri, ini tidak memisahkan diri. Untuk anak-anak biasa, kromosom hanya berjumlah dua. Sedangkan pada penderita down syndrome kelebihan satu, jadi kromosom 21. Itulah sebabnya hari down syndrome diperingati setiap 21 Maret karena kromosom 21nya berjumlah tiga,”jelasnya.
Untuk menangani penderita down syndrome dibutuhkan kesabaran yang lebih. Mereka bisa menerima tapi dengan dicontohkan berulang kali. “Jika pada anak-anak biasa kita hanya perlu sekali menyuruhnya mandi, untuk anak down syndrome harus dilatih berulang kali dengan penuh kesabaran,”ungkapnya.
Menurutnya, apabila down syndrome bisa di deteksi sedini mungkin, kita bisa bantu dengan terapi wicara dan terapi perilaku agar mereka bisa sama dengan orang lain. Ia juga menyebutkan bahwa penderita down syndrome biasanya diikuti dengan penyakit penyerta seperti kelainan jantung maupun kelainan pendengaran. Hal tersebut terjadi karena kelainan genetik yang mereka alami juga mempengaruhi semua perkembangan yang ada dalam tubuhnya.

Sementara itu, Dewanti mengaku bahwa dirinya belum memiliki data yang pasti berapa banyak penderita down syndrome yanga ada di kota Malang. Namun yang bergabung dengan komunitasnya sekarang kurang lebih berjumlah 50 anak.
“Memiliki anak berkebutuhan khusus memang banyak dilema yang dihadapi orang tua. Mungkin orang tua sedikit agak malu mengatakan bahwa anaknya menderita down syndrome, jadi mereka enggan untuk megikuti sebuah komunitas,”pungkasnya