SELASA, 12 APRIL 2016
Jurnalis: M. Fahrul / Editor: ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: M. Fahrul
SUMENEP — Setelah sembilan tahun pasca kebakaran, nasib para pedagang yang berjualan di Pasar Anom Kabupaten Sumenep, Jawa Timur masih terkatung-katung. Pembangunan kios yang ada di pasar tradisional tersebut tak kunjung selesai, sehingga menjadi semraut dan becek ketika pada musim hujan.
![]() |
| Kondisi pedagang yang berjualan di Pasar Anom Baru Kabupaten Sumenep |
Pasca kebakaran pasar tradional terbesar di daerah ini pada tahun 2007 silam membuat para pedagang yang kiosnya hangus menjadi arang terpaksa memilih berjualan di emperan dan lorong-lorong jalan di dalam pasar. Apabila musim hujan kondisinya sangat memprihatinkan, karena dengan beratapkan tenda yang terbuat dari terpal membuat mereka basah saat menjajalkan barang dagangannya.
“Ini sudah sejak lama bangunan pasar tak kunjung selesai, ya mau gimana lagi terpaksa para pedagang berjualan dengan tempat seadanya, sehingga apabila musim hujan tempat ini becek membuat para pedagang tidak betah berjualan,” kata Harsani (40) salah seorang pedagang yang berjualan di Pasar Anom Baru, Selasa (12/4/2016).
Disebutkan, bahwa pasar tradional terbesar di daerah ini dibangun pasca kebakaran pada tahun 2007 silam, namun setelah bertahun-tahun bangunan tersebut tak kunjung selesai, sehingga membuat harapan para pedagang untuk memiliki kios yang layak ternyata sirna, sebab pada tahun 2014 pasar tersebut kembali terbakar hingga menghanguskan sebanyak 600 kios.
“Kami sejak pagi sudah berjualan di emperan pinggir jalan, sehingga apabila hujan buah dagangannya menjadi busuk, akibatnya dapat mengalami kerugian yang cukup besar. Makanya kami berharap pembangunan pasar itu segera selesai,” jelasnya.
Lambannya pembangunan Pasar Anom Baru yang sudah sembilan tahun pasca terjadinya kebakaran menambah lengkap penderitaan para pedagang. Selain kios yang dimiliki hangus dilalap si jago merah, mereka juga harus berjualan ditempat yang kondisinya sangat memprihatinkan. Ia harus merasakan panasnya terik matahari serta dinginnya air hujan apabila saat hujan turun.

Hingga sekarang pembangunan pasar tradisional tersebut masih dalam tahap dikerjakan oleh investor, sehingga pemerintah daerah setempat tidak lagi menggolontorkan dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), sebab secara keseluruhan bangunan tersebut ditanggung oleh investor yang telah melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah setempat.