Warga Terdampak Amblesnya Tanah di Sleman Harapkan Perbaikan

KAMIS, 7 APRIL 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko 

YOGYAKARTA — Tiga hari pasca amblesnya tanah di pemukiman warga pedukuhan Sendowo, Sinduadi, Mlati, Sleman, akibat retaknya tanggul Sungai Code, puluhan warga pengungsi berharap proses perbaikan segera dilakukan. Pasalnya, dengan terlalu lama mengungsi, anak-anak sekolah kesulitan belajar, dan sejumlah ibu mengeluh karena bayinya merasa tidak nyaman.
Rumah yang amblas
Hingga hari ini, Kamis (7/4/2016), jumlah warga terdampak amblesnya tanah pemukiman warga di pedukuhan Sendowo dipastikan sebanyak 31 jiwa, terdiri dari 9 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah rumah yang terdampak sebanyak 5 unit. Semuanya berada di lingkungan RT 10/ RW 056. Demikian dikatakan Ketua RT 10 Pedukuhan Sendowo, Sarijan, saat ditemui di Posko Bencana pedukuhan setempat, Kamis (7/4/2016).
Dijelaskan Sarijan, dari 5 KK yang terdampak, hanya 4 KK saja yang mengungsi ke rumah saudara. Sedangkan satu KK lagi masih bertahan dengan menghuni rumah yang sebenarnya rawan ambles. Sementara itu, dari sebanyak 31 orang yang terdampak, dua di antaranya adalah mahasiswa yang kost di kawasan terdampak, dan satu KK di antaranya adalah warga asal Wonosari, Gunungkidul, yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang kaki lima. Akibat bencana amblesnya tanah, dua mahasiswa terpaksa pindah tempat dan pedagang kaki lima asal Wonosari pulang kampung.  
Sarijan
Dikarenakan warga terdampak mengungsi ke tempat saudara, maka perangkat desa setempat dan dinas terkait tak mendirikan tenda pengungsian. Namun demikian, warga tetap mendirikan posko tanggap darurat sebagai tempat berjaga-jaga jika terjadi longsor susulan di lokasi retaknya tanggul. Selain itu, warga juga membuat dapur umum, untuk sekedar meringankan beban warga pengungsi. Sarijan mengatakan, logistik dapur umum disuplai dari Taruna Siaga Bencana (TAGANA).
Namun, kata Sarijan, sejumlah warga saat ini mulai mengeluh karena mengungsi di tempat saudara tidak bisa sebebas dan senyaman di rumah sendiri. Beberapa ibu-ibu yang memiliki anak masih bayi merasa kesulitan, dan anak-anak yang masih sekolah kesulitan untuk belajar di rumah. 
“Maka, kami sangat berharap, dinas terkait segera melakukan perbaikan tanggul dan rumah warga terdampak”, ujarnya.
Julisetiono Dwi Wasito
Sementara itu, ditemui di kantornya di hari yang sama, Kepala BPBD Sleman, Julisetiono Dwi Wasito mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait untuk segera melakukan perbaikan, antara lain dengan Badan Pengairan Wilayah Sungai (BPWS) Sleman, Dinas Energi Sumber Daya Air Dan Mineral (ESDAM) Sleman, beserta perangkat muspika desa terdampak.
Juli mengatakan, perbaikan kawasan tanggul yang retak dan menyebabkan tanah ambles merupakan kewenangan dari BPWS. Dari hasil rapat koordinasi, perbaikan permanen memang belum ditentukan waktunya, bahkan diperkirakan masih lama. Untuk itu, pihaknya akan melakukan penanganan darurat atau perbaikan sementara dengan memasang bronjong. 
“Hari ini pula kita juga sudah memasang alat deteksi dini atau Early Warning System di lokasi amblesnya tanah, agar warga bisa segera mengungsi jika ada longsor susulan dari tanggul”, ujarnya.
Juli mengimbau, agar warga terdampak mengungsi ke tempat yang aman, karena lokasi amblesnya tanah tersebut bisa sewaktu-waktu .
Lihat juga...