SELASA, 12 APRIL 2016
Jurnalis : Adista Pattisahusiwa / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Adista Pattisahusiwa
JAKARTA — Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon menilai hasil autopsi Komnas HAM, Persatuan Dokter Forensik Indonesia dan PP Muhammadiyah terhadap terduga teroris Siyono sebagai peringatan buat kepolisian.
Menurut Fadli, hasil autopsi itu jangan dianggap enteng, itu merupakan tamparan keras, khususnya Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.
“Saya kira apa yg dilakukan dokter forensik harus dihargai dan menjadi tamparan bagi kepolisian, bagaimana pun juga merupakan sebuah pelanggaran,” papar Fadli di Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Selasa (12/4/2016).
Fadli minta, semestinya ada pembenahan di internal Densus 88 Antiteror, dan oknum yang membunuh Siyono dapat diberikan sanksi yang berat.
“Harus ada pembenahan, sebab di era reformasi ini banyak yang tekankan HAM, Pelanggaran HAM begitu banyak, kok dianggap biasa saja,” kesalnya
Seperti Diketahui, kematian terduga teroris Siyono yang ditangkap Densus 88 akhirnya terungkap usai dilakukan autopsi pada Minggu (3/4/2016). Autopsi dilakukan oleh 10 dokter ahli forensik, sembilan dokter forensik dari Muhammadiyah dan satu dokter forensik dari Kepolisian Daerah Jawa Tengah.
Siyono merupakan terduga teroris asal Klaten, Jawa Tengah, ia tewas usai ditangkap Densus 88 anti-teror.
Menurut keterangan polisi, Siyono melakukan perlawanan dalam penangkapan sehingga dilumpuhkan, hingga pada akhirnya wafat di rumah sakit.
Namun berdasarkan hasil autopsi Tim Forensik Muhammadiyah yang melibatkan unsur Kepolisian menyatakan bahwa, dari hasil outopsi tersebut, tak ada yang menandakan Siyono melakukan perlawanan. Dari hasil autopsi, yang menyebabkan kematian Siyono akibat benturan benda tumpul di bagian rongga dada.