Sisi Lain Kehidupan di Pelabuhan Sunda Kelapa

JUMAT, 8 APRIL 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo /  Sumber Foto: Miechell Koagouw

JAKARTA — Kehidupan manusia memiliki dua sisi penting, yakni kehidupan yang memang sedang dilakoninya dan sisi lain dari kehidupan yang sedang dilakoninya itu sendiri. Demikian halnya dengan Pelabuhan Sunda Kelapa. Sebuah pelabuhan tua yang sudah ada sejak abad ke-12 di Jakarta ini menyimpan seribu satu kisah serta sisi lain kehidupan di balik setiap denyut nadinya.
Aktiftas di Pelabuhan Sunda Kelapa
Suasana dermaga pelabuhan Sunda Kelapa akrab dengan kapal-kapal kayu tradisional berbentuk perahu layar Bugis yang sandar untuk melakukan bongkar muat barang setiap hari. Akan tetapi dipinggiran dermaga tampak sampan-sampan motor hilir mudik kian kemari. Terkadang sampan tersebut kosong atau ditumpangi dua sampai tiga orang.
Sampan-sampan tersebut bukan hanya sekedar mondar mandir di area dermaga, akan tetapi melayani jasa angkutan baik dari kawasan kampung luar batang ke pelabuhan, maupun angkutan wisata keliling bagi siapapun pengunjung pelabuhan Sunda Kelapa yang berkeinginan melihat suasana perkampungan nelayan luar batang maupun Masjid luar batang yang merupakan salah satu situs sejarah di Jakarta.
Pengemudi sampan tersebut kebanyakan berasal dari kampung luar batang. Letak kampung luar batang itu sendiri tepat berhadapan dengan dermaga pelabuhan Sunda Kelapa pintu masuk POS I.
Salah satu pengemudi sampan sebut saja namanya Lupi. Seorang pria berusia 50 tahun yang sejak usia muda sudah menjadi pengemudi sampan motor untuk melayani para wisatawan, penjual kopi dan kue area pelabuhan Sunda Kelapa, serta para awak kapal Tanker (pengangkut minyak) milik Pertamina yang sandar di pelabuhan Sunda Kelapa.
Tarif beragam ditawarkan Lupi bagi setiap orang yang akan menggunakan jasa perahunya. Untuk wisatawan atau awak kapal Tanker, maka ia akan membuka tarif antara Rp.50.000 sampai Rp.100.000,- per satu kali perjalanan. Sedangkan bagi penjual kopi dan kue ia menetapkan tarif khusus yang tentunya jauh lebih murah dibanding kepada wisatawan maupun awak kapal.
“Terkadang ada wisatawan atau awak kapal yang minta dibawa berkeliling sampai ke seluruh area dermaga mulai POS I sampai POS II. Itulah salah satu penyebab perbedaan harga yang saya berikan kepada mereka,” jelas Lupi.
Selain sebagai pengemudi sampan motor, Lupi ternyata memiliki sebuah keahlian unik yakni membuat kapal layar. Awal dari keahlian tersebut didapat sejak ia berusia muda dengan cara mengikuti pekerjaan borongan membuat kapal layar. Dari sekedar menjadi tukang angkat kayu, meningkat menjadi bagian amplas, bagian ukir, bagian ukur, sampai akhirnya suatu saat ia sempat menjadi koordinator pekerja.
“Prosesnya panjang, tapi karena keterbatasan pendidikan maka saya tidak bisa menggambar atau mendesain perahu seperti layaknya arsitek,” imbuhnya sambil tersenyum.
Namun keikutsertaan dirinya dalam pekerjaan tersebut sudah lama berhenti. Hal ini dikarenakan semakin ketatnya peraturan pemerintah terkait penebangan pohon di hutan terutama untuk pohon kayu ulin di Kalimantan.
Sekilas mengenai pohon kayu ulin, pohon ini termasuk jenis pohon besar yang tingginya mencapai 50 meter dengan diameter sampai 120 sentimeter. Pohon ulin tumbuh di dataran rendah pada ketinggian 5 – 400 meter di atas permukaan laut dengan medan datar sampai miring. Keistimewaan kayu pohon ulin adalah tahan terhadap perubahan suhu, kelembaban, dan pengaruh air laut sehingga sifat kayunya sangat berat dan keras. Itulah sebabnya industri kapal kayu menggunakan kayu ulin sebagai bahan dasar pembuatannya. Namun hal ini dimanfaatkan oknum tertentu dengan melakukan pembalakan liar terhadap pohon kayu ulin.
Atas dasar perbuatan oknum pembalakan liar itulah maka pemerintah menguatkan peraturan perundang-undangan terkait perlindungan hutan dan seisinya dengan menerbitkan Undang Undang No.18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan. Tanpa disadari hal ini ternyata berimbas pada lesunya bisnis pembuatan perahu kayu. Ada alternatif lain dengan menggunakan bahan fiberglass, namun hasil serta daya tahannya dirasakan tidak seperti menggunakan kayu ulin.
Lupi bukan mengeluhkan undang-undang yang dikeluarkan pemerintah, namun ada hal tersirat dari curahan isi hatinya bahwa orang-orang seperti dirinya yang memiliki keahlian membuat perahu kayu butuh solusi dari pihak terkait dalam hal ini pemerintah.
“Saya orang kecil, mana mungkin melawan hukum, lagipula saya takut dipenjara, bagaimana nasib anak istri saya jika hal itu menimpa diri saya. Mungkin ini hanya curahan hati saja, siapa tahu pemerintah memberi jalan keluar untuk industri pembuatan perahu kayu tanpa harus terbentur undang-undang,” lanjut Lupi sambil sesekali memperhatikan sampan motor miliknya.
Perbincangan semakin hangat kala seorang ibu penjual kopi membuatkan dua gelas kopi hitam untuk Cendana News dan Pak Lupi. Perbincangan meluas dengan sentilan terkait rencana relokasi warga kampung luar batang tanggal 11 April 2016 mendatang. Hal ini ditanggapi positif oleh Lupi, namun yang ada di benaknya jika relokasi terwujud adalah Masjid luar batang yang terletak di wilayah Pasar ikan Jakarta utara akan kehilangan jemaah tetapnya.
“Mungkin ini pemikiran bodoh dari orang kecil seperti kami, bahwa sangat tidak mungkin penghuni beragama islam apartemen mewah di seberang sana mau menjadi jemaah aktif Masjid luar batang. Mereka pasti memilih ke Masjid lain yang lebih besar,” kata Lupi sambil menunjuk kearah bangunan apartemen di seberang dermaga Sunda Kelapa.
“Begitulah, direlokasi dari kampung luar batang saja saya pribadi pasti nurut, apalagi melawan undang-undang perusakan hutan, wah saya tidak mau. Perkataan saya terkait mulai hilangnya lahan pekerjaan sebagai pembuat kapal kayu hanya curahan hati yang meminta solusi, jangan dianggap mau melawan hukum ya,” pungkasnya sambil berpamitan untuk mengantarkan ibu penjual kopi kembali ke rumahnya menggunakan sampan motor milik Lupi.
Suara rakyat kecil, sekali lagi itulah ungkapan dibenak Cendana News setelah selesai berbincang-bincang dengan Lupi. Terkadang suara rakyat kecil bisa menjadi sebuah inspirasi bagi yang mendengarnya untuk menentukan pengambilan langkah selanjutnya. Ada dua hal penting disini, terkait terhentinya industri pembuatan kapal kayu karena terbentur UU No.18 Tahun 2013, hendaknya pemerintah juga harus memberikan solusi terbaik bagi industri pembuatan perahu kayu. Pelatihan bagi para perakit perahu kayu untuk beralih ke bahan fiberglass harus menjangkau seluruh lapisan. Program tersebut harus terukur, dalam arti bisa dibaca perkembangannya agar dapat dilakukan perbaikan apabila terjadi ketidaksesuaian program.
Untuk masalah relokasi kampung luar batang, Cendana News menangkap sebuah kepasrahan, akan tetapi juga terbersit sebuah pesan bahwa ada kearifan lokal masyarakat yang harus diselamatkan di dalam kampung luar batang. Jika memang suatu saat kampung luar batang harus pindah, maka tanggungjawab perawatan sekaligus pelestarian situs bersejarah seperti Masjid luar batang makam keramat ada di pundak Pemprov DKI kedepannya.
Ini adalah celah pengembangan wisata religi bagi Pemprov DKI yang dapat memberikan penghasilan tambahan bagi warga sekitar daerah wisata tersebut. Pengemudi sampan motor seperti Lupi dan rekan-rekannya akan terkena imbas penghasilan juga nantinya, yakni membawa wisatawan keliling pelabuhan Sunda Kelapa dengan sampan motor. Rasanya jalan keluar wisata religi  ini bisa menjadi jawaban curahan hati Lupi akan hilangnya pekerjaannya sebagai pembuat kapal kayu. Walau hanya setitik namun asa itu tetap ada untuk Lupi dan rekan-rekannya.
Lihat juga...