JUMAT, 8 APRIL 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Pembuatan jamu tradisional di wilayah pedesaan masih menjadi usaha rumahan yang ditekuni oleh sebagian wanita di Desa Karangsari Kecamatan Ketapang Lampung Selatan Provinsi Lampung. Jamu tradisional yang juga dikenal dengan “jamu godhog” atau jamu rebus yang biasa dijajakan dengan cara digendong tersebut mulai dijajakan menggunakan kendaraan roda dua.
![]() |
| Sulimah, penjual jamu keliling |
Salah satu wanita di desa tersebut yang sehari hari melakukan aktifitas berjualan jamu keliling diantaranya Sulimah (29) yang berkeliling menggunakan kendaraan roda dua dan sebuah tempat khusus untuk tempat meletakkan botol botol, jerigen jamu tradisional yang akan dijajakannya.
“Saya sudah berjualan jamu sejak dua tahun dengan menggunakan kendaraan roda dua dan pendapatan berdasarkan upah harian dari bos pembuat jamu,”ungkap Sulimah kepada Cendana News, Kamis (7/4/2016)
Sulimah mengaku upah harian yang dibayarkan oleh pengracik jamu kepadanya sebesar Rp.35ribu tersebut belum termasuk uang bahan bakar kendaraan yang akan digunakan untuk keliling menjajakan jamu selama satu hari. Jamu yang dijual merupakan jamu tradisional yang diantaranya beras kencur, jamu pahit dari ramuan herbal, jamu tradisional yang merupakan racikan sendiri serta jamu tradisional yang berbentuk bungkusan.
“Awalnya saya membantu meracik jamu dari ramuan herbal yang merupakan jamu tradisional asli daerah sini, namun karena banyak warga menyukai jamu racikan kami akhirnya kami jajakan secara keliling,”ujarnya.
Ia mengaku dalam sehari menjajakan sebanyak belasan jerigen jamu tradisional yang akan dibeli oleh warga yang masih menyukai jamu tradisional. Sekali membawa beberapa liter jamu tradisional dalam sehari ia mendapatkan uang sebesar Rp.100ribu yang disetor kepada pemilik jamu.
Pembeli yang sebagian besar kaum wanita menyukai jamu tradisional selain karena merupakan jamu segar juga tidak menggunakan zat zat kimia. Selain itu jamu berkhasiat yang juga disukai anak anak dijual dengan harga terjangkau diantaranya jamu beras kencur seharga Rp.3ribu, jamu kunyit asem seharga Rp.6ribu, jamu tolak angin Rp.6ribu serta jamu tradisional lain yang dihargai tidak lebih dari Rp.10ribu.
Ia mengaku mulai melakukan aktifitas berjualan jamu mulai pukul 12:00 WIB siang hingga sore dengan rute keliling di sekitar desa dengan rata rata mampu menjual puluhan gelas jamu serta beberapa bungkus jamu tradisional.
Pembuatan jamu tradisional tersebut menurut Sulimah memanfaatkan hasil kebun dari petani di desa desa sekitar wilayah tersebut diantaranya tanaman jahe, kunyit, asem, serta beberapa tanaman tradisional yang bermanfaat untuk pembuatan jamu tradisional yang dibuat dengan direbus.
Ia mengaku rela berkeliling berjualan jamu untuk membiayai sekolah anaknya yang duduk di bangku sekolah kelas dua SD. Sementara sang suami bekerja sebagai buruh bangunan yang mengerjakan pembangunan perumahan di Lampung Timur.