SABTU 16 APRIL 2016
Jurnalis Ebed De Rosary Editor ME. Bijo Dirajo Sumber foto Ebed De Rosary
MAUMERE — Dua puluh perempuan membentuk dua barisan di kiri dan kanan memasuki aula pertunjukan sambil menggerakan tangan mengikuti irama tabuhan gong Waning.Bambu bulat yang ujungnya diberi rumbai (Ikun) di kedua tangan penari dgerakan ke kiri dan kanan. Sesekali tangan penari diangkat hingga ke atas kepala sambil gerakan tangan tetap gemulai.
![]() |
| Tarian Tua Reta Lo’u yang dipentaskan sanggar Nibon Klibok dalam pentas budaya Desa Langir |
Dibelakangnya juga terdapat 3 penari lelaki dengan gerakan senada namun lebih atraktif dan tidak seragam. Ketiganya bergeak bebas mengelilingi penari perempuan, masuk ke tengah barisan penari hingga bergerak ke depan. Ketiganya bergerak seraya melambaikan Ikun seraya sesekali badannya digerakan meliuk dan membungkuk.
Sebatang bambu bulat dibawa ke tengah penari. Dua penari lelaki dewasa memegangi bambu. Dengan gesit seorang anak laki-laki menaiki bambu. Kakinya diinjak di pegangan bambu dan kedua tangannya diangkat ke dahi membuat gerakan seperti orang mengintip.
Perlahan dadanya diletakan di ujung bambu. Seraya menjaga keseimbangan tubuh perlahan kakinya diangkat hingga dirinya tengkurap dan membuat gerakan memutar sambil kedua kakinya digerakan. Tak lupa kedua tangannya yang memegang Ikun tetap diayunkan ke kiri dan kanan.
Peonton pun tertawa, bersorak dan bertepuk tangan menyaksikan suguhan tarian ini. Para perempuan pun memembentuk lingkaran dan tetap menari menghentakan kedua kaki. Bunyi giring-giring yang dikenakan di pergelangan kaki menambah keriuhan berpadu lengkingan suara teriakan dari para penari.
Mengintai Musuh
Monika Plain, ketua sanggar Nibon Klibok desa Langir yang ditemui Cendana News, Jumat (15/4/2016) malam usai Pentas Budaya desa Langir menjelaskan, tarian tersebut dinamakan Tua Reta Lo’u. Pada pementasan tersebut kata Monika, tarian Tua Reta Lo’u juga dipadukan dengan tarian Ikun Beta.
“Kedua tarian ini kami padukan dan disuguhkan saat pentas budaya ini. Ini sebuah kolaborasi tarian daerah yang kami kreasikan dari gerak tari tradisional daerah kami,” tuturnya.
Tarian Ikun Beta ujar Monika menceritakan tentang seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dengan seorang gadis namun dia tidak bisa mengungkapkan kata hatinya secara langsung.Pemuda tersebut menitipkan pesan tersebut melalui perantara burung merpati. Surat ditulis di secarik kertas dan diikat di kaki burung merpati lalu menyuruh burung terssbut menghantarnya kepada sang gadis.
Setelah menerima surat dan membacanya, jelas Monika, sang gadis pun menuliskan jawabannya dan menyuruh merpati tadi kembali ke sang pemuda. IIsi pesan tersebut beber Monika mengatakan bahwa sang gadis menerima cinta dari sang pemuda pujaan hatinya.
Sementara tarian Tua Ret Lo’u ungkap Monika menceritakan tentang proses berperang dimana digambarkan saat pertama dimulai dari proses mengintai musuh. Ini digambarkan dengan gerak seorang lelaki saat berayun di bambu.
Sesudah terjadinya pertempuran dan musuh pun bisa dilumpuhkan, para pejuang tersebut bergembiar merayakannya. Kegembiraan ini kata Monika digambarkan dengan berteriak kegirangan seraya menghentakan kaki dan melambaikan tangan.
Menghidupkan Sanggar
Sanggar aslinya ungkap Monika sudah lama terbentuk sejak puluhan tahun lalu namun susah mulai mati. Ketika didengar informasi akan diadakan pentas budaya, kata Monika, dirinya berinisiatif membentuknya kembali akhir Maret 2016. Dirinya merekrut perempuan sebanyak 20 orang dan 4 orang lelaki dimana 3 orang lelaki dewasa dan seorang anak-anak.
“Budaya kita kandi setiap acara baik ritual adat, pesta nikah dan lainnya harus ada tarian juga sehingga saya berpikir menghidupkan kembali sanggar agar tarian daerah yang diwariskan pendahulu kami tidak dilupakan,” papar Monika.
Monika melatih anak-anak selama seminggu. Karena sudah biasa menari sehingga anak-anak ini ucap Monika, tidak sulit diajari gerakan tari. Anak-anak yang masih duduk di bangku SD hingga SMA tersebut selama 3 kali seminggu melaksanakan latihan. Seminggu menjelang pentas,lanjut Monika,latihan dilaksanakan tiap hari saat sore hingga malam hari karena anak-anak masih sekolah.
“Anak-anak sangat semangat sehingga saya juga tertarik untuk hidupkan kembali sanggar dan mulai berlatih,” terangnya.
Mohon Bantuan
Fastina Kartini, seorang remaja putri yang menjadi anggota sanggar saat ditemui Cendana News usai pementasan mengaku tertarik bergabung dengan sanggar karena memiliki kemauan untuk menari. Kartini mengakui, sejak usia sekolah dasar sudah berlatih menari tarian tradisional sehingga tidak merasa sulit menarikan tarian meskipun merupakan tarian kreasi baru atau tarian traisional asli.
“Saya senang ikut sanggar dan berlatih tari bersama teman-teman.Kalau saat pentas penonton bertepuk tangan dan puas maka saya merasa senang dan bangga bisa menarikan tarian daerah dengna baik,” tutur Kartini.
Mama Monika usai wawancara mengeluhkan minimnya perhatian dari pemerintah terhadap perkembangan sanggar-sanggar yang ada di desa-desa. Dikatakan Monika, sanggarnya saat ada pementasan harus meminjam alat musik Gong Waning dan juga kostum tari.
“Kami harapkan pemerintah bisa membantu kami alat musik dan kostum dan member kesempatan kepada kami untuk tampil sehingga ada pemasukan dana untuk membiayai sanggar kami,” ungkap Monika.
Monika pun sedikit berpromosi menyampaikan bahwa sanggarnya selalu siap bila diundang tampil dimanapun. Monika juga mengaku akan terus membimbing anggota sanggar berlatih meningkatkan kemampuan menari dan meminta masukan dari para tetua dan ahli tari agar kwalitas tarian yang dibawakan semakin meningkat.
Kepada para generasi muda, Monika menyampaikan agar anak-anak muda harus mencntai seni budaya daerah sendiri dan tetap semangat menggali dan memprkenalkan budaya kita sendiri.Semkin banyak orang mencintai dan mengahrgai seni budaya daerah, maka sanggar-sanggar yang ada akan berkembang dan menjadi besar. Untuk bisa bertahan ujar Monika,anggota harus memiliki jiwa dan semangat yang sama meski uang yang diterima hanya seberapa saat diminta pentas.
“Jangan merasa malu dan gengsi bila mengenakan tenun ikat dan menari atau menyanyikan lagu daerah kita.Kalau bukan kita yang menghidupkan dan memperkenalkannya tidak mungkin orang luar akan memperhatikannya,” pesan Monika mengakhiri obrolan.