KAMIS, 7 APRIL 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: ME. Bijo Dirajo / Sumber foto : Ebed De Rosary
MAUMERE — Agatha Trisnawaty (25), atlit nasional pencak silat Perisai Diri (PD) asal Sikka-Maumere, Nusa Tenggara Timur peraih medali emas kejuaraan dunia pencak silat di Jakarta tahun 2010 silam merasa ditelentarkan. Bahkan Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga seperti di abaikan oleh pemerintah setempat.
![]() |
| Agatha Trisnawaty atelt yang meraih medali emas kejuaraan dunia pencak silat tahun 2010 |
Surat rekomendasi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Nomor.0275 tahun 2010 kepada Pemkab Sikka untuk mengangkat Agatha menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), hingga kini belum kunjung dilaksanakan. Padahal Agatha termasuk dalam kriteria yang tertulis dalam surat menteri tersebut Bab III pasal 4 point g 1 terkait persyaratan, disebutkan atlet memiliki prestasi nyata dengan medali baik di tingkat nasional maupun internasional pada Asian Games, Olimpiade, Kejuaraan Asia/Dunia Senior cabang olahraga yang merupakan kalender tetap dan resmi oleh federasi internasional cabang olahrga minimal juara III/medali perunggu.
Hal ini disampaikan orang tua Agatha , Prisilia Seli dan Yosep Tarsisius Tulu kepada Cendana News, Rabu (6/4/2016) malam di rumahnya yang sederhana di Perumnas Maumere. Prisilia juga menambahkan, dalam surat keputusan Program Indonesia Emas Nomor 26 tahun 2010 juga nama Agatha tercantum di nomor 22 dari 35 atlet dan pelatih berprestasi dan meraih Emas pada Kejurnas 2010.
“Agatha hanya mendapat sebuah rumah tipe 36 di Kupang dan uang 10 juta rupiah dari Gubernur NTT. Pemkab Sikka juga memberikan uang 10 juta rupiah yang mana semua ini diberikan usai Agatha menyabet medali perunggu pada PON XVIII di Riau,” terang Prisilia.
Disebutkan, saat mengikuti kejuaraan dunia pencak silat tidak ada pengurus pencak silat baik dari kabupaten Sikka maupun dari provinsi NTT yang mendampingi Agatha. Selama di karantina, Agatha harus berjuang sendiri hingga bisa masuk ke babak final.
“Dua hari sebelum bertanding Agatha telepon saya sambil menangis meminta agar saya dan bapanya ke Jakarta mendampingi dia saat bertanding di final,” ungkap Prisila menahan sedih.
Karena tidak memiliki uang, dirinya membuat proposal permohonan bantuan dana dan menghadap langsung ke Bupati Sikka, Sosimus Mitang. Bupati Sosimus membuat disposisi ke bendahara agar dilayani sesuai ketentuan tapi tetap tidak diberikan bantuan dana juga. Bendahara saat itu malah menyuruh kedua orang tua Agatha jangan berangkat ke Jakarta.
“Saya katakan bapak tidak pernah merasakan melahirkan anak, saya seorang ibu anak saya perlu dukungan,” beber Prisila.
Di depan bendahara tersebut beber Prisila dirinya mengatakan guna memberikan motivasi kepada anak. “Walau Pemda Sikka tidak membantu kami, sebagai orang tua kami berusaha sendiri,”sebutnya.
Dan malam itu lanjut Prisila mereka meminjam uang dan langsung membeli tiket pesawat untuk berangkat ke Jakarta. Memang sudah ada disposisi dari bupati Sikka namun kedua orang tua Agatha tidak diberikan uang sepeser pun.
![]() |
| Kedua orang tua Agatha Trisnawaty di rumah sederhananya di Peumnas Maumere |
Untuk diketahui, Agatha menyabet medali emas kejuaraan dunia pencak silat tahun 2010 kategori tunggal putri mengalahkan atlet Brunai, Malaysia dan Thailand.Agatha meraih poin tertinggi dibandingkan pesaingnya Vu Thi Thao asal Vietnam yang pada semifinal meraih poin tertinggi. Pesilat Vietnam ini hanya berada di posisi kedua. Posisi ketiga ditempati pesilat Brunei Darusalam, Nurleyerman Bte Hj. Raya.
