SABTU 16 APRIL 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: ME. Bijo Dirajo / Sumber foto : Ebed De Rosary
MAUMERE — Mengambil tempat di aula gedung Paroki Habi, Jumat (15/4/2016) pemuda desa Langir menggelar pentas budaya mengusung tema ‘budayaku identitasku’. Pentas budaya yang berlangsung sejak sore hingga malam hari ini dimeriahkan sanggar dari pelajar TK, SD, SMP dan SMA hingga orang dewasa.
![]() |
| Tarian Togo dikolaborasikan dengan tarian Hegong |
Ketua panitia kegiatan pentas budaya, Ignasius Asa Fedo dalam sambutannya menjelaskan, kegiatan ini terkesan mendadak dan persiapannya cuma seminggu dengan dana yang terbatas. Meski begitu, anak-anak muda tetap semangat karena prihatin melihat minat generasi muda di desa Langir dan kabupaten Sikka terhadap budaya lokal semakin menurun.
“Dengan pentas budaya ini kami ingin menggugah generasi muda untuk kembali mencintai budaya lokal warisan nenek moyang.Kita tetap hidup di jaman modern namun jangan melupakan budaya lokal,” ungkap Ignasius.
Ignasius menambahkan, pentas budaya ini juga selain melibatkan pemuda desa Langir, juga melibatkan Orang Muda Katolik (OMK) paroki Habi, pemuda desa habi serta pihak desa Langir dan Habi bersama BPD. Pentas budaya ini mendapat dukungan pihak sekolah yang ada di desa Langir, pengurus gereja serta seniman yang ada di kedua desa.
Oscar Mandalangi Parera, sejarahwan dan budayawan kabupaten Sikka yang diundang hadir, dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan ini. Meski masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan seperti tata panggung, tata lampu dan dekorasi panggung, Oscar memakluminya mengingat waktu persiapan yang sangat terbatas.
“Kita harus akui, meski ada kekurangan kaum muda desa Langir memiliki semangat untuk menghidupkan budaya lokal dengan menggelar pementasan ini. Ini suatu niat baik yang perlu mendapat apresiasi positif.” Sebut Oscar.
Untuk bisa eksis pesan Oscar, seniman dan sanggar harus banyak mengikuti pementasan dan unjuk kebolehan. Dengan begitu lanjutnya, sanggar-sanggar yang ada bisa belajar melihat kekurangan dan menimba ilmu dari sanggar lain. Jika memiliki mimpi tampil di penats nasional pesan Oscar, sanggar harus mulai merebut tempat di kabupaten, provinsi hingga bisa mengikuti pentas di tingkat nasional.
“Tentu banyak hal yang perlu dibenahi namun harus dimulai bila ada mimpi ke arah sana. Wakil dari desa Langir harus tampil saat Tour de Flores di arena pesta rakyat untuk membuktikan bahwa sanggar seni budaya di Langir masih eksis,” tantang Oscar.
Hal senada juga disampaikan kepala desa Langir, Yohanes Ardiyanto Andale dan camat Kangae, Yohanes Yanto Koliwon. Menurut kades Langir, pihak desa sangat mendukung saat diutarakan keinginan menggelar acara ini.
Desa Langir sebut kades Yohanes, memiliki banyak sanggar namun belum dikenal karena tidak rutin melakukan pementasan dan diundang. Pihak desa tambah kades muda ini akan mensuport dana bagi pegembangan sanggar-sanggar yang ada.
Yanto selaku camat Kangae juga menantang sanggar-sanggar yang ada untuk bisa unjuk gigi di kabupaten.Dikatakan Yanto,selama ini yang sering dipakai dan diundang Pemda Sikka tampil saat menyambut tamu dan pagelaran hanya sanggar yang sama saja. Ini terjadi beber Yanto karena disiplin dari sanggar lainnya masih sangat kurang.
“Tamu datang jam 7 sanggarnya malah datang jam 8.Jika seperti ini maka otomatis sanggar tersebut tidak akan dipercaya. Disiplin ini penting selain terus mengasah keterampilan,” terang Yanto.
Pentas budaya dibuka dengan penampilan sanggar Bunga Blutuk Puhun Bletak dari SDI Habi dengan menyanyikan lagu daerah Oh Ina Nona dan Bunga Le Iha disertai gerakan tari yang dilanjutkan dengan suguhan tarian Kang Tou Wetak yang membuat penonton tertawa dari anak-anak TK Primantari.
Pementasan dilanjutkan dengan permainan suling dari sanggar milik SDK Habi yang dilanjutkan dengan tarian Ikun Beta dan Tua Reta Lo’u suguhan sanggar Nibon Klibok desa Langir.Selanjutnya ditampilkan tarian Togo kolabrasi Hegong dilanjutkan tarian Hegong.
Tampil juga suguhan musik gambus dengan mempersembahkan lagu Wohe Ba’a Wohe Walong dan diakhiri dengan kolaborasi tarian dan suling umum yang dibawakan sanggar Wajong Elat dan Weni Wair. Acara ditutup dengan pelelangan lagu dan tarian dari sanggar tersebut.
Disaksikan Cendana News, pementasan budaya mendapat apresiasi dan mampu memberikan suguhan hiburan alternatif di tengah minimnya pertunjukan seni budaya lokal di kabupaten Sikka. Penonton yang hadir bukan saja dari murid dan siswa sekolah namun warga kedua desa serta biarawan-biarawati yang tertarik menari bersama saat penutupan pementasan ini.