KAMIS, 7 APRIL 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA — Musim pancaroba tahun ini, tak hanya menyebabkan bencana longsor dan banjir. Namun, juga menyulitkan para pembudidaya benih ikan nila. Pasalnya, cuaca tak tentu dan ekstrim membuat benih ikan nila mati, sehingga produksi turun separuh lebih dari biasanya.
![]() |
| Indukan Nila |
Bogeng, salah satu pembudidaya benih ikan nila di desa Selomartani, Kalasan, Sleman ditemui Kamis (7/4/2016) mengatakan, jika pada cuaca normal, satu indukan ikan nila mampu menghasilkan sekitar 4.000 bibit ikan nila. Namun, di musim pancaroba ini hanya mampu menghasilkan sekitar 250-300 bibit. Kondisi demikian tentu saja membuat para petani benih ikan nila merugi.
Disebutkan, menurunnya produksi benih ikan nila yang disebabkan oleh musim pancaroba tersebut, belum bisa diatasi, dan dialami oleh para petani benih ikan nila di lain daerah. Karenanya, benih ikan nila menjadi langka dan sedikit mengalami kenaikan harga.
“Bahkan, akibat minimnya benih ikan nila itu membuat para pembudidaya ikan nila dari dari daerah lain datang ke sini. Misalnya, dari Wonogiri Jawa Tengah. Dikiranya di sini stok melimpah, tapi ternyata sama saja, langka”, ungkapnya.
![]() |
| Bogeng |
Sejak tiga tahun lalu, Bogeng menekuni bidang pemijahan atau pembenihan ikan nila. Dengan kolam seluas 800 meterpersegi, biasanya Bogeng menebarkan sebanyak 400 indukan ikan nila. Sementara itu, untuk harga jual benih ikan nila saat ini sebesar Rp. 25 perekor.
Bogeng berharap, agar ada solusi baru untuk menghadapi dampak negatif musim pancaroba terhadap pembenihan ikan nila. Ada pun sementara ini, solusi yang bisa dilakukannya hanya bisa mengurangi jumlah kematian benih dengan cara memberikan antibiotik dan vitamin.
