Museum Pencak Silat Indonesia, Jalan Terjal Sang Pengawal Peradaban

SABTU, 30 APRIL 2016
LIPUTAN KHUSUS TMII —- Dewasa ini, semua Museum di Indonesia berlomba untuk melakukan pembenahan lebih serius. Program Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dengan tagline Pesona Indonesia dan Wonderful Indonesia menjadi salah satu pemicu pengelola museum,  baik swasta maupun milik pemerintah provinsi untuk memperbaiki kondisi museum agar lebih nyaman untuk dikunjungi, melengkapi koleksi benda-benda langka bersejarah, demi menarik perhatian pengunjung sekaligus menjadi nilai tambah bagi museum untuk dikunjungi masyarakat.


Hal itu turut dilakukan oleh Museum Pencak Silat Padepokan Pencak Silat Indonesia Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang sudah ada sejak padepokan diresmikan pertama kali pada tahun 1997. Perlu waktu cukup lama untuk melakukan perbaikan. Bukan sekedar tambal-sulam, melainkan renovasi menyeluruh dari bangunan sampai koleksi-koleksi benda menarik dan bersejarah yang ada didalamnya. 
Perbaikan menyeluruh yang dilakukan ternyata disebabkan oleh hewan kelelawar kecil. Staf Museum bernama Samsul mengisahkan, malapetaka berawal dari beberapa tahun silam,  ketika pegawai museum sebelumnya kurang memperhatikan keadaan museum yang menurut mereka sudah sepi dan ditinggalkan pengunjung. Museum kerap ditutup dan dibiarkan kosong. Akibatnya, kawanan hewan kelelawar yang ditengarai hijrah dari salah satu anjungan provinsi di area TMII perlahan hijrah dan menjadikan atap bangunan museum sebagai sarang. Dari dua ekor, berkembang menjadi sepuluh ekor, sampai akhirnya mencapai ribuan ekor.
“Saat pertama kali diserahi tanggungjawab untuk memperbaiki sekaligus mengelola Museum Pencak Silat Indonesia, saya sempat sedih, keadaannya begitu kumuh, kotor, dan menimbulkan bau tidak sedap akibat kotoran kelelawar  yang memenuhi plafon hingga jatuh ke lantai sampai setebal satu jengkal jari orang dewasa,” kenang Samsul.
” Sempat terlintas di benak kami, jika Ibu Tien masih hidup dan melihat keadaan ini, beliau akan sedih menyaksikan amanat yang diberikan tidak dijaga dengan baik,” sambung Samsul.
Samsul menemani Cendana News berkeliling museum untuk menunjukkan keadaan langit-langit atap bangunan yang sudah dibongkar dan dibersihkan. Walau begitu, masih tetap nampak bekas-bekas kotoran hewan baik di tembok maupun kerangka langit-langit bangunan. Setelah itu, Samsul mengajak  untuk melihat ke lantai dua Museum Pencak Silat Indonesia. Melewati anak tangga, pandangan kami tidak pernah lepas dari rangkaian jurus-jurus Pencak silat yang terpatri rapih di tembok. Sudah agak buram, namun dengan keadaan tersebut ternyata memberi kesan vintage layaknya mengunjungi suatu tempat antah berantah yang baru ditemukan. 
Tiba di lantai dua, sebuah pemandangan yang cukup langka terpampang didepan kami semua. Kami merasa layaknya tim arkeologi yang terkagum-kagum akan sebuah penemuan sejarah maha penting. Keadaan yang layak kami sebut sebagai ‘Sejarah Peradaban Yang Hilang’. Diawali dengan sebuah patung pendekar Pencak silat seolah menyambut kedatangan setiap tamu yang berkunjung. Di tengah ruangan berdiri kokoh dan berdebu Monumen Ilmu Padi dengan ukiran filosofi kuat dibawahnya ” Makin berisi, makin merunduk. Panduan sikap setiap pesilat, dalam tampilan sosok setiap pendekar sejati “
Monumen tersebut dikelilingi beberapa lemari kaca berisi koleksi senjata-senjata pusaka tradisional khas seni beladiri Pencak silat di Indonesia. Buramnya kaca tidak mampu menutupi keinginan Cendana News untuk terus menilik benda-benda pusaka di dalamnya. Keris Jawa tengah dan Yogyakarta, Belati Sumatera barat, Mandau tradisional suku Dayak Kalimantan Tengah, Rencong Aceh, Pedang Nias, dan Golok khas Betawi. Benda-benda pusaka tersebut tampak elegan dengan ukiran-ukiran khas baik di sarung maupun tubuh senjata.
Sekeliling ruangan diisi dengan sejarah perjalanan Pencak silat di Indonesia, mulai dari awal ditemukan berdasarkan kajian mendalam sejak zaman prasejarah sampai perkembangan Pencak silat menembus dunia internasional. Sejarah lahirnya kata Pencak silat, terbentuknya Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), pembentukan PERSILAT atau Persekutuan Pencak SIlat Antar Bangsa, sampai kajian menarik terkait kata Pencak Silat yang secara garis besar ternyata merupakan perpaduan kata umum antara wilayah barat dan timur nusantara.
Di pojok kanan ruangan museum terdapat sebuah ruangan kaca yang berisi berbagai peralatan musik tradisional tanah Lombok Nusa Tenggara Barat untuk mengiringi Seni Beladiri Perisaian khas tradisi suku Sasak. Perisaian itu sendiri adalah seni beladiri dengan menggunakan sebatang rotan (dalam bahasa sasak ; penjalin) sebagai senjata dengan perisai berbentuk persegi empat terbuat dari kulit rusa atau kulit sapi betina (disebut Ende) sebagai pelindung. Keterampilan ini warisan alami turun temurun masyarakat, sebagai sebuah permainan rakyat yang kemudian berkembang dalam bentuk yang lebih terorganisir,  berupa pertandingan yang diselenggarakan dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten sampai se-Pulau Lombok. Perisaian terbilang ekstrim karena merupakan adu keterampilan beladiri dengan menjadikan bagian kepala sebagai target utama. Pemenangnya adalah jika salah satu kontestan dengan telak dapat memukul lawan dibagian kepala (dagu ke atas) sampai meneteskan darah. Petarung Perisaian dengan keterampilan mumpuni  diberi gelar “Pepadu” atau disebut Petarung. Seseorang dengan gelar Petarung harus siap menerima setiap tantangan lawan tanpa pandang bulu. Terbentuknya ketahanan fisik seorang petarung tergolong alami cenderung unik, karena umumnya dilakukan seiring dengan kegiatan fisik sehari-hari sebagai seorang petani, yakni ; mencangkul, menebang pohon, membelah kayu, memanggul beban berat, dan kegiatan-kegiatan lainnya. 
Koordinator museum, Adi Ariyono,SE mengatakan, kajian serta pelestarian perangkat Perisaian sudah ada sejak awal museum berdiri. Begitu juga dengan sebagian besar koleksi museum lainnya.
” Bahkan koleksi yang ada di sini belum tentu ada di anjungan-anjungan provinsi setiap daerah di dalam Taman Mini Indonesia Indah. Mungkin disebabkan karena museum ini merupakan museum khusus Seni beladiri Pencak silat,” terangnya.
Koleksi yang dimaksud Adi adalah mulai dari sejarah Pencak silat dan deretan senjata-senjata tradisional berbagai provinsi di Indonesia. Masing-masing provinsi memiliki beberapa varian senjata tradisional yang terbagi dalam beberapa jenis senjata mulai pisau, belati, kering, pedang, golok, dan tombak. Berikut daftar umum koleksi senjata tradisional milik Museum Pencak silat Padepokan Pencak Silat Indonesia yang berhasil diabadikan oleh Cendana News ;
1. Rencong, Aceh
2. Sewar Berbilah Melengkung, Sumatera Barat
3. Sakin Berbilah Lurus, Sumatera Barat
4. Senjata Timor, sejenis pedang pendek
5. Karambit Kuku Harimau, Bengkulu
6. Arit, Jawa Timur
7. Keris Nusa Tenggara Barat
8. Parang Ublakas Toraja, Sulawesi Selatan
9. Tongkat Tradisional
10. Nume, Nusa Tenggara Timur
11. Lopu, Maluku
12. Badik, Sulawesi Selatan
13. Peudeung, sejenis Pedang Aceh
14. Kelewang, Riau
15. Parang Tradisional
16. Badik Bugis, Sulawesi Selatan
17. Rontegari, Jawa Tengah
18. Kelewang Jawa Tengah
19. Mentawa, Jawa Tengah
20. Parang Banjau, Sulawesi Tengah
21. Kelewang Jambi
22. Cacing Bermata Ganda, Jawa Tengah, 
23. Sikim Gala, Aceh
24. Gaduboeng, Aceh
25. Labo Balenge, Sulawesi Selatan
26. Jono Batak, Sumatera Utara
27. Raut Batak, Sumatera Utara
28. Keris Balengko, Aceh
29. Lemeng, Jawa Tengah
30. Keris Berbilah Lurus tradisional
31. Larbango, Jawa Timur
32. Renkepot, Jawa Tengah
33. Halasan, Aceh
34. Golok Madura, Jawa Timur
35. Bodik, Jawa Tengah
36. Sepa, Jawa Tengah
37. Topeng Kudak, Aceh
38. Clurit, Jawa Timur
39. Piso, Sulawesi Selatan
40. Kwanto, senjata beladiri Kuntau dari Melayu
41. Belati Minangkabau
42. Belati Beladeu tradisional
43. Arit Lancar, Jawa Timur
44. Keris Sele, Sulawesi Tenggara
45. Piso Lampakan, Sulawesi Selatan
46. Karis, Jawa Timur
47. Loewoek, Jawa Tengah
48. Berang, golok tradisional
49. Todo, Maluku
50. Tigar, Jawa Tengah
51. Parang Pulau Ragi
52. Pisau Kerbau Toraja, Sulawesi Selatan
53. Labo Topeng, Sulawesi Selatan
54. Pisau Engkat, Sulawesi Selatan
55. Tolaki, Sulawesi Tenggara
56. Parang Banjau, Sulawesi Tengah
57. Tombak Lada Sumatera
58. Kapak Batak, Sumatera utara
Miniatur Gelanggang pertandingan Pencak silat, baik nasional maupun internasional,  turut dipamerkan, untuk memperkenalkan olahraga Pencak silat. Di sisi miniatur gelanggang pertandingan Pencak silat, turut diletakkan Hall of Fame Ketua umum (Ketum) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) beberapa generasi, mulai dari Ketum IPSI periode 1948-1973 MR.Wongsonegoro, Ketum IPSI periode 1973-1981 H.Tjokropranolo, Ketum IPSI periode 1981-2003 H.Eddie M.Nalapraya, Ketum IPSI periode 2003-2011 H.Prabowo Subianto, dan Tokoh Pencak silat Indonesia yaitu Rosano Barack.
Pengurus Museum Pencak silat Padepokan Pencak Silat Indonesia, saat ini memiliki tantangan sangat besar untuk membangkitkan gairah museum. Perbaikan gedung, peremajaan koleksi museum, melengkapi buku-buku inventaris perpustakaan, sampai pembuatan website khusus sudah digarap. Namun masih terkendala pendanaan. Pengumpulan dana dilakukan oleh pengelola Padepokan Pencak Silat Indonesia dengan mengandalkan pemasukan sewa tempat dari masyarakat untuk acara-acara tertentu. Namun semua itu dirasakan belum cukup memadai tanpa dibarengi sumber dana dari sektor lain.
” Kami mengerti, pembayaran gaji dan operasional padepokan merupakan prioritas, jadi sekarang tinggal menunggu pencairan subsidi dari Bimantara saja. Kami selaku pengelola museum sudah mengajukan angka yang dibutuhkan, tinggal menunggu perjuangan manajemen padepokan terkait permohonan dana tersebut,” jelas Adi Ariyono lagi kepada Cendana News.
” Namun terus terang secara pribadi, sedih menghadapi kenyataan museum berisi sejarah peradaban bangsa terbaring tanpa daya. Seolah Pencak silat perlahan dikuburkan oleh bangsanya sendiri. Kami rindu sosok Ibu Tien,” pungkas Adi sambil mengalihkan pandangannya ke sebuah foto besar yang berada tepat di sampingnya. 
Di bawah foto tersebut tertulis rapih alinea puisi : 
PADEPOKAN PENCAK SILAT INDONESIA
Tanpa Ibu, Padepokan ini takkan pernah ada
Tanpa Ibu, tempat ini hanyalah mimpi pesilat Indonesia
Kini diujung pembangunannya, Ibu pergi meninggalkan kami
Tapi, yakinlah Ibu,
Padepokan ini akan menjadi saksi, betapa besarnya sumbangsih Ibu,
yang kami takkan pernah mampu membalasnya.
Ibu, kami hanya dapat janji,
untuk memancarkan sinar keagungan Ibu, melalui karya dan karsa.
Melestarikan, membina, dan mengembangkan Pencak Silat
Warisan budaya bangsa kita
Rangkaian kata kenangan dan penghargaan tertinggi bagi seorang tokoh pemersatu Pencak Silat di Indonesia, yakni Ibu Tien Soeharto. Bagai seorang anak yang merindukan sosok Ibu dalam kehidupannya, begitu pula kerinduan mendalam para staf  museum ketika kenyataan yang dihadapi terasa berat untuk dilalui seorang diri. Butuh sosok Ibu yang memberikan kata menenangkan jiwa saat hati gundah, Ibu yang memberikan semangat saat tiada seorangpun yang perduli, serta sosok Ibu yang bisa memberikan jalan keluar terbaik bagi anaknya ketika titik terang tiada kunjung datang. 
Saat ini Museum Pencak Silat butuh penyelamat, yaitu  semua pihak yang pernah terlibat dalam pendirian sekaligus pelestarian Museum Pencak Silat Indonesia. Butuh pengorbanan besar untuk menyelamatkan sebuah peradaban bangsa, sama seperti saat membangunnya pertama kali. (Miechell Koagouw)
Lihat juga...