MINGGU, 3 APRIL 2016
Jurnalis: Zulfikar Husein / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Zulfikar Husein
ACEH — Sebagai daerah Serambi Mekkah, Provinsi Aceh juga dikenal sebagai salah satu daerah dengan pengekspor kopi terbaik. Kopi Aceh yang lebih dikenal dengan nama Kopi Gayo, menjadi salah satu kopi dengan citarasa khas yang di ekspor ke negeri Paman Sam.
![]() |
| Kopi Hitam |
Selain di ekspor, berbagai macam jenis kopi juga tersedia di Aceh. Sejumlah racikan kopi seperti espresso, capucino dan berbagai jenis kopi seperti Kopi Ulee Kareng menjadi ikon tersendiri di negeri yang dikenal memiliki banyak masjid ini.
Tidak hanya nama-nama kopi ternama yang diproduksi, salah satu kopi yang cukup populer di Aceh adala kopi hitam tradisional. Kopi ini sulit ditemukan di kedai kopi yang sudah lebih maju, seperti warung kopi yang menyediakan fasilitas wifi dan kebanyakan dihuni oleh anak-anak muda.
Kopi ini, menjadi salah satu ‘primadona’ dikalangan orang tua di Aceh. Kopi hitam tradisional ini juga hanya tersedia di kedai kopi di desa-desa, pasar-pasar tradisional, dan hanya ada di kedai kopi biasa dan sederhana. Tanpa wifi, dan biasanya juga tidak buka hingga 24 jam.
“Kalau di warung kopi yang ada wifi dan banyak anak mudanya, biasanya mereka pakai Kopi Ulee Kareng, kalau kopi tradisional seperti ini cuma ada di warung-warung biasa di kampung-kampung,” ujar Syarwan, salah seorang penjual kopi tradisional di Lhokseuamwe, Aceh, kepada Cendana News, Minggu (3/4/2016).
Katanya, kopi hitam tersebut terbuat dari bahan campuran antara kopi dan berbagai jenis bahan lainnya, seperti jagung dan beras. Cita rasanya juga tidak seperti kopi espresso yang murni kopi asli tanpa campuran.
Namun, kopi tradisional tersebut juga menjadi salah satu kopi nikmat yang amat disukai oleh kalangan tua.
“Tapi kopinya tetap nikmat, banyak orang tua di Aceh suka kopi hitam ini, selain nikmat, harganya juga lebih murah ketimbang kopi ulee kareng,” katanya.
Salah seorang penyuka kopi yang juga mahasiswa pasca sarjana Antropologi, Darmadi mengatakan, kopi hitam tradisional tersebut menjadi pilihan kalangan menengah kebawah.
“Kopi hitam tersebut harganya mudah dijangkau oleh kalangan menengah kebawah. Makanya penikmat kopi ini adalah petani, nelayan, pedagang-pedagang tradisional, orang-orang di desa dengan tingkat perekonomian mereka biasa-biasa saja,” kata Darmadi.
Namun, jika ada berniat menghabiskan waktu liburan anda di provinsi paling barat Indonesia, Aceh, tak ada salahnya memasukkan kopi hitam tradisional ini dalam daftar kuliner yang ingin cicipi. Anda akan temukan sensasi kenikmatan yang unik saat menyeruput nikmatnya kopi hitam tradisional ini.