MCK di Pasar Alok Dibiarkan Rusak

SELASA, 19 APRIL 2016
Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Rustam / Sumber Foto : Ebed De Rosary
MAUMERE – Pedagang dan pengunjung pasar Alok di Maumere mengeluhkan fasilitas kamar mandi, cuci, kakus (MCK) yang tidak berfungsi. Dari 28 kamar MCK yang dibangun dengan menggunakan dana APBD, hanya 7 yang bisa digunakan. 
Bangunan MCK di bagian barat Pasar Alok  hanya sebulan dipakai sudah rusak
Pasalnya, kamar MCK yang baru dibangun menghabiskan dana puluhan juta rupiah itu, hanya bisa dipakai beberapa hari saja.  Akibatnya, para pedagang dan pengunjung terpaksa harus antri buang air besar di 4 kamar water closet (WC) yang tersedia di sebelah timur dan 3 kamar di bangunan yang terletak di tengah pasar.
Meskipun 7 kamar WC masih bisa dipergunakan, tapi kondisinya sangat memiriskan. Saluran pembuangan airnya bermasalah, sehingga menyebarkan bau busuk dan becek di dalam ruangan.
Keluhan ini disampaikan Bernadus Lura dan Theresia Dua Bura,  pedagang yang ditemui Cendana News,Selasa (19/4/2016) di pasar Alok. Bernadus mengungkapkan, bangunan 4 buah kamar  WC di sebelah barat baru selesai dibangun akhir Desember 2015.Namun setelah dipakai, air keluar dari pipa pembuangan dan masuk ke lubang yang berada di belakang tembok bangunan di sebelah timur.
“Para pedagang ikan dan sayuran yang berada persisi di belakang bangunan protes sehingga WC tersebut hanya dipakai tidak sampai seminggu dan ditutup,”ujar Bernadus.
Selain itu bangunan WC dengan 6 kamar yang persis berhadapan dengan bangunan baru juga tidak berfungsi lagi. Bangunan tersebut pun tambah Bernadus kondisinya hampir sama, sebab belum sampai setahun dibangun lubang pembuangannya sudah penuh sehingga tidak bisa dipergunakan lagi.
“Kontraktor cuma kerja asal jadi saja yang penting dapat uang dan proyeknya selesai. Petugas pengawas proyeknya pun tidak mengontrol atau mungkin dikasih uang sehingga pekerjaan dianggap beres,” kata Bernadus kesal.
Hal senada juga disampaikan Theresia. Pedagang sayur ini kesal sebab harus berjalan sejauh sekitar 300 meter ke arah timur untuk bisa ke WC. Theresia mengakui, pedagang sering menggunakan kamar kecil di rumah penduduk  di luar areal pasar dengan membayar Rp 1.000.
“Tiap hari kami bayar retribusi Rp 1.000, tapi fasilitas tidak disiapkan. Kelihatan pengelola pasar tutup mata apalagi dinas, mereka hanya cari untung saja. Kami pakai WC di pasar juga bayar tapi kalau harus jalan jauh kasihan kami pedagang kecil ini. Kami cuma sendiri berjualan dan harus meninggalkan dagangan lagi,” ungkap Theresia dengan suara tinggi.
Menanggapi keluhan pedagang, Geradus Manyela, penjaga MCK yang ditemui Cendana News di pasar Alok menjelaskan, satu bangunan dengan dua kamar mandi sekaligus WC yang dibangun tahun 2012 juga sudah tidak bisa dipakai. Bangunan tersebut baru dibangun lalu 3 bulan, tapi sudah tidak bisa dipergunakn karena saluran lubang penampung kotorannya penuh. Dari 10 kamar di 3 bangunan di sebelah timur, yang bisa dipakai hanya 4 kamar saja. 
“Yang masih dipakai juga bermasalah, bapak bisa lihat sendiri, pipa paralon cuma ditanam 3 sentimeter dari lantai sehingga tidak lama pecah dan saya harus ikat sendiri pakai ban dalam bekas, karena kotorannya mengalir di lantai,” tutur Geradus.
Geradus berharap agar pengelola pasar dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sikka bisa memperbaiki bak penampung kotorannya.“Kalau cuma asal bangun saja kasihan, karena paling lama tiga bulan dipakai terus terlantar lagi. Kami petugas yang jaga ini sengsara sekali,”sebut Geradus.
Lihat juga...