Keluarga Korban Sandera Milisi Belum Pernah Disambangi Perusahaan

SENIN, 25 APRIL 2016
Editor : Rustam Djamaluddin
SOLO — Sutomo, ayah Bayu Oktavianto salah seorang  anak buah kapal (ABK), asal Desa Mendak, Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, yang disandera milisi Filipina, kelompok Abu Sayyaf, menyayangkan pihak perusahaan tempatnya bekerja. Pasalnya, hingga hampir satu bulan ke sepuluh ABK itu disandera, pihak perusahaan sama sekali belum pernah mengunjungi ke rumah keluarga ABK secara langsung. 
“Seharusnya jika perusahaan benar-benar tanggung jawab, setidaknya ada perwakilan yang datang ke rumah korban,” ujar Sutomo saat ditemui Cendana News, di kediamannya Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, Senin siang (25/4/16). 
Dikatakan bapak Bayu Oktavianto, perusahaan selama ini hanya melakukan komunikasi kepada keluarga ABK melalui pesawat telepon. Menurutnya, komunikasi melalui pesawat telepon kurang efektif untuk memberikan rasa kemantapan bagi keluarga ABK yang ada di rumah.
Tidak adanya perwakilan perusahaan yang datang langsung ke rumah ABK, membuat keluarga korban merasa tidak diperlakukan dengan baik. “Dengan datang langsung, keluarga merasa lebih tenang, tanggung jawab perusahaan sebagai tempat kerja juga terlihat. Dengan datang langsung kami keluarga juga merasa dimanusiakan,” jelasnya. 
Yang sangat disayangkan pihak keluarga, hingga detik ini Manager Perusahaan yang seharusnya paling bertanggung jawab dengan keselamatan ABK, belum pernah menghubungi keluarga korban. “Hanya bagian personalia perusahaan yang selama ini kasih kabar soal anak saya. Sedangkan Managernya, belum pernah sama sekali berbicara dengan keluarga,”  keluhnya. 
Dengan tatap muka langsung, tambah Sutomo, bisa memberi kepuasan tersendiri bagi keluarga ABK. Satu hal ingin ditanyakan kepada pihak perusahaan, jika berhadapan langsung. Yakni alasan negosiasi perusahaan yang sampai saat ini belum juga selesai. “Sebenarnya proses negosiasinya bagaimana, kalau belum selesai apa yang menjadi kendala, pihak perusahaan atau dari kelompok Abu Sayyaf. Perusahaan sendiri mengatakan jika uang tebusan sudah siap, lantas apa kendalanya,” tekannya. 
Sejak disandera kelompok Abu Sayyaf, keberadaan Bayu sangat dirasakan keluarga. Sebab, Bayu menjadi tulang punggung keluarga, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sangat dirasakan keluarga yang di rumah. “Jujur anak saya memang menjadi tulang punggung keluarga, jadi ya sangat dirasakan kalau tidak ada,” tambahnya. 
Diakui Sutomo, selain belum pernah mengunjungi keluarga korban, perhatian perusahaan terhadap keluarga ABK yang disandera juga minim. Hampir sebulan, keluarga korban mengaku sama sekali tidak mendapat bantuan, baik dari perusahaan maupun pemerintah. 
“Belum ada sama sekali bantuan dari perusahaan maupun pemerintah. Kataya gaji untuk bulan April ini akan diberikan kepada keluarga, tapi kapan juga belum ada kejelasan,” pungkasnya. (Harun Alrosid)
Lihat juga...