Kelompok Toran Jo, Memupuk Persaudaraan Demi Kesejahteraan Bersama

KAMIS, 21 APRIL 2016
Jurnalis : Ebed De Rosay / Editor : Rustam / Sumber Foto : Ebed De Rosary
MAUMERE- Kelompok Toran Jo yang berada di Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), bisa menjadi inspirasi bagi kaum perempuan di Indonesia. Perjuangan meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga, bukan hanya tanggungjawab kaum laki sebagai kepala rumah tangga, tapi menjadi tanggungjawab bersama.
 Yuliana Eda Kolin 
Kelompok Toran Jo terbentuk pada tahun 2009. Pelopor pendirinya adalah Yuliana Eda Kolin atau yang kerap disapa Jely. Perempuan ini pernah bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Pengalaman bertahun-tahun di Malaysia kemudian ingin dibagikan kepada masyarakat desa tempat Jely tinggal. Kisah perjuangan Jely membangun kelompok Toran Jo dilaporkan wartawan Cendana News sebagai bahan inspirasi, bahwa keterbatasan bukan halangan untuk mengejar mimpi demi meraih kesejahteraan. 
Ibarat sapu lidi, disatukan dalam sebuah ikatan membuatnya bisa dipergunakan menyapu. Toran Jo pun menganut filosofi sapu lidi ini. Bergabung dan membentuk kelompok menjadikan pekerjaan berat menjadi ringan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing melebur dalam semangat para perempuan pekerja keras ini. 
Nama kelompok Toran Jo bagi masyarakat Desa Konga, Kecamatan Titehena Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah tidak asing lagi.  Kelompok yang terdiri dari para mantan buruh migran dan keluarga buruh migran ini begitu solid. Selain memiliki usaha simpan pinjam, kelompok ini juga mencari dana untuk kas kelompok dengan melakukan berbagai pekerjaan secara bersama – sama. 
Salah satu kegiatan yang pernah dilakukan yakni membuat saluran irigasi.
Bagi Yuliana Eda Kolin atau yang kerap disapa Jely, ilmu yang didapatkannya selama dua tahun bekerja sebagai pembantu penata laksana rumah tangga di Kuala Lumpur, Malaysia,  harus diterapkan di tanah kelahirannya.
Dirinya merasa terenyuh melihat para perempuan mantan buruh migran banyak yang hidup susah sekembalinya dari tanah rantau. Berangkat dari keinginan ini, saat ada program pendampingan dari sebuah lembaga swadaya masyarakat,  dirinya memberanikan diri mengumpul kaum perempuan di desanya dan bergabung dalam sebuah kelompok.
Berjalan Bersama
Nama Toran Jo ungkap Jely saat bersua Cendana News di Desa Konga,Sabtu (9/4/2016) diambil dari bahasa Nagi ( Larantuka ) yang artinya,  kami saja atau cuma kami.  Makna luasnya, jelas Jely, Toran Jo artinya kami sama – sama, kami satu dalam lingkaran saudara, jangan kan orang lain kami saja bisa.
Anggota Toran Jo
Nama ini terlintas saat ada program pemberdayaan buruh migran di daerah asal. Pemberdayaan perempuan yang didanai sebuah lembaga asing masuk ke Konga. Saat ditawari, Jely langsung menerima.  Jely mengumpulkan para perempuan mantan buruh migran untuk berkelompok.
“ Kalau mau maju,  para perempuan harus bersatu dan saling mendukung. Dengan berkelompok,  kami akan menjadi kuat dan bisa saling memotivasi meraih mimpi kami,“  ujar ibu dari 3 anak ini penuh semangat.
Kelompok yang dibentuk tanggal 27 September 2009 ini, awalnya beranggotakan 45 orang.  Tapi saat ini hanya tersisa 27 orang. Dari jumlah tersebut, tercatat 25 orang perempuan dan 2  laki – laki. Satu dari laki – laki tersebut merupakan suami dari Jely sendiri.
Menurutnya, dengan bergabungnya suami di dalam kelompok, Jely ingin menunjukan kepada masyarakat, bahwa dengan berkelompok dan bekerja bersama, semua mimpi bisa dicapai. Anak – anaknya pun kadang diajak ikut kerja kelompok.
Saat disambangi dalam sebuah kegiatan, terlihat dua perempuan anggota kelompok mengenakan kerudung. Menurut  Jely, kelompoknya terbuka bagi siapapun yang ingin bergabung.
Bahkan lanjutnya, anggota tertua kelompok mama Siti Hajah berusia 60 tahun lebih tetapi tetap semangat mengikuti kegiatan kelompok. Meski berumur di atas setengah abad,  mama Siti panggilannya tetap bertahan bergabung di kelompok ini yang didominasi kaum perempuan berumur di atas 30 tahun. 
Bangun Irigasi
Selain bekerja secara berkelompok di sawah milik anggota, maupun di sawah petani lainnya di areal persawahan Desa Konga, kelompok ini juga pernah bekerja membangun saluran irigasi dua tahun silam. Saluran irigasi sawah sepanjang 500 meter dengan tinggi 30 sentimeter merupakan proyek dari Dinas Pertanian Kabupaten Flores Timur. Proyek itu  dikerjakan Toran Jo,  setelah semua kelompok tani di Desa Konga, termasuk badan usaha yang ditawari,  menolak pekerjaan tersebut. 
Banyak yang menyindir Toran Jo dengan mengatakan mereka hanya kerja bakti saja, tak mungkin dapat untung. Tak disangka, dari dana Rp 50 juta,  mereka bisa mendapat sedikit keuntungan untuk kas kelompok.
“ Kami hanya ingin tunjukan, kami bisa melakukannya secara gotong royong. Dengan kerja yang baik, nama kami bisa harum dan selalu jadi prioritas bila ada bantuan, “  tutur suami dari Daniel Adu.
Saluran irigasi di pinggir jalan negara dikerjakan awal Juni 2014 lalu, sampai saat ini masih bagus dan sudah dipergunakan saat dicek Cendana News. 
Jely menjelaskan, para perempuan anggota kelompok tak sungkan mengangkat pasir dan batu, mengaduk campuran bahkan ikut bekerja sebagai tukang batu.
Toran Jo dibantu seorang tukang batu yang diberi upah,  sementara para anggota beber Jely, awalnya diberi upah setiap hari. Tetapi berdasarkan kesepakatan bersama, akhirnya dua hari kerja hanya dibayar sekali dan upah kerja sehari masuk ke kas kelompok. 
Kekompakan dan hasil kerja yang baik,  membuat Toran Jo mendapat bantuan satu unit hand tractor  yang disewakan dan bisa menambah kas kelompok.
Toran Jo juga sambung Jely juga dapat bekerja menanam dan panen padi di areal sawah milik anggota atau petani lain. Untuk anggota, setelah selesai kerja, anggota tersebut harus memasukan dana 20 ribu ke kas kelompok. Sementara yang bukan anggota,  dananya dibagikan ke anggota dan sisanya dimasukan ke kas kelompok.
Saat ini beber Jely, kelompok Toran Jo sudah mempunyai dana kelompok dan dana tersebut digulirkan kepada anggota melalui pinjaman. Setiap anggota atau pengurus yang mengikuti kegiatan pertemuan atau pelatihan di luar desa, akan diberikan uang makan dan transport bila pihak pengundang tak menyediakannya.
Kepala Desa Konga
Eksisnya Toran Jo yang awalnya merupakan kelompok buruh migran dan kini berkembang menjadi kelompok tani, tentunya tak lepas dari sosok Jely sang ketua yang dipercaya memegang tampuk pimpinan sejak awal terbentuk.
Perempuan kelahiran Konga,  23 Maret 1975 ini merasa bersyukur,  sebab selama di rantau dirinya mendapat majikan yang baik dan merupakan pebisinis sukses sehingga ilmu itu yang dia terapkan dalam memimpin Toran Jo.
“ Majikan selalu mengajarkan saya ilmu menjadi ibu rumah tangga yang baik, dan bagaimana menjadi seorang pemimpin. Dia punya pengalaman atau kealihan dia selalu bagikan ke saya dan dia anggap saya sebagai saudara sehingga sampai sekarang saya masih berhubungan dengannya “ ungkapnya.
Sementara itu, Katarina Trin Kedang  mengaku, dirinya tertarik bergabung secara sukarela pada tahun 2011,  sebab anggota kelompok Toran Jo selalu giat bekerja dan kompak. Banyak kelompk sebut Trin yang dibentuk  hanya cari bantuan dan tak lama bubar dengan sendirinya. 
Anggota Toran Jo  bekerja membangun tanggul
Bagi Marta Buan, bendahara  yang bergabung di Toran Jo sejak tahun  2013 kepada Cendana News mengaku, dirinya tertarik melihat semangat anggota kelompok ini. Baginya mama Siti Hajah, anggota tertua selalu memberinya semangat serta selalu memberikan pikiran dan saran untuk kami. KelompokToran Jo kata Marta eksis berkat sentuhan tangan jely selaku pemimpin.
Melihat kelompok Toran Jo sangat baik dalam meningkatkan kesejahteraan anggotanya, Gregorius Mulo Witin, Kepala Desa Konga juga mengatakan, Kelompok Toran Jo merupakan salah satu kelompok terbaik dari 6 kelompok yang eksis saat ini di Konga. 
Toran Jo  bergerak di segala bidang,  mulai program pemberdayaan perempuan,  buruh migran dan juga kelompok tani. 
Kalau kelompok lain, kata Gregorius, hanya muncul saat ada bantuan. Sementara Toran Jo selalu melakukan aktifitas dan pertemuan rutin setiap bulan.  Jika ada bantuan dari Dinas Pertanian, kata Gregorius, Toran Jo selalu menjadi prioritas.
Lihat juga...