SABTU, 9 APRIL 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Sekelompok wanita dan laki laki menggunakan seragam berwarna hijau dengan riasan menyerupai personil kesenian kuda kepang. Beberapa diantaranya menyandang alat musik berupa angklung, kendang, serta speaker yang dipergunakan untuk memperkeras musik. Kelompok kesenian yang merupakan sanggar angklung tersebut setiap hari berkeliling dari kampung ke kampung untuk mengamen.

Sanggar angklung tersebut merupakan pengamen keliling yang setiap hari mengais rejeki dengan dandanan menarik. Setiap hari kelompok angklung bambu Mekar Sari Banyumasan pimpinan Ngadiman tersebut mulai berkeliling dari pintu rumah warga dan beberapa lokasi untuk mendapat uang.
“Masyarakat yang belum pernah melihat langsung atraksi kita awalnya heran, karena kesenian tersebut belum pernah ada di wilayah Lampung apalagi ditampilkan sambil berkeliling,” ungkap Andini, salah satu penyanyi yang dianggap sebagai biduan dalam kelompok kesenian tersebut, Jumat (8/4/2016)
Aktifitas mengamen keliling dengan menggunakan alat musik angklung tersebut dimainkan oleh sebanyak enam pengamen yang sebagian besar merupakan anggota keluarga dan sudah melakukan aktifitas mengamen di beberapa provinsi. Aktifitas mengamen keliling dilakukan oleh Andini dan beberapa anggota keluarganya tersebut untuk mendapatkan penghasilan.
“Keluarga kami memang pekerja seni dan meski berkeliling beberapa provinsi kami lakukan untuk menyambung hidup bahkan setelah dari Provinsi Lampung kami akan lanjut ke provinsi Bengkulu,”ungkap Andini.
Dalam sehari, kelompok musik jalanan yang berkeliling sambil memainkan alat musik angklung dan menyanyikan lagu lagu daerah tersebut memperoleh penghasilan rata rata sekitar tiga ratus ribu perhari dan terkadang kurang dari jumlah tersebut.
Andini yang mengaku empat anggota Sanggar Bambu Mekar Sari Banyumasan adalah saudara kandungnya. Satu lainnya adalah saudara ipar dan dua sisanya adalah saudara dekat. Andini mengaku bersama saudara saudaranya terpanggil untuk ikut menjaga kesenian daerah khususnya musik angklung.
“Kami cuma ingin melestarikan angklung. Menurut kami kesenian ini sudah jarang diperdengarkan di masyarakat akibat serbuan musik modern,” kata Andini.
Sementara itu sang suami, Imron, mengaku melakukan aktifitas mengamen keliling selain untuk melestarikan kesenian tradisional juga untuk memperoleh penghasilan yang diperoleh dari uluran tangan para penikmat kesenian angklung tersebut.
“Kami menerima berapapun saweran yang diberikan saat kami mengamen dan berapapun kami pergunakan untuk keperluan harian dan sebagian untuk kas,”ungkap Imron.
Sehari berkeliling kelompok kesenian angklung tersebut berjalan keliling ke beberapa desa dengan jarak beberapa kilometer dengan cara berjalan kaki. Saat merasa lelah kelompok kesenian tersebut beristirahat di warung sambil membersihkan alat alat musik yang dibawa sementara bagi sang biduan wanita dipergunakan untuk memperbaiki riasan.

Saat ditemui media Cendana News di Kabupaten Lampung Timur, kelompok kesenian angklung tersebut mengaku sementara mengontrak di salah satu rumah dan melakukan aktifitas mengamen keliling saat menjelang siang.
Kesenian instrumental keliling yang merupakan kesenian tradisional tersebut menurut Imron bukan hanya kelompoknya melainkan kelompok lain yang mencari penghasilan dengan mengamen. Lagu lagu campursari serta instrumen angklung dimainkan dengan lagu lagu lama atau lagu yang sedang hit menjadi daya tarik bagi warga yang tak enggan memberi uang cukup banyak jika lagu yang dimainkan mengena di hati.
“Kalau ada yang meminta kami berjoged terutama yang rindu kampung halaman biasanya minta beberapa lagu dan memberi uang yang lumayan”ungkap Imron.
Uang saweran yang diberikan pun berpindah dari tangan warga ke keranjang plastik yang didesain untuk menjadi tempat meletakkan uang bagi yang berniat menyawer. Hiburan para pelestari kesenian tradisional tersebut menjadi sebuah hiburan saat warga berada di pasar atau duduk di warung menikmati kopi.
Salah seorang warga, Udin, mengaku salut dengan kelompok kesenian yang masih melestarikan musik angklung, kolintang dan dipadu dengan beberapa alat musik lain yang ditabuh dan dipukul dan menyajikan irama musik yang indah.
“Kita hargai kekreatifan mereka dan mereka layak mendapat apresiasi karena mampu menghadapi gerusan musik tradisional,”ungkap Udin yang mau memberikan dua lembar uang pecahan dua puluh ribu kepada pengamen jalanan tersebut.