Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah di Provinsi Aceh

JUMAT, 1 APRIL 2016
Jurnalis: Zulfikar Husein / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Zulfikar Husein

ACEH — Sejumlah kabupaten kota di Provinsi Aceh dilanda musibah kekeringan. Lahan-lahan pertanian dan perkebunan milik warga tanahnya mulai kering dan pecah-pecah.
Kekeringan landa lahan sawah milik petani di Lhokseumawe, Aceh
Kondisi ini membuat warga mengeluh dan terpaksa menghemat penggunaan air. Selain kekeringan di lahan pertanian, warga juga mulai kekurangan air bersih. 
“Untuk mandi saja sudah susah, air di sumur-sumur warga, seperti di sumur di rumah saya itu tinggal setengah cincin lagi,” ujar Adlin, warga Jalan Darussalam, Lhokseumawe, kepada Cendana News, Jumat (1/4/2016).
Menurutnya, kondisi kekeringan tersebut terjadi paska terjadinya gerhana matahari total pada Maret lalu. 
“Setelah gerhana cuacanya semakin panas, sampai hari ini, seingat saya belum ada hujan sekalipun, padahal dua hari lalu sempat mendung, tapi tidak jadi hujan,” katanya.
Kondisi serupa juga dialami petani di Desa Punteut, Blang Mangat, Lhokseumawe. Tanah-tanah sawah milik petani di desa tersebut mulai retak dan pecah-pecah. Hingga saat ini, petani berhenti beraktivitas di sawah akibat kondisi tersebut.
“Sudah hampir sebulan panas terus, tanah sawah kami menjadi kering dan kami saat ini tidak bisa menanam padi. Tunggu musim hujan dulu biasanya,” kata Salamah, salah seorang petani di desa setempat.
Ia menambahkan, meski terdapat irigasi, namun saluran air tersebut tak mampu mengaliri semua sawah. Hal itu karena air yang terdapat dalam irigasi tersebut sangat sedikit. Lagipula, irigasi tersebut juga dipakai oleh banyak petani di sejumlah desa lain.
“Air irigasi pun sedikit, sekarang cuma digunakan untuk beberapa sawah yang belum dipanen karena masa panennya belum datang, sementara yang sudah panen, ya terpaksa berhenti dulu,” katanya.
Lihat juga...