Kampung KB Miliki Peran Penting dalam Membina Keluarga

RABU, 13 APRIL 2016
Jurnalis: Aceng Mukaram / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Aceng Mukaram

PONTIANAK — Direktur Direktorat Bina Hubungan Antar Lembaga Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Theodora Panjaitan, menyebutkan, kampung KB memiliki peranan penting dalam membina keluarga di setiap wilayah. Menurutnya, kampung KB itu poin yang pertama melalaui kampung KB ini yaitu konsep yang diluncurkan oleh Presiden RI, Joko Widodo, pada  pada  14 Januari 2016.
“Sesuai dengan nawacita nomor 3 bahwa kita harus menjangkau pelayanan yang belum terjangkau. Mungkin banyak yang mengartikan dari daerah yang jauh dan melihat sendirikan bahwa yang di kota pun banyak yang masih dijangkau,” kata Theodora Panjaitan, pada saat berkunjung ke kampung KB di Beting, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu, 13 April 2016.  
Theodora Panjaitan yakin, dengan adanya kampung KB masyarkat akan sejahtera. Caranya, masyarakat sadar akan arti pentingnya ber-KB.
“Tapi kalau kita menyimak persyaratan kampung KB itu untuk menuju masyarkat sejahtera. Masyarakat itu kan manusia dan punya kehendak, punya keinginan jadi harus ada dari dalam dirinya sendiri, jadi tidak cukup kalau kita lihat tadi persyaratan kampung KB satu daerahnya harus punya komitmen,” kata Theodora Panjaitan.
Theodora Panjaitan berharap, tekad program punya niat untuk membangun di satu sisi. Di sisi lain antisipasinya masyarkatnya sendiri, jadi masyarakatnya mau membangun mau bekerjasama dengan pemerintah untuk dirinya sendiri. 
“Jadi targetnya adalah kampung KB berencana semua keluarga tidak hanya sekedar menikah, tidak merid by accident tidak menikah karena lingkungan, karena kebutuhan atau karena sosial tidak, karena memang mempunyai rencana. Saya yakin semua rencana itu, semua keluarga mempunyai rencana yang baik yang berkualitas, itu targetnya,” lanjutnya.
Untuk keluarga berkualitas ini, menurut Theodora Panjaitan tidak cukup hanya dari BKKBN ataupun pemerintah dari kabupaten/kota, dinas instansi lain juga. “Seperti kita lihat tadi jalan, mungkin perlu pendidikan, kesehatan dan sebagainya dan persyaratan penduduk yang berkualitas,” ujar Theodora Panjaitan.
Theodora Panjaitan menilai, kesadaran manusia berubah pada dirinya juga dinilai penting. Dorongan dan masukan tentunya dapat membangkitkan hal tersebut. “Kalau kita lihat kesadaran itu sulit diukur. Kita lihat dari peran sertanya saja. Secara nasional peran hasil sdki tahun 2012 atau kita ambil suppas saja itu peran serta masyarkat dibuktikan dengan ketaatan ber-KB itu baru sekitar 54 persen nah itu, jadi baru setengah baru menggunakan alat kontrasepsi,” ujar Theodora Panjaitan. 
Dengan menggunakan kontrasepsi itu, itu berarti masyarakat sadar.  Disitulah tingkat kesadarannya, diukur. “Tapi tadi saya mendengar pertanyaan kalau begitu Kalbar berapa?, Nah angka kelahiran di Kalbar masih di atas 3 berarti setiap wanita usia subur kalau kita hitung rate perbandingannya itu masih di atas 3 kalau dibagi wanita usia subur,” kata Theodora Panjaitan. 
Theodora Panjaitan menyebutkan, sedangkan usia subur ini ada yang menikah dan ada yang tidak. “Nah yang sudah menikah berarti jumlah anak rata-rata dalam keluarga masih sekitar 4. Kalau 4 ini boleh kita katakana reproduksinya kurang memenuhi persyaratan. Jadi intinya ada reproduksi sehat yaitu jangan ahir dari Rahim ibu yang umur 21 tahun. Artinya melahirkan umur pertama 21 tahun,” jelas Theodora Panjaitan. 
Kemudian jarak kelahiran, lanjut Theodora Panjaitan untuk supaya sehat anak berkualitas dan ibu sehat, tidak mengalami kematian, itu jaraknya harus 03- 4 tahun. Kemudian jangan terlalu sering melahirkan, karena menyebabkan rahim luka.  
“Kalau sudah usia diatas 30 hingga 35 tahun, itu untuk kehamilan yang sangat beresiko dengan kematian. Jadi, jangan sampai anak yang lahir, tidak direncanakan ini akan menjadi beban khususnya untuk kota Pontianak,” ujar Theodora Panjaitan. 
Kembali Theodora Panjaitan menyebutkan, hingga kini di selurh provinsi belum ada yang yang program itu. Di setiap provinsi ada saja kabupaten yang sudah berhasil. “Hanya tinggal berapa kabupaten di provinsi tersebut. Hanya kalau kita lihat Kalimantan Barat, mungkin perlu dipacu kedepannya khususnya akrena angka menikah usia dini di sini tinggi. Kan usia reproduksi itu usia 15- 49 tahun saya tidak tahu ini angkat semua daerah atau apa, tapi ini menunjukan angka TSR atau angka kelahiran diatas 3 itu menunjukan karena menikah di usia dini,” kata Theodora Panjaitan. 
Theodora Panjaitan menambahkan, membuntuk pengendalian kuantitas penduduk apabila angka kelahiran atau tsr itu 2,1 artinya setiap keluarga, punya anak rata-rata 2. “Jadi diharapkan satu perempuan, melahirkan 1 anak perempuan itu yang disebut penduduk tumbuh seimbang. Tapi ini jangan diambil o saya punya 2 anak laki2 dna belum punya anak perempuan bukan begitu,” kata Theodora Panjaitan. 
Lihat juga...