Jelang Musim Kemarau, Petani Tomat di Malang Waspadai Hama Ulat

SELASA, 26 APRIL 2016

MALANG — Memasuki musim kemarau, petani tomat di Malang mulai mewaspadai serangan hama ulat yang dapat menurunkan hasil panen. Salah satu antispasinya yakni dengan meningkatkan penyemprotan pestisida.
Petani Tomat di Malang
“Tomat harus disemprot pestisida setiap lima hari sekali agar tidak diserang hama ulat,”ujar Juari, salah satu petani tomat di Malang kepada Cendana News, Selasa (26/4/2016).
Menurutnya, di lahannya yang berada di Dusun Genting, Desa Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang ini setiap kali memasuki musim kemarau akan banyak hama ulat yang menyerang tanaman. Penyemprotan yang terlambat, hama akan langsung menyerang dengan cepat.
Ia menyampaikan, di musim kemarau serangan hama ulat jauh lebih banyak daripada saat musim penghujan. Bagian tanaman yang diserang hampir seluruh keseluruhan seperti, batang, daun dan juga buah.
“Sudah dua kali ini saya melakukan penyemprotan dalam kurun waktu sepuluh hari karena belum diguyur hujan,”terangnya.
Selain melakukan penyemprotan pestisida, Juari juga melakukan penyiraman setiap tiga hari sekali agar tanaman tomatnya tidak layu saat tidak turun hujan. Meskipun demikian, ia mengaku senang akan memasuki musim kemarau karena pertumbuhan dan hasil panen tanaman tomat di musim kemarau lebih baik di bandingkan saat musim penghujan.
“Asalkan penyemprotan dan penyiramannya tidak terlambat, pertumbuhan tanaman tomat akan lebih baik di musim kemarau,”ucapnya.
Sementara itu, Juari menyebutkan, harga tomat sejak satu minggu belakangan ini megalami penurunan cukup besar.
“Harga tomat di tingkat petani yang awalnya mencapai 13 hingga 15 ribu Rupiah per kilogramnya, sekarang turun menjadi enam ribu Rupiah per kilogram,”ungkapnya. 
Beruntung setiap kali Juari panen, ia mengaku langsung menjualnya sendiri ke Pasar Karangploso tanpa melalui perantara tengkulak.(Agus Nurchaliq)
Lihat juga...