JUMAT, 1 APRIL 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Penurunan sejumlah bahan bakar minyak (BBM) umum mulai 1 April 2016 pukul 00.00 WIB oleh PT Pertamina (Persero) untuk jenis Pertamax, Pertamax Plus, Pertamina Dex, dan Pertalite masing-masing sebesar Rp.500 per liter, mendorong para pedagang pengecer premium mulai melakukan pembelian dengan jerigen di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Beberapa pedagang bensin eceran bahkan sudah melakukan antrian sejak pagi di SPBU Simpang Raya Desa Sukabaru sebelum operasional jam 06:00 WIB.
Beberapa pedagang bensin eceran mengaku membeli bensin rata rata 50 liter untuk dijual selama sepekan atau bahkan lebih cepat. Salah satunya, Andi, warga Desa Pisang Kecamatan Penengahan yang rela menunggu setengah jam sebelum SPBU beroperasi. SPBU tersebut bahkan mengoperasikan sebanyak satu dispenser khusus yang melayani pembelian bensin untuk para pengecer.
“Harus pakai antrian dan kalau tidak cepat, antrian panjang para pengecer bensin yang lain karena hanya SPBU terdekat ini yang melayani penjualan bensin eceran, lainnya tidak,”ungkap Andi saat ditemui di SPBU Simpang Raya Jumat pagi (1/4/2016)
Ia mengaku membeli harga premium di SPBU dengan harga baru Rp6.450 per liter yang sebelumnya harga Rp6.950 per liter. Sementara harga solar turun menjadi Rp5.150 per liter dari harga sebelumnya Rp5.150 per liter. Bensin eceran yang dibeli dari SPBU selanjutnya dijual dengan sistem eceran menggunakan botol dan jerigen dengan harga Rp7.000 per liter bahkan bisa mencapai Rp9.000 tergantung lokasi.
“Kita hanya mencari selisih harga jual dan membantu warga yang letaknya jauh dari SPBU dan lebih memilih membeli bensin dari kami,”ungkap Andi.
Hal senada diungkapkan Sarmin, yang tinggal 10 kilometer dari SPBU di dusun Gunung Botol Karangsrai, Kecamatan Ketapang. Ia mengaku membeli bensin dengan harga jual Rp9.000 karena warga lebih banyak membeli di warung miliknya. Ia mengaku membentuk tempat penjualan menyerupai tempat pembelian bensin dengan sistem pertamini yang mulai banyak menjamur di desa.
“Saya membeli bensin murni dan takarannya pas, cuma harganya lebih tinggi karena jarak tempuh jauh untuk membeli bensin ini,”ungkapnya.
Berbeda dengan kondisi di SPBU coco 21.101.02 Desa Kekiling Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan yang tak memperbolehkan pembeli bensin eceran, antrian pembeli bensin didominasi kendaraan roda dua dan sebagian roda empat.
“Sampai hari ini stok BBM yang kami sediakan juga masih stok lama dan jumlah pembeli dikisaran antrian sampai 10 kendaraan tidak sampai mengantri panjang,”ungkap Adrian salah satu operator.
Ia bahkan mengaku kondisi penurunan harga BBM berbeda dengan saat kenaikan BBM dimana pembeli akan berbondong bondong mendatangi SPBU sebelum harga dinaikkan. Meski demikian karena tidak diperbolehkan pengecer membeli maka jumlah bahan bakar yang disiapkan selalu cukup.