JUMAT, 29 APRIL 2016
YOGYAKARTA — Bencana alam dan kecelakaan atau musibah yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan tidak terduga, menjadi tantangan bagi Badan Sar Nasional (Basarnas) dan seluruh jajarannya di tingkat daerah. Karenanya, SAR (Search and Rescue/pencarian dan penyelamatan) dituntut untuk senantiasa meningkatkan kemampuannya.

Selain itu, tingginya tingkat resiko bencana dipengaruhi oleh fakfor manusia. Maka, kinerja dan kesadaran serta pola pikir dan pola tindak dalam menghadapi bencana perlu ditingkatkan pula. Untuk itu, Badan Sar Nasional menggelar rapat koordinasi guna membentuk Forum Koordinasi Potensi Pencarian dan Pertolongan Daerah (FKP3D), guna meningkatkan sinergitas antar lembaga penyelamat dan seluruh stakeholder SAR di wilayah Yogyakarta, Jumat (29/4/2016).
Kepala Badan Sar Nasional (Kabasarnas), Marsekal Madya TNI FHB. Soelistyo, S.Sos., dalam sambutan pembukaan rapat koordinasi tersebut mengatakan, forum koordinasi diperlukan untuk menyamakan persepsi, koordinasi dan memperkuat kerjasama. Hal ini mengingat sebagian besar bencana tidak bisa diantisipasi, sehingga harus ada sinergi dan soliditas dari sumber daya manusia yang ada.
Basarnas sebagai lembaga negara yang bertanggung-jawab mengemban tugas operasi bidang pencarian dan pertolongan korban, kata Soelistyo, memiliki tugas besar menyangkut kredibilitas SAR di hadapan masyarakat regional dan internasional.
“Bahwa negara harus bisa memberikan jaminan keselamatan kepada semua warga negara, sehingga SAR harus mampu memberi kepercayaan kepada masyarakat regional maupun internasioanl. Tanpa ada kepercayaan jaminan keselamatan, negara lain tidak akan percaya diri melakukan kegiatan perekenomian di sini,” ungkapnya.
Sementara itu, lanjut Soelistiyo, keberhasilan kerja SAR ditentukan oleh kerjasama dan koordinasi yang baik antar empat komponen, yaitu Basarnas, unsur TNI/POLRI, unsur Pemerintah Daerah dan potensi SAR lainnya. Karena itu, katanya, koordinasi dan komunikasi lintas sektoral selalu harus ditekankan dalam membangun sinergitas agar operasi SAR bisa berjalan optimal.
Dalam rapat koordinasi pembentukan FKP3D, juga dicanangkan program SAR Masuk Sekolah (SAR Goes To School), yang akan diikuti oleh 180 siswa-siswi mulai dari tingkat SD, SMP, SMA serta para guru pendamping. Kegiatan tersebut akan dipusatkan di Pantai Congot, Kulonprogo, dan difokuskan pada pemahaman saat terjadinya gempa bumi dan tsunami.
“Harapannya, dengan kegiatan tersebut, anak-anak bisa tumbuh menjadi generasi muda yang kuat, tangguh dan memiliki kepedulian terhadap sesama saat terjadi musibah baik kecelakaan, bencana atau kondisi lain yang membahayakan jiwa manusia,” kata Soelistyo.
Sementara itu, Kepala Kantor SAR Yogyakarta, Waluyo Raharjo, S.Sos, yang turut hadir dalam rapat koordinasi itu mengatakan, SAR Goes To School diharapkan bisa membentuk karakter masyarakat, menyamakan persepsi baik pola pikir maupun pola tindak, meningkatkan potensi SAR dan membangun budaya SAR sejak dini untuk menghadapi bencana yang membahayakan jiwa.
Rapat koordinasi juga dihadiri oleh segenap unsur TNI dan POLRI, serta dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DIY, Sulistiyo, yang mewakili Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Dalam sambutan yang dibacakan oleh Sekda Provinsi DIY, Sultan mengingatkan, bahwa setiap bencana selalu menimbulkan masalah kemanusiaan serius dan menimbulkan kerugian materi yang tidak bisa dinilai. Yogyakarta sebagai salah satu kota yang memiliki tingkat resiko bencana cukup tinggi, sangat membutuhkan adanya lembaga SAR dan SDM yang profesional, sehingga bisa mengurangi potensi korban dan kerugian material dengan penanganan yang cepat dan tepat.
Namun demikian, kata Sultan, penanggulan bencana sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 yang memberi landasan hukum dalam penanggulan bencana, sampai saat ini persepsi bencana belum menjadi bagian dari masyarakat. Karena itu, kata Sultan, tantangan ke depan adalah membangun sikap dan paradigma responsif terhadap bencana. Juga koordinasi antar lembaga penyelamat, sehingga dalam pelaksanaan tugas-tugas SAR tidak tumpang tindih. (Koko Triarko )