JUMAT, 29 APRIL 2016
MAUMERE — Maraknya beroperasi ojek tanpa identitas, masyarakat di Kabupaten Sikka mendesak Dinas Perhubungan dan Kepolisian untuk segera melakukan pendataan dan penertiban. Hal tersebut didasari banyaknya keluhan terkain tarif yang diluar kewajaran.
![]() |
| Pangkalan ojek |
“Tetangga saya mengeluh tentang tarif yang diminta di luar kewajaran. Dari Waioti ke pasar Alok yang hanya sekitar satu kilometer saja diminta bayar 20 ribu rupiah,” sebut salah seorang warga, Laurens di Maumere, Jumat (29/4/2016).
Disebutkan, tidak hanya mengenakan tarif yang tinggi, beberapa pengguna jasa juga sempat mengalami pemerasan hingga ancaman dengan menggunakan senjata tajam.
“Polisi harus segera tertibkan karena jangan sampai ada pelaku kriminal yang berupura-pura sebagai tukang ojek dan melakukan perampokan serta pemerasan terhadap penumpang,” tegasnya.
Bukan itu saja kata Laurens, bahkan beberapa tetangganya yang datang dari kampung sering ditipu dan diperas. Penumpang pun takut karena tukang ojek tersebut mengancam dan ada yang membawa pisau.
![]() |
| Yani Making (kanan), anggota DPRD Sikka saat memberikan penjelasan kepada masyarakat kelurahan Beru |
Hal senada juga disebutkan Anggota DPRD Sikka, Yani Making saat berdialog dengan warga. Ia pernah mengalami hal yang hampir serupa. Dirinya bersama isteri yang sedang mengendarai mobil, saat berbelok di lampu merah dan melaju hingga sekitar 300 meter didatangi seseorang yang mengaku tukang ojek.
Orang mengklaim diserempet saat berbelok di lampu merah. Dengan nada mengancam orang tersebut menunjukan kakinya yang dikatakan bengkak tapi saat dilihat kondisinya tidak apa-apa.
“Isteri saya merasa takut dan tidak ingin terjadi keributan sehingga saya akhirnya memberi uang 250 ribu rupiah dan pengojek tersebut langsung tancap gas setelah menerima uang,” papar Yani.
Sesudahnya lanjut Yani, dirinya mendatangi lokasi lampu merah dan menanyakan kepada seorang wanita yang berjualan bensin eceran di pinggir jalan menanyakan hal tersebut.
Wanita tersebut pun mengatakan dirinya ditipu karena sebelumnya pengojek tersebut hendak membeli bensin tapi saat disebutkan harganya orang tersebur tidak jadi membeli. Kebetulan saat bersamaan mobil Yani lewat dan pengojek tersebut jelas wanita penjual bensin segera mengejarnya.
“Hal ini sudah sering terjadi dan banyak masyarakat yang melaporkan kasus pemerkosaan dan pemerasan yang dilakukan orang yang berpura-pura sebagai tukang ojek.
Yani menyebutkan, dari berbagai laporan dan pengalaman pribadi, pihaknya akan segera menindaklanjuti kepada pihak terkait agar kejadian serupa tidak menimpa masyarakat lainnya.
“Masukan dari masyarakat akan saya sampaikan ke pemerintah dan pihak kepolisian,” kata Yani.[Ebed De Rosary]
