RABU, 9 MARET 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Warga di Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan yang belum pindah karena beberapa hal serta yang berada di lokasi pembuangan material mempersoalkan dampak penimbunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Hujan yang sering turun juga menyebabkan longsoran dan mengancam tempat tinggal warga.
![]() |
| Pengerjaan Jalan Tol Trans Sumatra |
Proses penimbunan serta meratakan bukit bukit di sekitar titik nol menggunakan material tanah dikerjakan dengan puluhan alat berat dan kendaraan truk oleh PT Pembangunan Perumahan (PP) dan Hutama Karya (HK).
Puluhan warga yang tidak terkena dampak langsung dan tinggal di pinggir jalan tol bahkan mengaku mendapat dampak longsoran material timbunan tol yang terbawa air hujan dan masuk ke saluran sungai kecil di desa mereka.
Seorang warga Dusun Kenyayan, Hendrie (40) mengaku harus membersihkan pekarangan dan rumah akibat material lumpur tanah bercampur pasir masuk ke rumah warga.
“Kami harus bergotong royong karena material tanah longsor menimbun saluran sungai dan sebagian meluap ke rumah warga dan kami selalu was was saat hujan turun mengakibatkan genangan lumpur tanah merah masuk rumah kami,”ungkap Hendrie di Lampung, Rabu (9/3/2016).
Ia mengaku sudah melakukan kordinasi dengan kepala desa serta pihak kecamatan Bakauheni untuk mengatasi dampak langsung bagi masyarakat meskipun warga tidak tercatat sebagai warga terdampak langsung jalan tol.
Warga bahkan sempat menyampaikan keluhan tersebut kepada pihak kontraktor namun belum mendapat respon terkait kerugian saat hujan turun dan berimbas material tanah tol masuk ke rumah warga.
“Secara finansial kami tidak pernah memperoleh kompensasi, berbeda dengan warga lain yang lahan serta rumahnya terdampak langsung dilalui pembangunan jalan tol,” ungkap Hendrie.
Senada dengan Hendrie, warga lain bernama Bowo mengungkapkan, dampak longsor saat hujan selalu terjadi karena tanah material timbunan mengakibatkan saluran sungai kecil sedalam 2,5 meter kini tinggal 100cm dan mengakibatkan air meluap ke rumah warga. Sementara saat cuaca panas material debu mengakibatkan warga terkena debu tanah timbunan tol.
Ia dan puluhan warga lain yang tinggal di sekitar pembangunan tol belum memperoleh kompensasi akibat kerugian yang dialami saat musim hujan dengan munculnya longsor timbunan tanah tol. Warga bahkan masih belum mendapat jawaban pihak kontraktor untuk melakukan pengerukan saluran sungai yang tertimbun tol dan mengakibatkan air sungai meluap dan merendam rumah warga.

Sementara beberapa warga terdampak langsung jalan tol beberapa masih bertahan di antara kepungan material timbunan jalan tol diantaranya keluarga M.Yunus Raden Panji yang masih bersengketa dengan pihak pemilik lain dan sedang melakukan penyelesaian hukum di pengadilan.
“Sebagian besar warga sudah menerima namun Yunus dan beberapa keluarga masih bertahan dan sedang melakukan proses hukum dengan pihak lain di pengadilan sebelum ada keputusan pembebasan lahan dan pemberian ganti rugi,”ungkap Kepala Desa Bakauheni, Syahronie.
Syahronie mengungkapkan proses di pengadilan masih berjalan sementara warga lain terdampak tol sudah meninggalkan lokasi di sepanjang 5 kilometer dari titik nol Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Selain itu ratusan warga di sepanjang 14 kilometer melewati tiga desa diantaranya Desa Bakauheni, Desa Kelawi, Desa Hatta sebagian besar sudah melakukan pembongkaran rumah yang dilakukan secara gotong royong.