JUMAT, 18 MARET 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA — Bermula dari keinginan mengejawantahkan tekad pemerintah untuk menyejahterakan petani, warga pedukuhan Grujugan, Bantul, Yogyakarta, Budi Santoso mengembangkan konsep pertanian dan peternakan terpadu di rumahnya sendiri. Konsep itu diberinya nama Rumah Mandiri Pangan, dan bisa dilakukan oleh siapa pun dengan modal kecil dan lahan yang terbatas.
![]() |
| Budidaya Jamur |
Dengan konsep yang dicetus-kembangkan sendiri, Budi bisa membuat petani mendapatkan pendapatan harian, mingguan, bulanan, triwulan dan tahunan. Caranya, sederhana. Yaitu, dengan mengintegrasikan budi daya jamur, budidaya cacing tanah, sayuran dan cabe merah dalam pot dan budidaya ikan. Semua itu tidak harus dilakukan dengan lahan yang luas. Dan, bisa dikerjakan dengan barang-barang bekas serta modal yang kecil.
Ditemui di kediamannya, Jumat (18/3/2016), Budi menjelaskan, jika petani harus sejahtera, berarti petani harus memiliki pendapatan harian, mingguan, bulanan, triwulan dan tahunan. Artinya lagi, harus ada pemberdayaan petani berbasis ekonomi kerakyatan untuk meningkatkan kesejahteraan.
“Lalu, saya mencoba menggabungkan beberapa komoditi yang bisa dilakukan secara berkelanjutan. Dimulai dengan memanfaatkan barang bekas seperti bambu yang bisa digunakan untuk rumah jamur”, katanya.
Budidaya jamur, lanjut Budi, diintegrasikan dengan budidaya cacing, ikan dan sayuran. Setelah jamur diambil hasilnya, badlog atau media tanam jamur yang berasal dari serbuk kayu dan yang sudah terfermentasikan alami selama pertumbuhan jamur, digunakan sebagai media beternak cacing. Selain bisa dijual, cacing yang sudah dipanen juga bisa digunakan sebagai pakan ikan atau dijual. Sementara itu, secara berkala, media bekas budidaya cacing atau kascing, sangat bagus digunakan sebagai pupuk organik. Begitu seterusnya sehingga tidak ada limbah yang dibuang percuma.
Budi membudidayakan dua jenis jamur, yaitu jamur lingsi dan jamur kuping. Dua jenis jamur itu paling cocok dibudidayakan di daerah Bantul. Sedangkan, cacing yang dibudidayakan adalah cacing tanah jenis lumbricus rubellus. Semua itu bisa dilakukan dengan mudah dan tanpa kendala berarti.
Sedangkan perhitungan ekonomisnya, secara umum, Budi menjelaskan, harga badlog atau bibit jamur lingsi harganya Rp. 2.500. Sedangkan harga bibit jamur kuping Rp. 2.000. Selama 4 bulan, kedua jenis jamur itu bisa dipanen.
Harga jual jamur lingsi kering sekilonya mencapai Rp. 135.000, dan harga jual jamur kuping perkilonya Rp. 80.000. Budidaya jamur hanya membutuhkan kelembaban yang terjaga di temperatur 30 derajat celcius, dan hanya butuh penyiraman air saja. Tidak perlu pupuk. Adapun kendalanya hanya cuaca panas, yang bisa diatasi dengan penyiraman air. Jamur lingsi sangat berguna untuk jamu atau herbal, dan jamur kuping untuk dikonsumsi dan mengandung banyak manfaat untuk kesehatan.
![]() |
| Budidaya cacing |
Setelah jamur dipanen, badlog digunakan untuk media beternak cacing tanah. Dalam waktu dua minggu, cacing sudah bisa bertelur. Cacing dibudidayakan dengan menggunakan rak atau semacam etalase bertingkat yang dibuat dari bambu dan kain terpal sebagai alasnya. Ukuran ideal rak cacing adalah 1 x 3 meterpersegi dan bisa menampung sebanyak 3 Kg bibit cacing dengan harga perkilonya Rp. 50.000.
Setelah bertelur pertama, indukan dipindahkan ke rak yang lain untuk menambah jumlah indukan, sehingga tidak perlu membeli bibit cacing lagi. Begitu seterusya sampai empat kali panen, sehingga diperoleh empat rak cacing. Setelah itu, baru bisa merasakan hasil panennya. Empat rak cacing itu akan panen bergantian terus-menerus. Adapun harga jual cacing perkilonya Rp. 35.000. Masing-masing rak kurang lebih bisa menghasilkan sebanyak 7 Kg cacing siap jual.
“Andai kita punya 200 rak cacing, setiap hari bisa panen 10 Kilogram cacing”. ujar Budi.
Budidaya cacing juga tidak ada sulitnya. Mirip seperti jamur, cacing juga harus dipelihara di tempat yang lembab dan tidak terkena sinar matahari. Juga harus dijaga dari tikus. Kebutuhan pakannya pun tidak banyak dan murah, yaitu hanya ampas tahu yang diberikan selama 3 hari sekali.
Sedangkan manfaat cacing, sangat banyak. Di bidang farmasi, cacing digunakan untuk membuat obat-obatan seperti parasetamol dan sebagainya. Cacing, kata Budi, merupakan binatang yang paling tinggi kandungan proteinnya, yaitu sebesar 61 Persen.
Dengan pola budidaya terpadu itu, Budi yang juga merupakan Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Benih Pertanian Barongan, Dinas Pertanian Bantul, menjamin, jika petani atau siapa pun saja yang melakukannya tidak akan rugi. Apalagi, katanya, cacing tanah masih sangat jarang dibudidayakan sehingga potensi pasarnya masih sangat terbuka sekali.
