Si Mungil Bonsai Masih Jadi Tren Pecinta Tanaman di Lampung

RABU, 2 MARET 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi 

LAMPUNG — Demam batu akik yang sudah berlalu dan mulai memudar membuat warga peminat hobi khusus tersebut kini tak melanjutkan penjualan. Beberapa pecinta batu akik bahkan kini beralih melakukan kegemaran atau hobi baru yang dirasa memberi keuntungan, diantaranya merawat tanaman kerdil yang dikenal dengan bonsai.
Merawat tanaman bonsai
Salah satu diantara puluhan penghobi  pembuatan bonsai di Desa Sumbernadi Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan diantaranya Made Pastika (29) mengaku perubahan yang terjadi terus menerus pada tanaman bonsai sesuai musim atau keadaan alam membuat pohon yang dikerdilkan ini makin diminati.
“Saya sudah hobi mengoleksi tanaman bonsai sejak lima tahun lalu tapi tren hobi kan berubah ubah, kemarin sempat demam batu akik kemudian mulai pudar tapi bonsai tetap bertahan hingga sekarang,”ungkap Made yang sedang membentuk bonsai yang dipeliharanya, Rabu (2/3/2016)
Proses pembuatan bonsai pun menurut lelaki satu anak ini cukup sulit dan memakan waktu lama, bahkan bisa sampai bertahun-tahun agar bentuknya makin seimbang. Itulah sebabnya meski memiliki bentuk yang kecil, tak heran bila harga bonsai terbilang mahal.
Ia mengakui butuh proses panjang untuk memperoleh bonsai yang menarik, mulai dari mencari bahan tanaman di alam bahkan hingga ke pulau pulau yang berada di sekitar Kecamatan Ketapang. Selain itu beberapa bahan tanaman diantaranya kayu Setigi diperoleh dari area tambak yang banyak terdapat di wilayah tersebut.
“Beberapa bahan bonsai harus saya cari di hutan atau di tepi tepi pantai yang tumbuh diantara batu batu karang dan bentuknya unik lalu saya pindahkan ke pot yang telah saya siapkan,”ujar Made.
Ia juga mengatakan tanaman bonsai harus memiliki keseimbangan antara daun, tangkai, dahan dan juga akar. Bonsai yang bagus, menunjukkan miniatur pohon besar di alam bebas. Bedanya, di alam bebas pohon tinggi besar, jika di bonsai pohon harus kecil.
“Pembuatan bonsai memakan waktu yang lama dan melibatkan berbagai macam pekerjaan seperti pemberian pupuk, pemangkasan, pembentukan tanaman, penyiraman, dan penggantian pot dan tanah. Merawat tanaman bonsai harus tekun dan sabar karena membuat bonsai tidak ada yang cepat,” kata Made.
Menurutnya, pebonsai dapat menata dan membentuk bonsai menjadi bermacam pilihan sesuai kreasi masing-masing seperti tegak lurus, tegak berkelok, sarung angin, menggantung, setengah menggantung, batang bergelung, berbatang dua. Umumnya, pebonsai tanah air mengadopsi gaya segi tiga bertingkat. Namun, gaya sudah berubah, pecinta dan kolektor bonsai belakangan ini mengidolakan natural style.
Pohon yang paling umum dibonsai adalah berbagai spesies pinus, asam jawa yang dikerdilkan, anting putri, beringin, cemara, waru, jambu biji, pohon buah ceri dan tanaman yang tumbuh diiklim tropis lainnya.
 “Jenis-jenis pohon bonsai juga banyak didapat dari Jepang dan Taiwan. Jadi sebenarnya terdapat ribuan jenis tanaman bonsai,” jelasnya.
Meski memiliki beberapa bonsai bagus Made mengakui saat ini baru satu kali mengikuti kontes bonsai yang diselenggarakan oleh para pecinta bonsai. Ia mengaku dengan mengikuti kontes bonsai ia bisa banyak belajar dari para pemilik dan penghobi bonsai senior dalam membentuk varian bonsai yang digandrungi pecinta tanaman unik tersebut. Ia mengaku dalam kontes bonsai beberapa bonsai yang dipamerkan diantaranya berusia  10 sampai 15 tahun.
“Sebagian bonsai milik saya berusia sekitar lima tahun lebih selama saya pelihara namun kalau umur di alam bebas kemungkinan lebih dari usia tersebut,”ungkap Made.
Perkumpulan pecinta tanaman bonsai di Lampung Selatan bahkan mulai membentuk perkumpulan peminat bonsai untuk saling berbagi ilmu. Sudarwanto warga Kalianda bahkan mengaku mulai memiliki koleksi bonsai sejak tujuh tahun lalu. Ia mengaku rajin berkomunikasi melalui jejaring sosial Facebook untuk mengumpulkan pecinta bonsai yang ada di Lampung Selatan.
“Sisi positifnya kita setiap sebulan sekali berkumpul untuk berbagi ilmu tekhnik menanam bonsai yang sesuai standar meski kita belum memiliki nama perkumpulan tapi kita sudah saling berkomunikasi untuk para pecinta bonsai”ungkap Sudarwanto.
Selain memiliki nilai kepuasan karena memiliki banyak koleksi bonsai unik beberapa pemilik bonsai diakui Sudarwanto mulai menjadikan hobi tersebut sebagai penghasilan. Beberapa diantaranya menjadi pembuat pot khusus untuk bonsai dan melakukan penjualan bonsai dengan kisaran harga Rp.2juta hingga di atas Rp.10juta.
“Selain sebagai hobi dan sarana bersosialisasi beberapa penghobi menggunakan peluang menanam tanaman mungil ini sebagai tambahan mendapatkan rupiah,”ungkap Sudarwanto.
Tren menanam bonsai ini menurut Sudarwanto belum mengalami penurunan dan cenderung stabil sehingga ke depan masih bisa menjadi hobi yang menjanjikan. Ia juga mengakui selain menjadi tambahan estetika sebuah rumah tanaman bonsai bisa dipergunakan untuk menambah prestise bagi pemiliknya selain sebagai sumber penghijauan mini bagi rumah yang memiliki lahan terbatas.
Lihat juga...