Rekam Jejak ‘Bumi Rafflesia’ di Anjungan Provinsi Bengkulu TMII

SABTU, 26 MARET 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Fadhlan Armey /  Sumber Foto: Miechell Koagouw

TMII JAKARTA — Terletak di barat daya pulau Sumatera, membujur sejajar pegunungan Bukit Barisan, Provinsi Bengkulu dengan kota Bengkulu sebagai ibukota provinsi menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa asli, yang kemudian dikenal dengan bahasa melayu bengkulu. Diresmikan sebagai Provinsi termuda ke-26 (terhitung sebelum Timor Timur kala itu) pada tanggal 18 November 1968 saat era Gubernur Ali Amin semakin memantapkan posisi tawar Bengkulu menjadi salah satu wilayah berkembang yang diperhitungkan di Republik Indonesia. 
?Anjungan Provinsi Bengkulu Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
Letak Bengkulu yang berada di wilayah patahan gempa bumi paling aktif di dunia tidak membuat mata dunia internasional untuk berhenti memberikan decak kagum akan Provinsi Bengkulu, karena selain menjanjikan dalam hal hasil bumi berupa lada dan komoditi emas, bengkulu juga memberikan sensasi kekaguman tersendiri karena di daerah Bengkulu tengah adalah tempat pertama kali, ditemukan bunga purbakala bernilai sejarah tinggi yaitu Raflessia Arnoldy pada tahun 1818 (bunga terbesar didunia dengan diameter mencapai satu setengah meter) oleh pedagang asal Inggris. Tidak cukup sampai disitu, Bunga Kibut (Amorphopalus titanuum) setinggi dua meter juga turut ditemukan di daerah Bengkulu Utara dan selatan.
Bagian timur daerah ini merupakan dataran tinggi dan pegunungan dengan udara sejuk serta memiliki berbagai fenomena alam unik seperti kawah vulkanik yang dapat didekati manusia, air panas alam untuk kesehatan, air terjun, danau, dan telaga tujuh warna. Selain itu, wilayah ini juga menjadi pusat sayur mayur serta buah-buahan dan perkebunan teh yang terhampar layaknya permadani hijau. Di bagian barat merupakan dataran rendah dengan vegetasi cemara laut disepanjang pantai berpasir putih. Di perairan bengkulu berserakan hamparan pulau-pulau kecil seperti Pulau Tikus, Pulau Mego, dan Pulau Dua yang kaya akan berbagai jenis ikan serta memiliki daya tarik wisata bahari tersendiri.
Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mengabadikan replika rumah adat beserta seluruh adat budaya bengkulu melalui anjungan Provinsi Bengkulu. Khasanah budaya yang mempesona seakan terwakili dengan menyaksikan Rumah Adat Rakyat Rejang Lebong berbentuk rumah panggung di sisi sebelah utara anjungan. Rumah kayu pelituran dengan beberapa bagian seperti teras, ruang tamu, ruang tidur, dan ruang keluarga tampak begitu nyaman sehingga membawa para pengunjung sedikit membayangkan elok nya bentuk rumah adat tersebut di daerah asalnya.
Zaman dahulu kala, Bengkulu terdiri dari banyak sekali kerajaan dimana semuanya berada dibawah kesultanan Banten. Oleh karena itu, beragam pakaian adat baik untuk acara resmi kerajaan dan pernikahan seakan mewakili masing-masing kerajaan yang pernah ada di sana. Berbagai replika pakaian adat serta busana pengantin dari berbagai kabupaten di Bengkulu dapat ditemukan di anjungan provinsi Bengkulu TMII, yakni dari Kabupaten Seluma, Lebong, Bengkulu tengah, Bengkulu utara, Bengkulu selatan, Kepahiang, dan Kota Bengkulu. Baju-baju adat daerah Bengkulu selain merupakan warisan asli suku Rejang, juga merupakan hasil perpaduan apik dengan kebudayaan melayu dan minangkabau.
Selain melayu dan minangkabau, suku bangsa yang membaur dengan penduduk asli bengkulu terbilang cukup banyak, mulai dari suku jawa, serawai, lembak, dan pekal. Di tambah pembauran etnis dengan suku bangsa lain maka semakin membawa pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan adat istiadat masyarakat bengkulu. Oleh karena penggabungan kultur tersebut, maka lahirlah sebuah kebudayaan lokal bernama Tabot yang diadakan setiap tahunnya dari tanggal 1-10 Muharram sesuai kalender Islam. 
?“DOL” alat musik tabuh tradisional khas Bengkulu di Anjungan Bengkulu TMII

Tabot merupakan budaya asli bengkulu dalam memperingati kepahlawanan Hasan dan Husen yang mati dalam peperangan melawan orang-orang yazid. Seni budaya Tabot ini merupakan perpaduan tradisi masyarakat lokal dengan Islam syiah secara kultural yang dikembangkan oleh Syekh Burhanudin sebagai Imam Senggolo, pada abad 15, setelah sebelumnya menikahi wanita asli bengkulu terlebih dahulu. Dalam perayaan Tabot turut dimainkan alat musik tradisional khas bengkulu bernama “Dol” yang sekilas berbentuk seperti beduk. Dol berbentuk setengah bulat lonjong dihiasi ornamen berwarna-warni, terbuat dari kayu atau bonggol kelapa yang ringan namun kuat atau kadang juga terbuat dari kayu pohon nangka. Bonggol pohon kelapa dilubangi dan bagian atasnya ditutup kulit sapi atau kulit kambing. Diameter dol terbesar bisa mencapai 70-125 cm, dengan tinggi 80 cm dengan alat pemukul yang berdiameter 5 cm, serta memiliki ukuran panjang 30 cm.
Perkembangan Islam di tanah Bengkulu diyakini menjadi penyebab lahirnya kain batik bernama Batik Besurek. Dikatakan demikian karena kain batik besurek merupakan batik khas bengkulu berhiaskan huruf-huruf arab gundul. Terkait perkembangan agama di provinsi Bengkulu, hingga saat ini sangat beragam agama yang berkembang disana, mulai Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholik, Hindu, dan Buddha. Dengan demikian semakin bertambah pula khasanah keragaman di Bengkulu.
Seni Tari Kejei juga merupakan sebuah kesenian asli suku Rejang di bengkulu yang sangat menggoda untuk dinikmati. Tarian ini merupakan tarian perkenalan antara para bujang dengan gadis asli suku rejang. Seni tari ini dilakukan saat malam hari, berhiaskan lampion, diiringi alat-alat musik yang terbuat dari bambu seperti alat pukul, seruling, dan gong. Tari Kejei biasa diadakan dalam upacara pernikahan serta adat marga dan untuk menjaga kesakralannya maka kerap diiringi dengan pemotongan hewan kerbau atau sapi sebagai syarat. Namun saat orang-orang majapahit datang ke bengkulu, maka alat-alat musik berbahan dasar bambu banyak berubah menjadi bahan logam.
Jika dicermati, kekayaan bumi khas bengkulu sangat banyak, dimulai dengan rotan, kayu medang, kayu meranti, kelapa sawit, buah durian, karet, dan kopi. Disamping itu, dikarenakan letak geografis bengkulu yang berada di pesisir pulau sumatera, maka daerah ini juga menjelma menjadi sebuah daerah yang memiliki Taman Laut indah yang terletak di pulau Enggano. Selain itu, disini juga terkenal dengan ragam hewan menariknya, yakni harimau sumatera, gajah sumatera, badak sumatera, serta beruang madu bertubuh tambun, besar, dan lucu. Khusus untuk gajah sumatera, maka bengkulu telah berhasil melakukan penangkaran terhadap hewan tersebut sehingga menjadi salah satu atraksi wisata bernama Pusat Latihan Gajah Bengkulu.
Kota Bengkulu sebagai ibukota provinsi merupakan kota pantai tua yang memiliki peninggalan sejarah kolonialisme Inggris berupa benteng Marlborough, monumen Thomas Parr, tugu Hamilton, dan pemakaman Eropa. Disamping itu, kota bengkulu memiliki arti penting dalam rangkaian sejarah perjuangan bangsa Indonesia yaitu sebagai tempat pembuangan Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro, Sentot Alibasya, dan Ir.Soekarno yang kemudian menjadi Presiden RI pertama. Istri Soekarno sendiri yaitu Fatmawati merupakan wanita kelahiran Kota Bengkulu yang tercatat dalam sejarah negeri ini sebagai penjahit Bendera Merah Putih pertama.
Rumah Rakyat Rejang Lebong di Anjungan Provinsi Bengkulu TMII tempat dimana Ir.Soekarno tinggal di masa pembuangannya di Bengkulu
Betapa kaya negeri ini, beraneka ragam budaya, suku, serta agama menjadi nilai keabsahan negeri ini, sebagai negeri kepulauan terbesar di dunia. Dan Provinsi Bengkulu atau dikenal dengan julukan ” Bumi Rafflesia” memberikan sumbangsih yang tiada terkira bagi seluruh elemen bangsa Indonesia. Dan semuanya terekam abadi di anjungan Provinsi Bengkulu Taman Mini Indonesia Indah sampai hari ini.
Lihat juga...