RABU, 16 MARET 2016
Jurnalis : Bobby Andalan / Editor : Fadhlan Armey / Sumber Foto: Bobby Andalan
BALI — Jika selama ini kita menemukan sablon baju dari bahan kimia, tetapi di Bali terdapat usaha sablon baju mengunakan bahan alami. Aneka tumbuhan menjadi bahan dasarnya.
![]() |
| Sablon berbahan alami |
Ia adalah Wayan Hendra dan Gus Timbul, kakak beradik yang bereksperimen menemukan bahan baku sablon ramah lingkungan tersebut.
Wayan Hendra menuturkan, penemuan ia dan kakaknya dimulai pada tahun 2005. Kala itu, ia mengaku prihatin dengan kondisi lingkungan di Kota Denpasar.
“Kalau kita ke Denpasar, maka air sungainya sudah bercampur dengan limbah sablon. Warna air sungainya seperti hijau kejinggaan,” kata Hendra kepada Cendana News saat ditemui di Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Rabu (16/3/2016).
Hendra mencoba menelusurinya. Rupanya, limbah itu berasal dari industri sablon di Kota Denpasar.
“Rupanya itu pewarna dari kain pantai. Habitat ikannya mati,” ucapnya.
Hendra kemudian meyakini jika terdapat bahan sablon yang ramah lingkungan.
“Leluhur kita pada zaman dahulu saja bisa buat batik tanpa zat kimia. Makanya saya coba berfikir dan bereksperimen,” papar dia.
ia kemudian bereksperimen menggunakan racikan dedaunan. “Kita racik dicampur tawas, kapur sirih dan getah pisang,” bebernya.
Ternyata usaha kedua kakak beradik tersebut tidaklah langsung menemukan bahan yang pas untuk sablonnya. Beberapa kali mencoba, mereka gagal. Hingga akhirnya usahanya membuahkan hasil. Mereka mendapatkan racikan pas untuk usaha sablon ramah lingkungannya.
Mereka menggunakan beberapa tumbuhan seperti daun mangga, kunyit, akar mengkudu, daun ketapang, daun samiroto dan sejumlah dedaunan lainnya.
“Dari bahan itu kita menghasilkan beberapa macam warna, di antaranya merah, cokelat, biru, hijau kaki, hitam kecoklatan. Tapi karena bahan alami, maka tidak sekuat bahan kimia. Tapi efek lingkungannya bagus,” tegas Hendra.
Selain bahan dasar alami, Hendra kini tengah bereksperimen untuk dapat menjadikan baju hasil sablonnya memiliki efek bagi kesehatan. Ya, bahan alami dari tumbuhan yang mayoritas rempah-rempah bisa digunakan untuk kesehatan. Katanya, uap dari hasil sablon bajunya menyatu dengan tubuh pengguna hasil sablonnya.
“Selain alami, uap bahan dasar menyatu dengan tubuh kita. Jadi, ini untuk kesehatan, seperti jamu. Selain ramah lingkungan produk kita lebih mengandung unsur kesehatan,” ungkap dia.
Bersama kakaknya itu juga Hendra kemudian memberi nama produk usahanya Gadgad Organic. “Baru Desember 2015 kemarin kita resmikan,” ulas dia.
Meski terbilang baru, namun produknya itu sudah dikenal luas. “Ada yang pesan dari Yogyakarta, Bogor dan kota lainnya. Dari mancanegara ada dari Thailand, Amerika Serikat, Australia dan Tiongkok. Kita masih industri rumahan, belum ada toko,” ungkapnya.
Hendra menjelaskan, Gadgad Organic memiliki arti khusus. Gadgad, merupakan nama kutu ayam. “Ayam itu kalau dia bertelur mengeluarkan gadgad. Gadgad itu membantu proses penetasan,” jelas dia.
Yang lebih unik, setiap penjualan satu picis bajunya, maka Hendra berkomitmen akan menanam satu buah pohon.
“Satu baju terjual kita siap tanam satu pohon. Di bedugul sudah kita tanam 50 pohon dari 50 orang yang membeli baju kita. Masing-masing pohon kita beri nama pembeli,” tambahnya.
![]() |
| Bahan pewarna alami untuk sablon |
Sementara itu, Gus Timbul menjelaskan, selain baju, usahanya juga menjual goody back, kanvas dan kantong sampah daur ulang. Untuk perawatan produknya, Timbul menjelaskan mudah untuk merawatnya.
“Hindari dari sinar matahari langsung saat pencucian. Gunakan detergen lembut, jangan disikat, hindari londry karena obatnya keras. Cuci pakai tangan saja. Ada teman yang menyarankan dicuci pakai shampoo. Kami menyarankan menggunakan detergen organik, tapi masih mahal harganya,” imbuhnya.
