SELASA, 15 MARET 2016
Jurnalis: M. Fahrul / Editor: ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: M. Fahrul
SUMENEP — Memasuki pada musim hujan, produksi terasi di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur terhambat, pasalnya dengan susahnya mendapatkan sinar matahari membuat proses produksi terhambat, sehingga untuk menghasilkan produk usaha yang selama ini mereka tekuni membutuhkan waktu yang cukup lama.
![]() |
| Salah seorang warga sedang menjemur bahan baku terasi |
“Ya kalau musim kemarau satu sampai dua hari produksi terasi sudah selesai, tapi jika pada musim hujan kali ini tidak menentun karena masih menunggu ada sinar matahari untuk menjemur udang yang sudah dihaluskan,” kata Zainabun (41) salah seorang pengusaha terasi di Kabupaten Sumenep, Selasa (15/3/2016).
Disebutkan, bahwa ketika pada musim hujan seperti ini biasanya para pengusaha terasi sudah kebingungan, karena keberadaan cuaca yang tidak menentu membuat proses produksi usahanya akan terhambat, sehingga nantinya juga akan berpengaruh terhadap pemasaran, sebab jika ada pesanan tiba-tiba kondisi cuaca sering hujan, maka jelas akan merugi.
“Jadi ketika ada pembeli sedang pesan ternyata masih belum bisa produksi itu kan sudah rugi kami, sehingga jika musim hujan seperti ini bukan hanya produksi saja yang terhambat, tapi ke pemasarannya juga menghambat,” jelasnya.
Dengan belum memilikinya alat pengering yang tanpa menggunakan sinar matahari, membuat para pengusaha hanya bisa pasrah ketika hujan turun secara terus menerus, sebab mereka sudah tidak memiliki cara lain dalam mengeringkan bahan baku terasi.
“Disini rata-rata mengeringkan menggunakan panasnya matahari, jadi ketika tiba-tiba hujan saat menjemur mereka semuanya bingung, karena khawatir bahan bakunya tidak kering,” ujarnya.

Mayoritas para pengusaha terasi yang ada di wilayah ini masih belum ada yang menggunakan alat modern, mereka hanya mengandalkan peralatan tradisional seadanya dalam melakukan proses produksi terasi.