JUMAT, 25 MARET 2016
Jurnalis: M. Fahrul / Editor: ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: M. Fahrul
SUMENEP — Ratusan guru honorer yang ada di Wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur menggelar doa bersama dalam rangka memperingati tujuh hari meninggalnya Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Dr. H. Sulistiyo, MPd dalam sebuah insiden di di RS Mintohardjo.
![]() |
| Doa bersama dalam rangka memperingati tujuh hari meninggalnya Ketua Umum PGRI, Dr. H. Sulistiyo, MPd |
Almarhum dinilai selalu memperjuangkan hak guru honorer, sehingga mereka merasa kehilangan sosok pejuang para guru honorer kategori dua (K2) yang ada di negara ini. Nasib buram yang dialami guru honorer hingga kini masih belum jelas, dan hingga akhir hayatnya belum kunjung tercapai.
“Kita sangat kehilangan sosok yang di kagumi honorer kategori dua, makanya kita harus kenang jasa-jasanya yang selalu memperjuangkan nasib guru honorer, makanya kami berkumpul dalam rangka menggelar doa bersama,” kata Rahman, Kordinator Guru Honorer Kabupaten Sumenep, Jumat (25/3/2016).
Disebutkan, bahwa para guru honorer yang ada di daerah terkejut ketika mendengar kejadian tersebut. Mereka berharap semangat almarhum dapat terus tertanam untuk dilanjutkan oleh guru honorer yang ada di daerah ini.
“Jadi mudah-mudahan semangat beliau tetap tertanam dihati kami agar melanjutkan perjuangan,” jelasnya.

Menurutnya, Sulistyo merupakan sosok pahlawan di mata para guru honorer yang ada di negara ini, sebab ia selalu berjuang bersama-sama menagih janji pemerintah untuk mengangkat para tenaga guru honorer kategori dua (K2) untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
“Kami akan tetap melanjutkan perjuangannya, sehingga seluruh guru honorer bisa mendapatkan kesejahteraan yang layak,” terangnya.
Selama ini guru honorer yang ada di daerah ini yang lembaga pendidikan hanya diberi honor sebesar Rp. 250.000 per bulan yang di subsidi oleh pemeritah daerah.
Sementara itu A. Shadik, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep mengatakan, sangat apresiasi untuk mewujudkan kesjahteraan para guru honorer, sehingga pihaknya telah menganggarkan dan guna bisa menambah kesejahraannya selama mengabdi di lembaga pendidikan yang sudah sangat lama.
“Saya sangat mengapresiasi sekali terhadap K2, makanya kami wujudkan menganggarkan kesejahteraan mereka yaitu Rp. 250.000 setiap bulan, memang ini kecil, jadi kami berjuang melalui pemerintah agar K2 ini cepat di angkat,” paparnya.

Pihaknya juga berjanji akan terus ikut memperjuangkan nasib para guru honorer kategori dua (K2) agar segera diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).