Mahasiswa FPIK UB Gagas Ekowisata Mangrove Malam Hari

KAMIS, 10 MARET 2016
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Agus Nurchaliq

MALANG — Keberhasilan Kontingen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) menjadi juara umum Rektor Cup UB untuk ketiga kalinya berturut-turut, tentunya tidak dapat dilepaskan dari peran mahasiswa yang mengikuti ajang tersebut. 
Mahasiswa FPIK UB
Bagus Adi Ardana, Marlinda Elvina Susanti dan Makata Aldian Rizky Nugraha merupakan mahasiswa FPIK yang memperoleh medali perak dalam ajang Rektor Cup di bidang Pengabdian masyarakat.
Dengan berbekal proposal yang berjudul “Ekomang fantasy : petualangan ekowisata mangrove malam hari di pantai Clungup Kabupaten Malang” ketiga mahasiswa FPIK ini berhasil menjadi juara dua dalam ajang tersebut.
Bagus menjelaskan, tema ekowisata mangrove malam hari sendiri merupakan penggabungan antara konsep wisata modern dan konsep wisata alam.
“Disini kita bertiga menggabungkan dua konsep wisata yaitu konsep wisata modern dan konsep wisata alam, dimana penggabungan dua konsep wisata tersebut tidak mengurangi sisi konservasi sehingga tidak merusak alam. Kami lebih mengedepankan keberlangsungan ekosistem di alam walaupun kami juga mengadopsi konsep wisata modern,”jelasnya kepada Cendana News, Kamis (10/3/2016).
Marlinda menceritakan, ide awal dari proposal ekowisata mangrove malam hari tersebut berasal dari ketidak sengajaan mereka saat mengunjungi salah satu pantai di Kabupaten Malang yakni pantai Clungup. Menurutnya, pantai yang berada di daerah Malang selatan tersebut memiliki hutan mangrove. 
“Namun sayang hutan mangrovenya sendiri tidak memiliki nilai ekonomi karena kondisinya sudah banyak yang rusak dan hanya dijadikan aset menuju pantai sehingga. Dari situ, kami menggagas sebuah konsep agar mangrove tersebut memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar,”terangnya.
Aldian menyampaikan, mereka bertiga memilih waktu wisata di malam hari karena menurutnya pada malam hari kebanyakan wisatawan yang menginap disana dengan menggunakan tenda hanya bisa nongkrong, ngobrol atau tidur tanpa bisa melakukan aktivitas lainnya.
“Jadi kami bertiga memilih waktu malam hari agar nanti jika ada wisatawan yang datang dan bermalam di pantai tersebut, mereka bisa memiliki aktivitas lain selain nongkrong, ngobrol dan tidur,”ucapnya.
Untuk aktivitas yang kita tawarkan yaitu berupa petualangan. Petualangan ini berbasis edukasi yang nantinya dapat memberi pengetahuan mengenai tanaman mangrove, pentingnya mangrove dan pengetahuan mengenai flora dan fauna apa saja yang ada dalam ekosistem mangrove.
Marlinda menambahkan, konsep wisata kami ini juga memberdayakan masyarakat sekitar untuk menjadi pemandu wisata dan mengelola ekowisata tersebut.
Sementara itu, mereka bertiga menjelaskan bahwa penilaian dari lomba Rektor Cup terdiri dari dua komponen yaitu 40% penilaian dari proposal yang mereka buat dan 60% penilaian dari presentasi. Disebutkan, terdapat beberapa aspek yang juga di nilai diantaranya orisinalitas ide, pemahaman materi dan kekompakan tim.
Lihat juga...