![]() |
| Kerupuk Ikan BDS |
Tren
- Islamisme Reaktif Menghidupkan Industri Perang
- Bertemu Langsung Titiek Soeharto, Warga Keluhkan Kondisi Lahan Sawah Tak Produktif
- MUI Ketika Cenderung Politis
- BoP, Paradoks Aktivis Muslim
- Prabowo dalam Pusaran Elit Global
- Ramadhan, Bulan Kebangkitan Literasi
- Khilafah Tunggal Vs Kolaborasi Realistis
- Serangan AS‑Israel ke Iran Perspektif Hukum Internasional
- Zakat Instrumen Keadilan Sosial
- Kontrak Sosial dalam Islam
SABTU, 19 MARET 2016
Jurnalis : Ferry Cahyanti/ Editor : Fadhlan Armey / Sumber Foto: Ferry Cahyanti
BALIKPAPAN — Bangkrut dalam bisnis kulinernya ditahun 1997, tak mengurangi semangatnya untuk berbisnis. Sri Astuti seorang warga Balikpapan, yang mencoba peruntungannya melalui olahan kepuruk ikan tampaknya membuahkan hasil.
Pada awalnya kita mencoba buka usaha kue kering dan kue basah, yang kemudian dititipkan ke outlet-outlet, ungkapnya. Seiring berjalannya waktu akhirnya Tuti berhasil mengembangkan usahanya sebagai pemasok dan pengecer krupuk olahan ikan. Krupuk buatannya ini sangat banyak permintaan.
Sri mengatakan, kerupuk ikan yang diolahnya tersebut tidak hanya dari satu jenis ikan namun terdapat berbagai macam jenis ikan hingga kepiting. Bahkan kini merambah pada olahan amplang. Berbagai produk olahan yang dihasilkan ini diberi nama “BDS Snake”. Usaha nya kini semakin pesat, terbukti, kini perminggunya dapat memproduksi mencapai 80 kilogram. Padahal sebelumnya hanya 20 Kg perminggunya.
“Sekarang makin bertambah produk olahannya, dari 20 kilogram mejadi 80 kilogram perminggunya. Tidak hanya itu, jumlah pekerja juga bertambah dari tiga orang menjadi 18 pekerja,” terangnya saat ditemui Sabtu (19/3/2016).
Seiring tingginya permintaan, Ia pun merambah ke pasar modern dengan berbagai produk yang dihasilkan. Beberapa ritel yang ada di Balikpapan akan menemui produk olahan Sri Astuti yakni BDS Snake.
Untuk mempertahankan produk yang dihasilkan, Sri mengatakan setiap tahun harus menciptakan berbagai produk olahan lainnya. Adapun produk yang dihasilkannya seperti aneka stik seafod, dodol rumput laut dan sirup rumput laut kombinasi tulang ikan.
“Hingga kini ada enam jenis produk dengan total 18 varian meliputi aneka amplang, aneka krupuk mentah dan bakar serta lainnya,” sambungnya.
Sri Astuti optimis dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean bisnis, hal ini dikarenakan produk olahannya mampu bertahan ditengah persaingan yang kompetitif.
Lihat juga...