RABU, 23 MARET 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: ME. Bijo Dirajo / Sumber foto : Ebed De Rosary
LARANTUKA — Menyongsong prosesi Jumat Agung, ratusan warga kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) melaksanakan ritual Tikam Turo di kelurahan dan Armida masing–masing dibawah komando Tuan Mardomu (orang yang bertugas menyiapkan perlengkapan pembuatan Turo).
![]() |
| Warga kelurahan Pohon Sirih sedang melaksanakan ritual Tikam Turo |
Ritual Tikam Turo, artinya membuat Turo (pagar yang akan dipakai untuk mengikat lilin) yang akan dipakai saat Prosesi Jumat Agung.
Warga kelurahan Pohon Sirih, Petrus Pedo Derosari menyebutkan, sekitar 10 tahun belakangan, Tikam Turo dilaksanakan hari Rabu sebab hari Kamis banyak kegiatan yang akan dilaksanakan di gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka.
Sementara Tuan Mardomu menyiapkan perlengkapan pembuatan Turo seperti bambu belah dan kayu (biasanya kayu lokal bernama Kukong) serta lilin yang diikat.
“Kalau di Kapela Tuan Mardomu juga menyiapkan makan minum bagi petugas yang berdoa serta menjaga keamanan di Kapela Tuan Ana dan Tuan Ma,” ujarnya.
Sementara itu, Dominikus da Costa dan Yohanes Buang da Silva menyebutkan, terdapat 4 suku yang memegang peranan dalam prosesi tersebut.
“Suku Ama Koten, Ama Kelen, Ama Hurint dan Ama Maran,”sebut perwakilan 4 suku yang ada di Armida Amu Tuan Mesias Anak Allah di kelurahan Balela yang ditemui Cendana News saat berada di kapela Santo Philipus Balela.
Perwakilan dari ke empat suku ini sebut Dominikus, bertugas mengontrol kegiatan Tikam Turo dan pembuatan Armida.
“Kalau di kelurahan Balela, kayu untuk Turo disiapkan oleh setiap keluarga yang ada di dalam kelurahan, sementara Tuan Mardomu hanya menyiapkan bilah bambu, tali dan lilin,“ ungkap Dominikus.

Romo Yos Lela Diaz,Pr dalam bukunya Devosi dan Tradisi di kapela Tuan Meninu menjelaskan, makna teologi dari Tikam Turo yakni buka jalan, siapkan jalan ke pekuburan Yesus. Jalan untuk mengarahkan Yesus dari salib ke kuburNya.
Jika Yohanes Pembaptis dulu menyiapkan jalan yang lurus dan rata untuk kedatangan Yesus.
“Sementara dengan Tikam Turo ini, kita menyiapkan jalan kembalinya Yesus. Jalan ini adalah jalan ke alam kematian. Maka itu ia harus terang dan bersinar,”sebutnya.
Disaksikan Cendana News di kelurahan Pohon Sirih dan Balela, sejak pukul 06.00 Wita, beberapa pemuda dan orang tua terlihat mendatangi rumah Tuan Mardomu guna mengambil bilah bambu dan tali Gebang (dari daun Lontar yang dikeringkan) dan meletakannya di dua ruas jalan yang menjadi rute prosesi.
Masyarakat membawa kayu untuk tiang (kayu Kukong) dari rumah masing – masing dan meletakannya di ruas jalan. Kegiatan Tikam Turo mulai dilaksanakan jam 07.00 Wita dan berakhir sekitar pukul 09.00 Wita.