JUMAT, 25 MARET 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Ratusan umat Katolik di Lampung melakukan ibadah Jumat Agung di sejumlah gereja yang ada di Keuskupan Sufragan Tanjungkarang. Pemimpin ibadah Jumat Agung di kapela Santo Petrus dan Paulus Kecamatan Penengahan, Ngatijo Pokro mengungkapkan, perayaan dilakukan dalam dua bagian, yakni ibadah Sabda dengan mendengarkan bacaan Alkitab terutama kisah sengsara Isa Almasih yang dinubuatkan dari Kitab Perjanjian Lama dan Ibadah penghormatan Salib.
![]() |
| Prosesi Penghormatan Salin |
Menurut Ngatijo Pokro, dalam ibadah Jumat Agung, umat Katolik tidak merayakan Ekaristi atau Misa namun mengenangkan sengsara dan wafat Yesus Kristus dalam Ibadah JUMAT AGUNG. Berbeda dengan malam Kamis Putih perayaan ibadah Jumat Agung di kapel Santo Petrus dan Paulus dipimpin tanpa pastor dan hanya dipimpin katekis.
Ia menegaskan, Misa tidak sama dengan ibadat dimana dalam Ibadah tidak ada konsekrasi roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus. Semua Hosti yang diterima oleh umat merupakan hosti yang telah dikonsekrasi pada Misa Kamis Putih kemarin.
”Tradisi Gereja Katolik ini merupakan warisan Gereja yang terus dijalankan hingga saat ini dan merupakan bagian perayaan tri hari Suci menjelang Hari Raya Paskah,”ungkap Ngatijo Pokro dalam kotbah saat memimpin ibadah Jumat Agung, Jumat (25/3/2016)
Ia menegaskan, dalam Gereja Katolik, hanya ada dua waktu sepanjang tahun, di mana Gereja tidak merayakan Misa, yaitu pada Jumat Agung dan Sabtu Suci (pagi sebelum Misa Malam Paskah).
Selama perayaan tersebut umat Katolik juga belum mengucapkan selamat Paskah pada Jumat Agung.
”Kita bertukar ucapan selamat Paskah, atau Kristus sudah bangkit!” yang dijawab dengan balasan Ia sungguh telah bangkit! “mulai sejak Misa Malam Paskah,”ungkapnya.
Ibadah Jumat Agung merupakan ibadah umat Kristiani mengenangkan sengsara dan wafat Yesus Kristus sehingga dalam semua bacaan perjanjian lama, mazmur serta lagu antar bacaan didominasi tentang nubuatan kematian Yesus Kristus.
Ngatijo Pokro mengungkapkan ibadah sabda dibawakan oleh tim “pasio” yang membacakan kisah sengsara Yesus Kristus yang ada dalam kitab Injil. Sebanyak empat pembaca pasio berdiri di depan altar dan umat mendengarkan kisah sengsara Yesus Kristus sejak penangkapan hingga disalibkan dan wafat di kayu Salib di Gunung Golgota.
“Disejumlah gereja pasio dilakukan dengan tablo atau drama penyaliban Yesus yang dilakukan oleh beberapa remaja namun beberapa hanya pasio pembacaan kisah sengsara”ungkapnya.

Puncaknya umat melakukan penghormatan kayu salib dengan melakukan prosesi penghormatan salib yang diletakkan di depan altar. Selama pekan suci warna liturgi gereja Katolik menggunakan warna ungu sebagai simbol kesedihan dan mengenang sengsara wafat Kristus.
Pantauan Cendana News, umat mendengarkan pasio dengan khidmat dan dilanjutkan dengan prosesi penghormatan salib.