Gerhana Matahari, Warga Lampung Tetap Lakukan Berbagai Aktifitas

RABU, 9 MARET 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi 

LAMPUNG — Fenomena gerhana matahari total (GMT) yang terjadi di sebagian wilayah Indonesia menjadi daya tarik bagi sebagian besar masyarakat. Proses gerhana matahari sebagian untuk wilayah lampung mulai terjadi sekitar pukul 06:19 WIB.
Aktifitas petani
Pantauan Cendana News, selama proses terjadinya gerhana sebagian di Lampung, warga masih tetap melakukan aktifitas seperti biasanya. Puluhan petani di Dusun Sumbersari Desa Pasuruan bahkan tetap mencangkul dan menggarap sawahnya seperti hari biasa. Sebagian petani yang sudah memasuki masa tanam pun bahkan sibuk mengalirkan air ke sawahnya.
“Memang peristiwa langka tapi saya tetap melakukan aktifitas seperti biasa menggarap sawah, sementara anak anak dan isteri melihat dari rumah melalui televisi saat saat gerhana matahari,”ujar Dedi Setiawan kepada Cendana News, Rabu (9/3/2016).
Ia dan beberapa petani lainnya bahkan mengaku gerhana matahari menjadi peristiwa biasa dan bukan hal yang perlu dipersoalkan. Bagi Dedi Setiawan, fenomena tersebut menjadi saat untuk melihat kebesaran dan keagungan Sang pencipta namun aktifitas harian tetap harus dijalankan.
Berbeda dengan petani yang masih menjalankan aktifitas seperti biasa. Ratusan warga di beberapa desa mulai memasuki beberapa masjid untuk mempersiapkan Sholat Gerhana. 
Masjid sejak pagi sudah banyak yang berdatangan untuk mendengarkan khutbah dari khatib dan dilanjutkan dengan Sholat Gerhana. Salah satunya di masjid Al Furqon Desa Klaten.
“Tadi ayah meminta kami untuk pergi ke masjid agar ikut Sholat gerhana berjamaah dan tidak boleh keluar masjid sebelum selesai sholat gerhana,”ungkap Amin salah satu anak yang akan mengikuti Sholat gerhana.
melihat gerhana matahari dengan media sederhana
Sementara itu rasa penasaran warga Lampung yang ingin menyaksikan gerhana matahari meski tidak mengalami gerhana matahari total dilakukan dengan membuat kamera lubang jarum. Sebagian bahkan membuat alat sederhana tersebut jauh jauh hari sebelum fenomena langka tersebut terjadi.
Salah satu warga, Budi Santoso, mengaku fenomena langka gerhana matahari yang terlihat di Lampung berdasarkan informasi yang ia peroleh memang tidak total melainkan hanya sekitar 92,36 persen pada puncaknya sekitar pukul 07:20 WIB dan akan hilang pada pukul 08:30 WIB.
Budi mengaku mempersiapkan alat kamera lubang jarum dengan menggunakan peralatan sederhana yakni kardus, selotip, alumunium foli, jarum, cutter, kertas putih sehingga pengamatan bisa dilakukan.
Sementara itu warga lain mengggunakan alat sangat sederhana berupa beberapa lembar potongan kaca warna hitam dengan dilapisi filter film. Salah satunya, Ansori, ia membuat potongan potongan kaca dan bisa melihat gerhana matahari sebagian yang berbentuk bulan sabit dengan alat yang dibuatnya.
“Kalau melihat langsung bahaya, jadinya saya langsung membuat alat dari potongan kaca dengan filter film lumayan hasilnya masih bisa terlihat gerhana sebagian,”ungkap Ansori.
Hal unik lainnya pun dilakukan warga untuk melihat fenomena gerhana matahari total dengan melihat melalui layar televisi dari berbagai saluran. Sementara cara unik dilakukan oleh orangtua dengan melarang anak anak melihat secara langsung melainkan melalui bayangan di dinding rumah.
Sugi, orangtua yang memiliki tiga cucu bahkan memperlihatkan kepada cucu cucunya bayangan matahari yang membentuk bulan sabit ke dinding. Cara itu menurutnya paling aman dan tetap bisa menjelaskan fenomena langka gerhana matahari.
“Saya tunjukkan hampir di setiap kamar ada bayangan dari cahaya matahari yang menembus celah genteng dan refleksinya terpantul ke dinding menyerupai bulan sabit dan cucu banyak yang paham gerhana matahari,”ungkapnya.
Sugi mengaku tak membatasi cucu cucunya untuk mengetahui fenomena langka tersebut. Ia bahkan mengaku agar anak tidak jenuh atas kondisi pembatasan, kata dia, seyogianya orang tua memberikan aktivitas yang menyenangkan dan aman buat anak.
Menurut dia, alangkah lebih baik jika orang tua memiliki pengetahuan cukup soal gerhana matahari sehingga dapat menjelaskan kepada anak mengenai fenomena alam itu.
“Menjelaskan pada anak sesuai fase perkembangannya, meski gerhana matahari itu bersejarah tapi melihat secara langsung memiliki efek samping kerusakan pada mata yang disebut solar eclipse retinopathy. Jika ingin melihat pastikan dengan alat yang aman tapi saya lakukan cara paling sederhana memperlihatkan bayangan di dinding,” kata dia.
Dia juga mengimbau agar anak dalam pantauan orang tua. Anak lebih rentan mengalami gangguan, apalagi karakteristik mata anak, memiliki lensa mata lebih jernih sehingga radiasi cahaya yang masuk ke mata lebih banyak dibandingkan orang dewasa.
Hingga belum berakhirnya peristiwa gerhana matahari warga pun banyak terlihat melihat gerhana matahari total di beberapa tempat diantaranya di beberapa pantai di Lampung Selatan. Sementara di beberapa tempat warga mulai menjalankan aktifitas seperti biasa paska gerhana berlangsung bertepatan dengan hari libur Hari Raya Nyepi tahun saka 1938.
Lihat juga...