SABTU, 26 MARET 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Fadhlan Armey / Sumber Foto: Miechell Koagouw
TMII JAKARTA — HM Soeharto, Presiden kedua Republik Indonesia pernah berkata : “Jika anda ingin maju, anda harus pandai mengenal apa yang terjadi, pandai melihat, pandai mendengar, dan pandai menganalisa”. Hal ini dapat menjadi sebuah pengingat bagi setiap anak muda yang ada di Republik Indonesia saat ini dalam upaya pengembangan diri. Hal tersebut berlaku juga bagi Provinsi Kalimantan utara (Kaltara) atau ‘Borneo Utara’ sebagai Provinsi termuda di Indonesia yang membutuhkan sentuhan-sentuhan pembangunan menyeluruh demi menggapai cita-cita murni seluruh masyarakatnya.
| ?Diorama patung khas suku dayak di depan ruangan khusus anjungan Kalimantan utara TMII |
Kaltara terletak di utara Pulau Kalimantan dan berbatasan langsung dengan negara tetangga yakni negara bagian Sabah dan Serawak, Malaysia timur. Hari jadi Provinsi Kaltara jatuh pada tanggal 25 Oktober 2012. Anjungan Kaltara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) masih menyatu dengan anjungan provinsi Kalimantan timur, namun pembagian kabupaten terlihat jelas dalam setiap diorama yang disajikan anjungan tersebut. Dan apa yang akan dilakukan Kaltara demi menjadi sebuah provinsi yang maju dan modern tersaji rapih disini.
Kalimantan utara terdiri dari 5 (lima) Kabupaten/Kota, dimana masing-masing kabupaten memiliki ciri khas tersendiri dari segi budaya maupun suku asli (Suku Dayak) yang berdiam disana. Mereka mengandalkan sektor pariwisata untuk pemasukan daerahnya masing-masing. Kabupaten-kabupaten yang menjadi bagian dari visi serta misi Kaltara dalam pengembangan provinsi sekaligus Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada didalamnya adalah :
1. Kabupaten Tanjung Selor, merupakan ibukota provinsi dari Kalimantan utara. Kota Tanjung selor terletak di Kabupaten Bulungan dan merupakan pusat pemerintahan provinsi Kaltara. Tanjung selor sendiri bukanlah sebuah daerah yang berstatus kotamadya akan tetapi masih berstatus kecamatan. Suku dayak terbesar di daerah ini adalah suku dayak Kenyah, dayak Hupan (Kayan), suku Tidung, serta sedikit suku dayak Iban peninggalan panglima dayak terkenal sakti mandraguna bernama Sumbang Lawing.
2. Kota Tarakan, adalah kota terbesar di provinsi Kaltara sekaligus kota terkaya ke-17 di Indonesia. Tarakan atau disebut juga ‘Bumi Paguntaka’ berada di sebuah pulau kecil dengan semboyan humanis : BAIS (Bersih Aman Indah Sehat). Suku dayak terbesar yang berdiam disini adalah suku Tidung.
3. Kabupaten Nunukan, adalah salah satu kabupaten di provinsi Kaltara dengan motto : ‘penekindidebaya’ yang artinya ‘membangun daerah’ diambil dari bahasa dayak Tidung. Pelabuhan Nunukan merupakan pelabuhan lintas kota Tawau, Malaysia. Suku dayak terbesar yang berdiam disini adalah suku dayak Tidung, dan suku dayak Tingalan (dayak Agabag).
4. Kabupaten Malinau, sering disebut ‘Bumi Intimung’ pada awalnya adalah sebuah pemukiman suku Tidung. Kemudian berkembang menjadi perkampungan, lalu beranjak besar menjadi sebuah kecamatan, hingga akhirnya seiring perkembangan serta perjalanan bangsa Indonesia, maka Malinau menjelma menjadi sebuah Ibukota kabupaten. Suku dayak terbesar yang berdiam disini adalah suku dayak Tingalan (Agabag), dan suku dayak Tidung, diikuti beberapa suku lainnya seperti suku dayak Kenyah, dayak Lundayeh, dayak Punan, dan dayak Abbay.
| ?Diorama busana tradisional pengantin wanita dayak Tidung bernama ‘selampot’ |
5. Kabupaten Tanah Tidung, dengan ibukota Tidung Pala, biasa disebut dalam ejaan lokal daerah tersebut dengan Tideng Pale. Nama Tideng Pale berasal dari dua kosa kata bahasa tidung yakni ‘tideng dan pale’. Kata ‘Tideng’ berarti Gunung, sementara ‘Pale’ artinya Tawar/hambar. Suku dayak terbesar yang berdiam disini adalah suku dayak Tidung dengan ciri khas tarian bernama tari Enggang (enggang adalah nama sejenis burung di kalimantan yang dianggap sakral oleh suku dayak).
Suku dayak Tidung memiliki sejarah panjang di Kalimantan Utara. Mereka adalah penduduk asli disana sampai sekarang. Dan walaupun suku dayak Tidung sudah banyak memeluk agama Islam, namun masih menjaga tradisi kebudayaannya sebagai peninggalan leluhur mereka dari zaman dahulu kala. Di Kalimantan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Banyak berdiam etnis serta suku dari daerah nusantara lainnya seperti Bugis, Batak, Jawa, Manado, dan Tionghoa serta Arab, namun kerukunan dapat terjalin rapih di Tanah Tidung. Walaupun begitu, tetap harus menancapkan kewaspadaan tinggi terhadap oknum-oknum yang menginginkan terjadinya pergesekan demi kepentingan pribadi mereka di tanah Kalimantan utara yang disebut juga sebagai “Tanah Tidung”.
|
?Diorama busana adat pengantin Kabupaten Malinau Kalimantan utara
|
Belum terlalu banyak varian pameran benda budaya maupun diorama di anjungan Kalimantan utara, namun hal ini tidak bisa menjadi tolak ukur bahwa apa yang ditawarkan provinsi Kalimantan utara lewat anjungan Kaltara TMII tidak bisa dijadikan referensi bagi pengunjung untuk meluangkan waktu khusus berkunjung langsung ke Kalimantan utara. Dengan kata lain, setiap diorama yang ada di anjungan Kaltara mulai dari pakaian adat tradisional, replika kerajinan tangan, sampai brosur-brosur seolah ingin berkata tentang keseriusan provinsi termuda di Republik Indonesia ini untuk masuk dalam persaingan dari sisi pengembangan daerah agar bisa setara dengan daerah-daerah lainnya, atau minimal setara dengan ‘kakak tertua’ nya yakni provinsi Kalimantan Timur.
Kalau begitu, maka majulah engkau Kalimantan Utara, majulah terus sebagai potensi muda pulau kalimantan. Maju terus sampai engkau bisa mengguncang dunia.