KAMIS, 31 MARET 2016
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Agus Nurchaliq
MALANG — Pentas pertunjukkan Lumba-lumba yang diadakan Wersut Seguni Indonesia (WSI) di Lapangan Rampal Kota Malang pada bulan Maret hingga April 2016 menuai protes dari para mahasiswa yang menamakan diri sebagai Aliansi Mahasiswa Peduli Satwa (AMPS). Dengan membawa berbagai poster dan juga tulisan, puluhan mahasiswa peduli satwa ini menggelar aksi teatrikal di depan gedung Balaikota Malang, Kamis (31/3/2016).
![]() |
| Aksi AMPS di Malang |
Koordinator aksi, Algriawan Bayu menjelaskan, aksi mereka kali ini merupakan bentuk protes sekaligus penolakan terhadap penyelenggaraan sirkus lumba-lumba di lapangan Rampal. Menurutnya, pertunjukkan tersebut merupakan bentuk eksploitasi hewan yang kejam.
Bayu mengatakan, hasil investigasi AMPS di Rampal ditemukan bahwa kondisi lumba-lumba diindikasi menderita malnutrisi, dimana tulang rusuk dapat terlihat meski dari jarak yang tidak terlalu dekat. Malnutrisi dapat sebabkan karena faktor asupan makanan yang kurang, jadwal pertunjukan yang ketat dan metode pelatihan Reward and Punishment.
“Belum lagi keadaan kolam yang hanya berupa kolam tunggal, tidak dipisahkan antara kolam pertunjukan dan kolam pemeliharaan. Ukuran kolam juga hanya berdiameter sekitar 10 meter dengan kedalaman 3 hingga 4 meter yang sangat membatasi perilaku alami dari lumba-lumba,”ujarnya kepada Cendana News, Kamis (31/3/2016).
Ia menambahkan, air kolam yang dipakai menggunakan air tawar yang diberi garam dan kaporit yang berpotensi dapat melukai kulit dan mata dari hewan tersebut. Suara bising yang dihasilkan dari suara musik dan penonton, dapat membuat lumba-lumba menjadi stres.
“Lumba-lumba merupakan makhluk akustik yang sangat sensitif terhadap bunyi, sehingga suara musik dan tepukan serta teriakan penonton justru membuat lumba-lumba menjadi stres,”terangnya.
![]() |
| Koordinator aksi, Algriawan Bayu |
Pihaknya juga sudah mengajukan surat keberatan kepada pemerintah kota Malang untuk mencabut ijin operasional dan mencegah serta mensterilkan kota Malang dari segala bentuk aktivitas sirkus satwa di emudian hari. Karena penontonnya kebanyakan dari pelajar, pihaknya juga telah mengirimkan surat himbauan kepada Dinas Pendidikan kota Malang untuk menyebarkan ke seluruh sekolah-sekolah yang ada agar melarang siswa siswinya menonton pertunjukkan lumba-lumba tersebut.
“Sirkus lumba-lumba sama sekali tidak memiliki unsur edukatif sama sekali, tapi justru merupakan bentuk eksploitasi hewan yang kejam,”sebutnya.
Selain lumba-lumba, sirkus satwa yang diselenggarakan WSI di Rampal juga mempertontonkan hewan-hewan lain yang semuanya masuk dalam daftar hewan yang dilindungi, diantaranya beruang madu dan kakak tua jambul kuning.
