LAMPUNG—Usaha peternakan unggas jenis bebek pedaging ditekuni warga Desa Sripendowo Kecamatan Ketapang dan beberapa warga di desa lain yang memanfaatkan potensi lahan pertanian di sekitar tempat tinggalnya. Salah satu warga yang menekuni usaha ternak unggas jenis bebek pedaging diantaranya Wagimin (50) yang menekuni usaha peternakan bebek di lahan yang dimilikinya.

Wagimin mengaku keputusan untuk beternak bebek pedaging bermula saat berkunjung ke salah satu kerabatnya yang berada di daerah Solo Jawa Tengah. Ia mengaku banyak belajar tentang cara budidaya bebek pedaging dari kerabatnya mulai dari penyediaan bibit, penyediaan tempat, estimasi biaya operasional, pangsa pasar serta keuntungan budidaya unggas tersebut.
“Saya tidak mendapat pelatihan secara khusus hanya belajar dari kerabat yang lebih dahulu memiliki usaha peternakan bebek dan sudah cukup berhasil dengan beberapa kali pengiriman ke sejumlah wilayah di Jawa Tengah,”ungkap Wagimin mengenang awal mula memulai peternakan bebek yang dikelolanya kepada Cendana News, Selasa (9/2/2016)
Potensi wilayah Kecamatan Ketapang dengan sumber pasokan pakan hasil pertanian dan kelautan membuat Wagimin akhirnya mantap memulai usaha peternakan bebek di lahan yang dimilikinya. Bermodalkan tempat seluas 750 meter dan penyediaan bibit awalnya sekitar 1000 ekor lebih dengan modal membeli bibit lebih dari Rp20 juta dan biaya operasional ia mulai menekuni budidaya ternak bebek pedaging.

Usaha ternak bebek pedaging tersebut yang dimulai dengan budidaya sebanyak 1000 ekor lebih tersebut akhirnya mulai memperlihatkan hasil dengan adanya konsumen dari Jakarta yang menampung bebek hasil ternaknya. Beberapa kali pemeliharaan dengan rata rata usia bebek umur 55 hari membuat Wagimin tidak putus asa untuk terus melanjutkan usaha tersebut.
“Sekali panen sudah terlihat hasilnya lumayan dan belum ada pesaing di sini sehingga selanjutnya saya menambah lagi budidaya bebek dengan melakukan penambahan kandang dan melakukan pemagaran serta menambah jumlah bebek yang diternak,”ungkap Wagimin.
Hingga awal tahun ini ia mengaku sedang membedarkan sekitar 1.200 ekor bebek berumur 3 hari yang sudah divaksin dengan harga Rp9 ribu per-ekor. Bibit tersebut didatangkan dari daerah Tegal dan kadang dari Brebes Jawa Tengah. Ia mengaku bebek pedaging yang dibesarkan olehnya banyak diminati oleh konsumen beberapa usaha kuliner di Jakarta dan sekitarnya.

Sebagai upaya pengembangan ia mulai memperluas kandang bebek dengan standar ukuran kandang sebesar 1 meter persegi yang diisi bebek pedaging sebanyak 6 ekor dan menempati area seluas 4×6 meter di setiap petak.
Wagimin mengaku saat ini memilih budidaya bebek pedaging lokal meski ada bebek hibrida dan peking. Pilihan bebek lokal karena harga bibit saat ini per ekor seharga Rp9ribu. Bibit tersebut dibesarkan olehnya dengan umur sekitar 50-55 hari dan meski memelihara ribuan ekor bebek saat penyortiran terkadang sebanyak 5 persen bebek yang dipeliharanya tidak masuk ukuran konsumsi dan sebagian mati.
Meski demikian ia mengaku tidak kapok dan bahkan bebek ternak miliknya bisa dijualdengan harga perekor mencapai Rp 30ribu selama 50 hari dengan ukuran 1,5 kilogram per ekor.
“Budidaya bebek memerlukan ketekunan dan saya melihat peluang banyaknya sumber pakan dari penggilingan padi di wilayah ini yang melimpah”terang Wagimin.

Ia mengaku saat ini ia menyiapkan pakan bebek pedaging dengan membeli dedak dari penggilingan padi seharga Rp2,500 perkilogram dan ikan giling dengan harga Rp3,000 perkilogram. Pembelian pakan dalam bentuk jagung yang digiling, dedak padi, gilingan ikan dalam satu bulan menghabiskan sebanyak 2 ton dedak (bekatul) diberi campuran tepung ikan selain itu campuran jagung serta pur tambahan sebanyak 4 kuintal.
Usaha yang didampingi sang istri bernama Sri Lestari tersebut saat ini sudah mulai menggandeng beberapa peternak lain di Kecamatan Ketapang sebagai peternak binaan. Sementara untuk konsumen saat ini peternak binaan dikelola olehnya dalam hal mencari pangsa pasar.
“Kita berikan pembinaan dan konsumen yang dipastikan mengambil bebek hasil ternak di sekitar Ketapang sehingga ada kejelasan pemasaran,”ujar Wagimin.
Peluang pemasaran daging bebek pedaging yang banyak diminati untuk konsumsi rumah tangga dan rumah makan serta warung kuliner bebek goreng membuat peluang ternak bebek masih menjanjikan. Dibantu sebanyak dua karyawan ia terus membesarkan ternak bebek miliknya yang dalam dua pekan ke depan akan dipanen.
“Usaha ini butuh ketekunan termasuk keberanian untuk gagal karena modalnya tidak sedikit dan harus siap dengan segala resiko”ungkapnya.
Ia mengaku dengan modal biaya operasional 22juta dalam masa pembesaran ia mampu menghasilkan keuntungan bersih sekitar 8 juta lebih. Selain bisa membantu ekonomi keluarga dari beternak bebek pedaging ia mengaku bisa menyekolahkan kedua anaknya hingga jenjang perguruan tinggi sementara dua anaknya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Dasar(SD).
Selain melihat pangsa pasar bebek pedaging yang masih tinggi ia mengaku pemberdayaan petani peternak yang berada di wilayah Ketapang sangat perlu ditingkatkan dengan potensi lahan pertanian yang masih luas sebagai penopang usaha peternakan.
“Saya mengajak beberapa petani lain untuk beternak karena usia budidaya ternak bebek hitungannya minggu dan tidak terlalu sulit perawatannya namun omzetnya lumayan”ungkapnya.
Ia bahkan mengaku petani di wilayah Ketapang banyak yang berminat terutama pemilik lahan yang luas dan memiliki sumber pakan untuk bebek pedaging. Pemberdayaan kepada petani dilakukan untuk memberikan tambahan penghasilan dan peningkatan ekonomi keluarga.