SABTU, 20 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Rustam / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Rustam
KENDARI — 30 tahun (tiga dekade) hidup di hutan belantara, warga Kelurahan Abeli Dalam, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari, Provinsi Sultra. Memanfaatkan lahan yang subur untuk berkebun jangka panjang, seperti kelapa, durian, rambutan dan langsat.
![]() |
| Jalur ring road |
Untuk dapat menjangkau lokasi yang sudah didiami masyarakat sejak 1980-an, hanya bisa menggunakan kendaraan roda dua dengan pengemudi yang ahli di jalan tanah. Karena untuk sampai ke kelurahan yang berjarak 18 KM dari Pusat Kota hanya menggunakan jalan setapak yang akan licin saat hujan.
Daerah Kendari yang berbatasan dengan kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), pada 2006 lalu, masa pemerintahan Walikota Masyhur Masie, direncanakan membuat akses jalan yang refresentatif. Namun impian masyarakat baru terealisasi pada tahun 2013 dengan dijadikannya Kelurahan Abeli Dalam sebagai jalur ring road. Jalan ini dibuat tepat dari gapura batas Kota Kendari di Kecamatan Puuwatu hingga tembus Kecamatan Baruga. Jarak jalur ring road dibuat sekitar 8 Km.
Hingga saat ini, kondisi jalan sudah masuk tahap pengerasan, dan akan diaspal pada tahun ini. Hal tersebut disambut baik 240 Kepala Keluarga Abeli Dalam. Semua merasa sangat bersyukur dengan adanya terobosan Kota Kendari.
“Sejak Pemerintah Kota Kendari membangun akses jalan di Kelurahan Abeli Dalam. Sudah ada gairah hidup masyarakat bila dibandingkan beberapa tahun sebelumnya,” ungkap Eko Raharjo, Kepala Lurah Abeli Dalam saat ditemui jurnalis Cendana News.
Manfaat yang dirasakan sekitar 500 jiwa setelah jalan terbentuk, sarana listrik sudah masuk dan akses komunikasi sudah baik.
“Saat ini sudah 60 persen kepala keluarga menikmati listrik. Ya tinggal 40 persen saja yang belum. Itupun mungkin tahun ini sudah dilayani PLN,” ujar lurah yang berasal dari Jawa Timur ini.
![]() |
| Lurah Abeli Dalam, Eko Raharjo |
Manfaat lain yang paling dirasakan masyarakat adalah hasil tanaman perkebunan sudah mudah dipasarkan. Seperti buah rambutan, durian dan kelapa, petani Abeli Dalam tidak perlu lagi memikulnya untuk pergi ke pasar.
Para pembeli yang masuk sendiri ke Abeli Dalam membeli hasil perkebunan masyarakat. Hargan jualnya pun sudah naik, dibandingkan sebelum ada akses jalan yang memadai.
Sementara itu, akses ring road ini memperpendek jarak tempuh masyarakat Konawe, Konawe Utara (Konut) dan sebagian masyarakat Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), bila hendak bepergian ke Bandar Udara Haluoleo.
Bila harus melingkar melalui jalan dalam Kota Kendari, lalu menuju Bandara Haluoleo, diperkirakan jarak yang harus ditempuh sekitar 65 Km. Namun bila melewati jalur ring road, jarak ke bandara hanya sekitar 32 Km.
