JUMAT, 05 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Aceng Mukaram / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Aceng Mukaram
PONTIANAK — Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Yunus Subagyo Swarinoto, menyampaikan, bahwa dari 342 Zona Musim (ZOM), 89,8 persen telah memasuki musim hujan pada Januari 2016. Menurutnya, keterlambatan yang terjadi disebabkan oleh pengaruh EL Nino yang masih cukup kuat terutama di wilayah Bagian Tengah dan Timur Indonesia.
| Seorang petugas BMKG Supadio Pontianak, menunjukan data terkini kondisi cuaca |
“Dampak signifikan kenaikan curah hujan dimulai pada periode Juli, Agustus dan September,” ujarnya, di Pontianak, Jumat (05/02/2016).
Ia menjelaskan, jika terjadi kemarau yang basah berpotensi ancaman bagi petani tembakau, bawang, dan petambak garam, serta meningkatnya pertumbuhan penyakit organisme tanaman. Pertimbangan untuk lahan gambut juga perlu diperhitungkan secara matang.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak, citra radar cuaca pada pukul 06.00 WIB menunjukkan belum adanya awan penghujan di wilayah Kalbar.
Citra Satelit Cuaca Infra Red Enhanced pada pukul 06.30 WIB di Sekitar wilayah Kalbar menunjukkan umumnya belum adanya awan konvektif. Suhu puncak awan yang telah terbentuk berkisar -21 s/d -7 oC. Namun disekitar wilayah Kabupaten Kubu raya,Kabupaten Kayong Utara terdapat awan konvektif dengan suhu puncak awan berkisar -56 oC.
Citra Satelit Cuaca Cloud Type di Sekitar wilayah Kalbar pada pukul 06.30 WIB menunjukkan di wilayah Kalbar secara umum awan yang terbentuk adalah awan jenis rendah, menengah dan tinggi (warna hijau s/d biru).
Analisa prakiraan angin di sekitar wilayah Kalbar Tanggal 05 Pebruari 2016 masih terdapat sirkulasi Eddy (E) disekitar wilayah Kalbar menyebabkan potensi hujan sedang – lebat di wilayah Kalbar. Angin di Kalbar pada ketinggian 3.000 Feet secara umum bertiup dari arah Barat – Timur Laut dengan kecepatan 10 – 20 knot (20 – 40 km/jam).