SELASA, 16 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Charolin Pebrianti
SURABAYA — Peneliti Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof. Dr. C. A. Nidom menilai fasilitas kesehatan di Indonesia belum merata, terutama didaerah kepulauan seperti Maluku. Daerah yang memiliki 12 ribu pulau membutuhkan perhatian lebih dalam hal penanganan kesehatan yang cepat dan tepat.
![]() |
| Peneliti Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof. Dr. C. A. Nidom |
“Pergerakan untuk pemerataan petugas kesehatan memang sudah dilakukan secara bertahap oleh pemerintah. Namun untuk fasilitas kesehatan seperti obat, Puskesmas maupun rumah sakit masih sangat minim di daerah luar pulau Jawa,”sebutnya di Surabaya, Selasa (16/2/2016).
Disebutkan, dirinya bersama timnya sudah melakukan ekspedisi ke Maluku sejak akhir 2015 dengan harapan bisa membantu masalah kesehatan di Maluku. Ditemukan beberapa kendala, diantaranya sarana yang hanya bisa ditempuh melalui laut dan udara, hingga perbedaan gen. Dalam pengobatan, dosis obat untuk warga Maluku berbeda dengan masyarakat Jawa,
Selain itu, Prof. Nidom juga menyayangkan proyek pembuatan pesawat terbang Prof Habibie dibatalkan. Padahal proyek tersebut dapat menjembatani dan mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat yang hidup dikepulauan.
“Seharusnya dengan pesawat itu jauh lebih mudah dan cepat, saya tidak tahu masalah apa yang melatarbelakangi hal ini. Seolah-olah masalah kesehatan pun menjadi perpolitikan sistem kesehatan di Indonesia,” pungkasnya.
Dia mengharapkan pemerintah lebih memberikan perhatian terhadap masyarakat yang berada di luar Pulau Jawa, sehingga permasalahan pelayanan kesehatan lebih maksimal.