Pasokan Berkurang Pengusaha Teri Datangkan dari Wilayah Lain

JUMAT, 12 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : Gani Khair / Sumber foto : Henk Widi

LAMPUNG—Kurangnya pasokan bahan baku pembuatan teri di wilayah Kecamatan Ketapang Lampung Selatan dari nelayan bagan congkel mengakibatkan pengusaha pengolahan teri mendatangkan ikan teri dari wilayah lain. Salah satu pengusaha pengolah ikan teri Ibrohim di Kecamatan Ketapang pemilik usaha UD. Hasil Laut yang sudah menekuni usaha pengolah teri selama beberapa tahun mengaku mendatangkan ikan teri dari wilayah Kabupaten Lampung Timur.

Ibrohim mengaku saat ini kondisi cuaca di perairan pantai Timur Lampung masih terkendala angin kencang sehingga beberapa nelayan congkel mengurangi aktifitas di laut. Saat kondisi sedang baik Ibrohim mengaku memperoleh pasokan ikan dari nelayan setempat dengan sistem pembelian langsung. Ia mengungkapkan penurunan nelayan lokal saat ini mencapai sekitar 25 persen.

“Jika hasil tangkapan sedang bagus biasanya pemilik bagan congkel akan langsung mendarat di dermaga Ketapang sementara saat hasil tangkapan sedikit kami mengambil di paret lima,”ungkap Ibrohim saat ditemui di tempat pengolahan ikan teri di Kecamatan Ketapang,Jumat (12/2/2016)

Ibrohim sebagai salah satu bos ikan teri mengaku membeli ikan dengan sistem keranjang dengan harga satu satu keranjang Rp190.000,- saat musim tangkapan banyak sementara saat musim tangkapan berkurang satu keranjang teri basah dengan berat sekitar 18 kilogram dibeli dengan harga  Rp210.000,-

Setelah dibeli ikan teri tersebut kemudian direbus sekitar 15 menit menggunakan air mendidih yang dimasak menggunakan kayu bakar. Mempekerjakan sekitar 15 orang pekerja mulai dari proses perebusan,penjemuran dan pengepakan di dalam kardus sebelum dikirim ke konsumen.

“Sebagian pekerja warga sekitar Ketapang yang saat tidak memiliki kesibukan ikut bekerja dengan sistem tenaga lepas harian dan kami tanggung makan,”ungkap Ibrohim.

Ia mengungkapkan para pekerja mendapat upah beragam mulai dari tukang rebus yang dibayar Rp60ribu perhari sementara pekerja lain untuk bagian penjemuran Rp50ribu perhari. Ia mengungkapkan pekerja dipersilakan mengambil gaji harian atau menunggu akumulasi saat akhir pekan atau akhir bulan.

Usaha yang dibantu oleh sang istri bernama Yunita selaku bagian keuangan mulai dari proses pembelian bahan,menggaji karyawan serta proses penjualan Ibrohim menekuni usaha pengolahan teri sebagai potensi di wilayah masyarakat yang sebagian besar sebagai nelayan.

Salah satu pekerja Asmuni(35), warga Desa Tamansari yang bekerja di pengolahan teri mengaku sudah bekerja di pengolahan ikan teri yang dikelola Ibrahim sejak lima tahun lalu. Sulitnya memperoleh pekerjaan membuat ia memutuskan menjadi pekerja pengolah teri. Ia mengaku hasil lumayan dibandingkan bekerja lain membuat ia masih bertahan hingga sekarang.

“Sudah nyaman bekerja di sini dan hasilnya lumayan dibanding kerja buruh harian dan makan pun kami terjamin”ungkap Asmuni.

Sebagai pekerja Ia mengungkapkan saat ini proses penjemuran tergantung cuaca, jika dalam cuaca musim penghujan kendala pengeringan yang lambat seringkali mengakibatkan kerugian bagi pengusaha teri seperti dirinya.

“Kendala cuaca saat penjemuran masih menjadi tantangan bagi kami karena penjemuran masih menggunakan sistem tradisional menggunakan tenaga matahari,”terangnya.

Paska penjemuran dan pengepakan dalam kardus kardus sang istri Ibrohim, Yunita mulai melakukan proses penghitungan dan bersiap melakukan proses pengiriman. Yunita mengungkapkan teri kering yang dijualnya saat ini dibungkus dalam kardus kardus dengan ukuran 9 kilogram dan ukuran 10kilogram.

Jenis ikan teri biasa menurut Yunita saat ini seharga Rp45ribu sementara jenis ikan teri nasi Rp80ribu. Proses pengiriman yang dilakukannya pun saat hasil pengeringan cukup banyak pengiriman menggunakan kendaraan miliknya dengan pengiriman maksimal hingga 1 ton ikan teri kering sementara jika kondisi sedang sepi bisa mencapai hanya sekitar beberapa kuintal dan dikirimkan dengan jasa ekspedisi.

Selama ini pengiriman ikan teri basah yang dilakukan beberapa pengusaha teri termasuk Ibrohim diakui dikirim ke daerah Muara Baru Jakarta Utara sementara pengiriman teri kering  ke Kapuk dan Kalibaru dan Sukabumi Jawa Barat. Sementara untuk wilayah lokal dikirim ke wilayah Bandarlampung dan sekitarnya.

Usaha yang ditekuni oleh Ibrohim dan keluarganya hingga saat ini memberdayakan sekitar puluhan tenaga kerja. Ia bahkan mengaku beberapa tempat pengolahan ikan teri di wilayah Ketapang masih merupakan keluarga besar yang rata rata berasal dari wilayah Palopo Sulawesi. Omzet yang cukup besar dengan rata rata pengiriman 1 ton teri kering mencapai Rp35juta tersebut terbukti mampu menjadi sumber mata pencaharian bagi warga di sekitar pesisir pantai Timur Lampung.

Lihat juga...