Nelayan di Balikpapan Minta Pemerintah Bantu Fasilitas Penunjang Melaut

SELASA, 9 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Ferry Cahyanti/ Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Ferry Cahyanti

BALIKPAPAN — Nelayan tradisional di kawasan Balikpapan Timur, Kalimantan Timur membutuhkan uluran tangan dari Pemerintah Pusat agar dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Yang dibutuhkan antara lain alat tangkap ikan modern.
Hasanuddin bersama teman nelayan lainnya di Manggar kawasan Balikpapan Timur

Salah seorang nelayan, Hasanuddin menyebutkan, sebelumnya pemerintah kota Balikpapan sudah memberikan bantuan alat mesin berlayar. Untuk lebih maksimal juga harus didukung dengan alat tangkapnya.

“Alat tangkap juga perlu yang modern. Sekarang masih tradisional menggunakan jaring, meski ada satu fasilitas bagan yang modern tapi itu punya punggawa.  Kalo di Jawa saya dengar nelayannya alat tangkap sudah modern,” ungkapnya, Selasa (9/2/2016).
Hasanuddin mengaku penghasilannya setiap hari dari menangkap ikan sekitar Rp.200-500 ribu perhari. 
“Uang yang diperoleh cukup buat makan. Kalo nabung belum yang penting bisa makan dan mencukupi kebutuhan keluarga,” ujarnya disela aktivitasnya.
Selain alat tangkap ikan, nelayan juga mengeluhkan sulitnya memperoleh bahan bakar minyak (BBM), meski Stasiun Bahan Bakar Nelayan (SPBN) sudah ada dikawasan tersebut.
“BBM untuk nelayan perlu ditambah. Karena sekali berlayar saja untuk satu kapal kecil perlu 50 liter solar setiap harinya. Belum lagi kapal besar seperti bagan,” imbuh pria yang sudah melaut sejak 1980.

Di kesempatan yang berbeda, Kepala Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan (DPKP) kota Balikpapan Yosmianto mengaku setiap tahun pemkot selalu mengalokasi bantuan kepada nelayan. Hanya saja bentuk bantuannya setiap berbeda seperti alat pendingin untuk tempat ikan. Mesin untuk kapal dan nelayan yang diberikan bantuan juga bergantian.

“Tahun ini ada juga, namun masih difinalkan lagi,” sambungnya.
Sementara untuk kesulitan BBM yang dikeluhkan nelayan pihaknya mengakui saat ini ada dua SPBN yang beroperasi. Sebelumnya ada tiga SPBN, namun yang satu masih dalam perpanjangan izin sehingga stop beroperasi.
“Meski satu SPBN tidak beroperasi quotanya tetap untuk tiga SPBN karena dialihkan kedua SPBN tersebut,” tutupnya.
Lihat juga...