SABTU, 13 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Masyarakat di sekitar kaki dan lereng Gunung Rajabasa mendapat kemudahan dalam mendistribusikan hasil perkebunan dan pertanian. Akses jalan yang sebelumnya sulit, sekarang bisa dilalui beberapa kendaraan untuk membawa hasil kebun seperti cengkih, pala, kelapa, kakao, serta tanaman buah, durian, alpukat, pisang, nangka dan tanaman lain.
![]() |
| Jalan beton dimanfaatkan masyarakat untuk mengangkut hasil kebun |
Salah satu warga Desa Babulang Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung, Somad (35) mengaku, jalan beton yang dibangun di beberapa titik tersebut saling terhubung dari Kecamatan Kalianda hingga Kecamatan Penengahan yang ada di kaki Gunung Rajabasa. Keberadaan jalan yang meski hanya selebar 1 meter tersebut telah membantu peningkatan perekonomian masyarakat.
“Sebelumnya kami harus berjalan kaki untuk mengangkut hasil perkebunan,”ungkap Somad kepada Cendana News, Sabtu (13/2/2016).
Jalan setapak tersebut menghubungkan akses ke jalan desa yang sudah beraspal diantaranya ke Desa Padan, Desa Rawi di Kecamatan Penengahan dan Desa Babulang, Desa Sukaratu di Kecamatan Kalianda. Penyediaan akses jalan tersebut merupakan salah satu wujud pemerintah dalam menjaga kearifan lokal masyarakat sekitar Gunung Rajabasa.
Selain karena mayoritas masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai pekebun, beberapa situs sejarah diantaranya makam Khatu Menangsi, benteng Merambung dan juga danau di atas sebagai situs perjuangan Raden Intan.
“Adanya akses jalan yang bagus ini juga memudahkan warga untuk melakukan aktifitas ziarah,”ungkapnya.
Permintaan masyarakat yang dipenuhi untuk peningkatan perekonomian warga dari hasil perkebunan tersebut merupakan salah satu cara meredam aktifitas perambahan hutan di kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa.
Anggota Pamswakarsa Kesatuan Penjaga Hutan Lindung (KPHL), Aminudin ymenyebutkan, sejak tahun 2011 dibentuk tim KPHL yang bertugas melindungi kawasan hutan di Gunung Rajabasa. Masyarakat sekitar kawasan hutan Gunung Rajabasa diberi pengertian bahwa kepedulian Kementerian Kehutanan dalam memberikan akses jalan harus dihargai sebagai bentuk perhatian terhadap kearifan lokal yang juga harus diimbangi dengan menjaga lingkungan hutan.
“Jalan beton terbuat dari semen sepanjang lebih dari 60 kilometer dengan lebar satu meter nyaris mengelilingi kawasan hutan lindung memudahkan petugas melakukan patroli untuk pengawasan kawasan Rajabasa menggunakan kendaraan bermotor,”ungkap Aminudin.
Minimnya masyarakat yang berniat untuk merambah hutan menurut Aminudin salah satu faktor utamanya adalah kesibukan warga mengurus kebun masing masing. Warga bahkan sudah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengolah kebun serta mengambil hasil dari perkebunan mereka. Bahkan warga menanam beberapa pohon cepat panen diantaranya Jabon, sengon dan beberapa pohon kayu produksi lainnya.

Selain digunakan sebagai akses warga untuk mengangkut hasil perkebunan jalan setapak yang sangat panjang tersebut kerap digunakan sebagai sarana rekreasi dan olahraga. Beberapa pecinta motor trail menggunakan akses jalan tersebut untuk melakukan penjelajahan di kawasan hutan lindung yang masih asri. Para pecinta alam bahkan menggunakan trek tersebut untuk Lomba Lintas Alam Gunung Rajabasa.
Potensi perkebunan di luar kawasan hutan lindung yang dimanfaatkan oleh warga juga memiliki potensi wisata air panas di Simpur, Air Terjun Way Kalam di Penengahan yang tersambung dengan akses jalan setapak yang dibangun oleh Kementerian Kehutanan.